Bisnis.com, JAKARTA — Musim hujan terjadi di negara-negara beriklim tropis dan subtropis, sehingga wilayah tersebut lebih sering mengalami curah hujan tinggi sepanjang tahun.
Curah hujan yang ekstrem di beberapa negara dipengaruhi oleh faktor geografis dan iklim yang khas. Letak wilayah yang berada pada jalur angin muson atau memiliki kawasan pegunungan turut meningkatkan intensitas hujan dibandingkan negara lain.
Dilansir dari laman World Meteorological Organization, curah hujan ekstrem telah memicu banjir besar di beberapa kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara. Peristiwa ini menyebabkan ratusan korban jiwa, memaksa banyak penduduk mengungsi, dan menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar.
Asia menjadi wilayah yang sangat rentan terhadap bencana banjir akibat perubahan iklim yang terus berlangsung. Kenaikan suhu global meningkatkan potensi hujan ekstrem karena atmosfer yang lebih hangat mampu menampung uap air dalam jumlah lebih besar.
Dilansir dari laman World Atlas, Berikut 10 Negara dengan curah hujan tertinggi di dunia.
1. Kolombia: 3.240 mm
2. Sao Tome & Principe: 3.200 mm
3. Papua Nugini: 3.142 mm
4. Kepulauan Solomon: 3.028 mm
5. Panama: 2.928 mm
6. Kosta Rika: 2.926 mm
7. Samoa: 2.880 mm
8. Malaysia: 2.875 mm
9. Brunei: 2.772 mm
10. Indonesia: 2.702 mm
Curah Hujan Tinggi di Indonesia
Dilansir dari BMKG, bahwa curah hujan dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi berpotensi terjadi di wilayah selatan Indonesia, mencakup Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, hingga Papua bagian selatan. Kondisi ini menandakan sebagian wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat dan potensi bencana terkait.
Sementara itu, pada periode Februari hingga April 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah dan mulai kembali ke kondisi normal. Namun, selama November hingga Desember 2025, sebagian besar wilayah masih akan mengalami curah hujan di atas normal, terutama di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara.
Faktor global dan regional, seperti fenomena La Niña lemah serta Dipole Mode negatif (-1,61), membuat atmosfer tetap labil dan mendukung pembentukan awan konvektif di sejumlah wilayah.
Kondisi ini meningkatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang, khususnya di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, NTB, dan Sulawesi Selatan.
BMKG juga mendeteksi keberadaan Siklon Tropis Kalmaegi di Samudra Hindia bagian barat daya Lampung serta beberapa sirkulasi siklonik lain yang turut memengaruhi dinamika cuaca nasional.
Dalam sepekan ke depan (3–9 November 2025), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat diprediksi terjadi di pesisir barat Sumatera, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, dan Papua.
BMKG bersama BNPB dan instansi terkait, telah melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di beberapa wilayah rawan untuk meminimalkan dampak cuaca ekstrem, antara lain:
- Jawa Tengah (Posko Semarang & Solo) menggunakan dua armada pesawat, yaitu Cessna dan Grand Caravan, pada periode 25 Oktober – 3 November 2025.
- Jawa Barat (Posko Jakarta) mengoperasikan satu armada pesawat pada periode 23 Oktober – 3 November 2025. (Angel Rinella)