Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) buka suara ihwal kelangkaan stok susu UHT di gerai ritel yang ramai diperbincangkan di media sosial X terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Berdasarkan penelusuran Bisnis, stok susu UHT di sejumlah gerai ritel modern masih tersedia. Meski demikian, sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) diketahui memborong susu UHT dalam jumlah cukup besar, terutama pada malam hari.
Ketua Umum Aprindo 2024–2028 Solihin menjelaskan bahwa anggota Aprindo merupakan pedagang ritel, bukan produsen susu. Oleh karena itu, pola penjualan dilakukan secara eceran kepada konsumen akhir, bukan dalam volume partai besar.
“Kami bukan produsen. Kalau kita order, produsen nggak ngirim barang, kita juga nggak bisa berbuat apa. Kan nggak mungkin kita bikin susu,” kata Solihin saat dihubungi Bisnis, Kamis (8/1/2026).
Solihin menuturkan, apabila terjadi kekosongan stok di gerai ritel, hal tersebut berkaitan dengan kemampuan produsen dalam memenuhi pesanan. Dia menjelaskan, peritel hanya dapat memantau tingkat service level, yakni seberapa banyak pesanan yang terpenuhi oleh produsen.
Namun, Solihin menyampaikan Aprindo akan meninjau service level atau seberapa besar pesanan yang terpenuhi dari order yang dibuat, karena peritel bukan produsen dan hanya menjual barang sesuai ketersediaan pasokan.
“Yang bisa kami cek itu berapa service level-nya. Data itu sekarang sedang kami mintakan ke tim merchandising,” ujarnya.
Di sisi lain, Solihin menyatakan peritel tetap melayani permintaan dari SPPG selama stok tersedia di toko. Namun, transaksi tersebut tetap dikenakan harga eceran tertinggi (HET).
“Selama barangnya ada, kami jual. Kami anggap itu menjadi bagian yang memang kita dagangkan, tapi secara ritel Harganya harga eceran tertinggi artinya disebut RBP, retail buying price,” jelasnya.
Solihin menambahkan, peningkatan aktivitas dapur SPPG berpotensi menaikkan permintaan secara bersamaan. Meski demikian, Aprindo menegaskan, ritel tetap tidak melayani pembelian dalam skala besar.
“Kami menjual barang yang ada stok saja di toko. Yang memang dikhususkan untuk pemakai langsung atau pengguna langsung,” terangnya.
Sebelumnya, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menyatakan stok susu UHT di ritel modern masih tersedia meski SPPG memborong produk tersebut. Dia menilai para SPPG yang membeli susu UHT kemasan di gerai ritel justru memberikan efek berganda.
“Ya benar kan ada stok [susu UHT di ritel], ya nggak langka? Kalau malam dibeli [SPPG] kan senang dong tokonya jadi laku, kalau laku pabriknya nambah volume, berarti tenaga kerjanya tambah,” kata Nanik kepada Bisnis, Kamis (8/1/2026).
Nanik menyatakan susu UHT saat ini menjadi salah satu komponen dalam program MBG. Kendati demikian, dia menyatakan BGN lebih mengutamakan penggunaan susu segar. Namun, keterbatasan distribusi dan risiko keamanan pangan membuat susu segar belum bisa digunakan secara luas.
Di samping distribusi, Nanik menuturkan keterbatasan produksi susu segar dalam negeri juga menjadi faktor utama. Dia menjelaskan, tidak semua wilayah memiliki peternakan sapi perah. Di sisi lain, distribusi dari daerah sentra produksi membutuhkan infrastruktur logistik yang belum merata.
Menurut Nanik, saat ini produksi susu segar nasional baru mencapai sekitar 1 juta liter per tahun. Jika dikemas, jumlah tersebut setara dengan sekitar 8 juta kemasan. Angka itu jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan MBG secara nasional.
“Kalau dibagi per SPPG dapatnya 2.700 SPP itu hanya satu kali. Kita sekarang 19.188 SPP, berarti kan ada 17.000 SPPG yang tidak bisa terpenuhi, itu pun dengan asumsi sekali diberi dalam setahun,” pungkasnya.