Bisnis.com, JAKARTA- Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) merilis riset terkait dampak pemanasan global yang dihubungkan dengan tingkat kesejahteraan negara. Ironisnya, pemanasan global lebih mendera negara-negara dengan tingkat kemiskinan parah.
Dikutip dari Bloomberg, Rabu (22/10/2025), negara-negara termiskin di dunia akan mengalami pemanasan global lebih cepat daripada negara-negara kaya. Parahnya lagi, peningkatan suhu panas di negara-negara tersebut berlangsung dengan periode yang lebih lama setiap tahunnya.
PBB menemukan bahwa perubahan iklim memperburuk kemiskinan secara global. Negara-negara dengan tingkat kemiskinan tinggi kemungkinan akan mengalami lebih banyak hari-hari dengan suhu tinggi, ketika suhu mencapai lebih dari 95F (35 Celsius), dibandingkan negara-negara dengan tingkat kemiskinan terendah.
Riset itu sendiri digagas Program Pembangunan PBB dan Prakarsa Kemiskinan dan Pembangunan Manusia Oxford.
Para peneliti menemukan bahwa dalam satu skenario emisi tinggi, negara-negara termiskin akan mengalami sekitar 37 hari pemanasan global tambahan daripada yang mereka alami saat ini pada tahun 2059, sementara negara-negara dengan tingkat kemiskinan rendah akan mengalami peningkatan 24 hari lagi.
“Melihat ke masa depan, perubahan iklim kemungkinan akan semakin memperlebar kesenjangan,” kata Pedro Conceição, direktur kantor laporan pembangunan manusia UNDP.
Lebih jauh, dia menilai nasib negara-negara miskin yang sudah rentan kemungkinan besar akan semakin tertinggal.
Studi ini mengkaji data iklim dan survei kemiskinan di 108 negara untuk lebih memahami bagaimana isu-isu tersebut tumpang tindih.
Sekitar 80% dari 1,1 miliar orang di seluruh dunia yang hidup dalam kemiskinan menghadapi kondisi yang lebih sulit karena setidaknya satu dari empat "bahaya iklim" — panas tinggi, kekeringan, banjir, dan polusi udara — yang diuraikan dalam laporan tersebut.
Banyak orang miskin juga menghadapi bahaya iklim yang tumpang tindih, dengan 651 juta orang menghadapi dua atau lebih bahaya dan 309 juta orang menghadapi tiga atau empat bahaya sekaligus, menurut laporan tersebut.
Asia Selatan adalah kawasan yang paling rentan terhadap bahaya iklim yang tumpang tindih, dengan 99% penduduknya tinggal di wilayah yang terdampak oleh setidaknya satu bahaya.
"Jalinan risiko iklim dan kemiskinan kemungkinan akan semakin intensif di masa mendatang," tulis para penulis laporan tersebut.