Bisnis.com, SEMARANG — Cuaca buruk yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Jawa Tengah telah menyebabkan turunnya tangkapan ikan laut hingga 50%, sehingga harga ikan di pedagang menjadi lebih mahal.
Salah satu pedagang di Pasar Rejomulyo, Alam, menuturkan bahwa pasokan ikan saat ini tidak berjalan lancar akibat cuaca ekstrem. Penurunan pasokan ikan di lapak dagangannya terjadi cukup signifikan dibandingkan kondisi normal.
“Untuk sekarang, pasokannya gak lancar dan berkurang banget, kalau dihitung bisa sekitar 40%-50%,” tutur Alam, saat ditemui di lapak dagangannya, dikutip Selasa (27/1/2026)
Lebih lanjut, Alam menyebutkan bahwa kurangnya pasokan ikan turut memengaruhi harga jual ikan di lapaknya. Komoditas ikan laut menjadi jenis ikan yang paling terdampak dan penurunan pasokan ikan laut terjadi hampir merata.
“Ngaruh banget ke harga. Kalau pasokannya lagi berkurang, harganya bisa naik sampai 30%. Kalo jenis ikan yang paling kurang itu ikan laut seperti kembung, tongkol, selar dan lain-lain itu semuanya kena,” katanya
Sejalan dengan pernyataan Alam, pedagang ikan lainnya di Pasar Rejomulyo Ilham juga menjelaskan bahwa pasokan ikan di lapaknya berkurang lebih dari separuh akibat cuaca buruk dan banjir yang terjadi di sejumlah wilayah pemasok.
“Pasokannya berkurang banyak, kalo dihitung itu sampai 50% bahkan lebih. Yang paling terasa di lapak saya itu pasokan cumi dan ikan–ikan laut,” jelas Ilham saat ditemuk di lapak dagangannya.
Ilham juga menyebutkan bahwa penurunan pasokan ikan dan cumi di lapak dagangannya juga berdampak langsung pada harga jual yang melambung cukup tinggi. “Kalau cumi itu harga normal biasanya sekitar Rp50.000 per kg, sekarang bisa sampai Rp70.000-80.000 per kg. Buat yang ikan itu biasanya dijual Rp20.000 sekarang bisa Rp28.000,” tuturnya.
Di sisi lain, berdasarkan kondisi nelayan, Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Jawa Tengah, Slamet Ari Nugroho, mengatakan bahwa cuaca buruk berdampak luas terhadap produktivitas nelayan tradisional di wilayah pesisir. “Hampir semua daerah terdampak karena ini angin barat ya. Jadi wilayah utara Jawa Tengah hampir semuanya kena dan produktivitas nelayan menurun,” jelas Slamet, Selasa (27/1/2026).
Slamet juga menjelaskan bahwa sebagian besar nelayan tradisional terpaksa mengurangi bahkan menghentikan aktivitas melaut karena kondisi laut yang masih tidak aman. “Kebanyakan nelayan itu melaut harian, kalau cuaca sedang buruk mereka langsung pulang dan tidak mendapatkan hasil tangkapan. Tapi untuk kapal-kapal yang beroperasi di bawah satu mil, mereka tetap akan melaut tapi mengambil tangkapan kerang dara, kerang hijau, dan sebagainya. Sementara itu, untuk sekarang ada juga nelayan yang sudah hampir dua minggu terakhir tidak melaut,” tambahnya.
Tak hanya pedagang ikan di Pasar, Slamet juga menyebut bahwa nelayan-nelayan tradisional juga mengalami penurunan pendapatan yang cukup signifikan akibat dari cuaca ekstrem saat ini. Di tengah penurunan pendapatan, Slamet menuturkan bahwa nelayan-nelayan tetap harus mengeluarkan biaya untuk membeli bahan bakar.
“Nelayan tangkap ini pendapatan atau produktivitas penangkapan mereka berkurang, tapi biaya mereka tetap bertambah untuk pengeluaran bahan bakar. Kalau pendapat nelayan saat ini bisa sampai 70% ya, dan kalau kerugian tuh bisa sangat besar karena yang mereka dapat bukan ikan melainkan sampah,” jelas Slamet
Tak hanya melanda Provinsi Jawa Tengah, cuaca ekstrem juga terus berlangsung di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Akibat dari cuaca ekstrem tersebut, keberlangsungan hidup nelayan kecil di Indonesia semakin terancam.
Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) mencatat sebesar 95% nelayan di lebih dari 350 desa pesisir terdampak cuaca buruk. Selain itu, sebanyak 63% persen nelayan bahkan terpaksa menghentikan aktivitas melaut sementara akibat tingginya risiko keselamatan di laut. (Fadya Jasmin Malihah)