Bisnis.com, BALIKPAPAN — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan memproyeksikan curah hujan pada Desember 2025 mencapai 200—400 milimeter di mayoritas wilayah provinsi.
Prediksi ini menandakan periode intensitas hujan menengah hingga tinggi menjelang puncak musim penghujan.
Kepala Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan, Klaus Johannes Apoh Damanik, menegaskan perlunya kewaspadaan kolektif menghadapi dinamika cuaca akhir tahun.
"Berdasarkan analisis klimatologis, curah hujan pada Desember 2025 di Kalimantan Selatan diprediksi berada pada kisaran 200 hingga 400 milimeter. Sebagian daerah lainnya juga berpotensi menerima hujan dengan intensitas lebih rendah di rentang 150–200 milimeter," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip, Minggu (30/11/2025).
Merinci sebaran geografis, BMKG mengidentifikasi sejumlah kabupaten dengan potensi hujan relatif lebih rendah, yakni 150—200 milimeter, meliputi beberapa kecamatan di Kotabaru, Tanah Bumbu, dan Tanah Laut.
Di sisi lain, wilayah dengan potensi curah hujan lebih masif yang berkisar 200—300 milimeter sampai dengan 300—400 milimeter mencakup hampir seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini.
Klaus menyebutkan daerah-daerah yang masuk dalam kategori curah hujan tinggi antara lain Balangan, Banjar, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tabalong, Tanah Bumbu, Tanah Laut, Tapin, serta keseluruhan wilayah administratif Kota Banjarbaru dan Kota Banjarmasin.
Meski begitu, BMKG menyatakan bahwa karakteristik hujan Desember mendatang diprediksi berada dalam kategori Normal (85%—115%) di hampir seluruh Kalimantan Selatan.
Artinya, tingkat curah hujan diperkirakan konsisten dengan pola klimatologis rata-rata, tanpa indikasi anomali ekstrem yang mengkhawatirkan.
Klaus menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam memperkuat langkah-langkah mitigasi.
"Kami mendorong koordinasi lintas sektor baik pemerintah daerah maupun masyarakat untuk memperkuat mitigasi. Langkah antisipatif dini akan sangat membantu meminimalkan risiko bencana hidrometeorologi di puncak musim hujan," tegasnya.
Dalam rangka menghadapi lonjakan curah hujan, BMKG merekomendasikan sejumlah langkah strategis.
Pertama, penguatan infrastruktur mitigasi banjir dan antisipasi genangan air, terutama di kawasan padat permukiman yang rentan terendam.
Kedua, pemeriksaan rutin terhadap sistem drainase dan saluran sungai guna memastikan aliran air tidak terhambat oleh sedimentasi atau sampah.
Ketiga, peningkatan kewaspadaan masyarakat yang bermukim di area rawan longsor serta bantaran sungai.
Terakhir, penguatan koordinasi aktif antara pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan relawan kebencanaan untuk membangun jejaring tanggap darurat yang responsif.