Bisnis.com, JAKARTA - Pasar mobil listrik bekas di Indonesia mulai menunjukkan pola yang semakin jelas dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu indikatornya terlihat dari pergerakan harga Hyundai Ioniq 5, yang kini mengalami penurunan signifikan di pasar sekunder.
Mobil yang saat peluncuran berada di kisaran Rp800 juta hingga Rp900 jutaan itu, saat ini sudah banyak ditawarkan di kisaran Rp300 jutaan hingga Rp400 jutaan. Berdasarkan penelusuran di berbagai listing hyundai ioniq 5, unit tahun produksi 2022-2023 kini umumnya berada di rentang Rp350 juta hingga Rp450 jutaan, tergantung kondisi dan varian.
Penurunan ini mencerminkan karakter pasar kendaraan listrik yang berbeda dibanding mobil konvensional.
Hal ini juga diamini oleh pelaku bisnis jual beli mobil bekas. Direktur OLXmobbi Agung Iskandar menilai, depresiasi mobil listrik cenderung lebih besar di fase awal kepemilikan. Dalam kurun waktu sekitar tiga tahun, penurunan harga bisa mencapai sekitar 50 persen.
Ia mencontohkan Hyundai Ioniq 5 sebagai salah satu model yang mengalami koreksi harga cukup tajam. Unit tahun 2022 saat ini banyak berada di kisaran Rp350 juta hingga Rp450 juta, sementara harga barunya masih berada di sekitar Rp800 jutaan.
Struktur Varian dan Pengaruhnya terhadap Harga Bekas
Sejak awal, Hyundai Ioniq 5 dipasarkan dalam beberapa varian, yakni Prime dan Signature, masing-masing dengan pilihan Standard Range (SR) dan Long Range (LR).
Varian Prime Standard Range menjadi entry level dengan kapasitas baterai sekitar 58 kWh. Di atasnya, Prime Long Range dan Signature Long Range menggunakan baterai lebih besar sekitar 72,6 kWh, dengan fitur yang lebih lengkap terutama pada trim Signature.
Di pasar bekas, struktur ini masih memengaruhi harga, meskipun selisih antar varian mulai menyempit.
Unit Prime SR dan Prime LR saat ini bisa ditemukan mulai dari Rp270 juta hingga Rp320 jutaan. Namun, unit di bawah Rp300 juta umumnya merupakan kendaraan operasional dengan kilometer tinggi.
Sementara itu, varian Signature SR hingga Signature Long Range banyak dipasarkan di kisaran Rp320 juta hingga Rp500 jutaan. Unit dengan usia lebih muda dan kilometer rendah cenderung bertahan di rentang atas.
Depresiasi Cepat, Tapi Nilai Produk Masih Relevan
Penurunan harga yang signifikan tidak serta-merta mencerminkan penurunan kualitas produk.
Secara desain dan teknologi, Ioniq 5 masih tergolong kompetitif. Platform E-GMP yang digunakan menawarkan keunggulan seperti pengisian cepat berbasis 800V, serta jarak tempuh lebih dari 400 kilometer untuk varian Long Range dalam kondisi ideal.
Dari sisi kenyamanan, kabin luas dengan lantai datar menjadi nilai tambah, terutama untuk penggunaan keluarga dan mobilitas perkotaan.
Dalam penggunaan harian, karakter berkendara yang halus dan minim getaran masih menjadi keunggulan utama dibanding kendaraan berbasis mesin pembakaran internal.
Tantangan pada Penggunaan dan Infrastruktur
Namun, penggunaan kendaraan listrik masih memiliki tantangan tersendiri.
Dalam pemakaian luar kota, efisiensi baterai sangat bergantung pada kecepatan dan gaya berkendara. Konsumsi energi dapat meningkat signifikan pada kecepatan tinggi, sehingga membutuhkan perencanaan pengisian daya yang lebih matang.
Selain itu, ketersediaan infrastruktur charging di Indonesia belum sepenuhnya merata. Faktor ini menjadi pertimbangan penting bagi calon pembeli kendaraan listrik bekas.
Dari sisi teknis, beberapa isu global seperti sistem pengisian (ICCU) juga sempat menjadi perhatian, meskipun telah ditangani melalui pembaruan dan recall oleh pabrikan.
Perubahan Value Proposition di Pasar Sekunder
Dengan harga yang kini berada di bawah Rp500 juta, Ioniq 5 bekas mulai masuk ke segmen yang sebelumnya didominasi oleh SUV bermesin bensin atau hybrid.
Perubahan ini menciptakan value proposition baru. Konsumen dengan anggaran menengah kini memiliki akses terhadap kendaraan listrik dengan teknologi yang relatif masih modern.
Namun demikian, depresiasi yang cepat juga menjadi catatan tersendiri, terutama bagi konsumen yang mempertimbangkan nilai jual kembali dalam jangka pendek.
Kesimpulan
Penurunan harga Hyundai Ioniq 5 bekas mencerminkan dinamika baru di pasar kendaraan listrik, di mana depresiasi cenderung lebih cepat dibanding mobil konvensional.
Dengan kisaran harga Rp300 juta hingga Rp500 juta, model ini kini berada di posisi yang lebih terjangkau, sekaligus membuka peluang bagi konsumen baru untuk masuk ke segmen kendaraan listrik.
Namun, keputusan pembelian tetap perlu mempertimbangkan kesiapan infrastruktur, pola penggunaan, serta pemahaman terhadap karakter kendaraan listrik secara keseluruhan.