Bisnis.com, JAKARTA — Microsoft memicu perbincangan di kalangan pelaku usaha setelah dokumen syarat penggunaan layanan Copilot menyebutkan bahwa alat tersebut hanya ditujukan untuk tujuan hiburan.
Klausul ini dinilai kontradiktif dengan strategi perusahaan yang gencar memasarkan Copilot sebagai solusi produktivitas utama bagi pelanggan bisnis.
Dalam pembaruan dokumen yang tertanggal 24 Oktober 2025, perusahaan menegaskan bahwa pengguna tidak boleh mengandalkan Copilot untuk mendapatkan nasihat penting. Microsoft juga menekankan bahwa segala risiko yang muncul dari penggunaan layanan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna.
“Copilot hanya untuk tujuan hiburan saja. Itu bisa membuat kesalahan, dan mungkin tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” tulis dokumen syarat penggunaan Microsoft dilansir dari Tom’s Hardware, Senin (6/4/2026).
Menanggapi ramainya sorotan terhadap klausul tersebut, juru bicara Microsoft memberikan penjelasan kepada PCMag. Pihak perusahaan menyatakan bahwa narasi tersebut merupakan bahasa lama atau legacy language yang tidak lagi mencerminkan fungsi layanan saat ini.
Juru bicara Microsoft mengatakan bahwa seiring dengan evolusi produk, bahasa dalam dokumen tersebut tidak lagi mencerminkan bagaimana Copilot digunakan saat ini.
Perusahaan berencana untuk mengubah ketentuan tersebut pada pembaruan dokumen berikutnya agar lebih relevan dengan kapabilitas teknis terkini.
Meski demikian, pengamat teknologi menilai keberadaan disklaimer tersebut merupakan hal yang ironis. Hal ini dikarenakan Microsoft sedang mengintegrasikan Copilot secara mendalam ke dalam ekosistem Windows 11 dan memasarkan perangkat Copilot+ PC untuk kebutuhan profesional dan bisnis.
Laporan dari Tom’s Hardware menyebutkan bahwa Microsoft bukan satu-satunya perusahaan yang menggunakan klausul perlindungan hukum semacam itu. Perusahaan pengembang AI lainnya, seperti OpenAI dan xAI, juga menyertakan peringatan serupa kepada para penggunanya.
OpenAI misalnya, memperingatkan pengguna agar tidak mengandalkan Output dari model bahasa besar atau Large Language Model (LLM) sebagai satu-satunya sumber kebenaran.
Sementara itu, xAI menekankan bahwa AI bersifat probabilistik dan dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat mengenai fakta atau orang.
Secara operasional, ketergantungan berlebih pada AI tanpa pengawasan manusia telah terbukti menimbulkan gangguan bisnis yang nyata. Beberapa insiden di Amazon Web Services (AWS) dilaporkan terjadi karena penggunaan bot pengodean AI oleh insinyur yang bekerja tanpa pengawasan ketat.
Perubahan sistem yang dibantu oleh AI generatif (Gen-AI assisted changes) di platform Amazon juga sempat memicu insiden dengan dampak luas atau high blast radius. Hal tersebut memaksa para insinyur senior untuk turun tangan secara langsung guna menyelesaikan permasalahan yang muncul.
Secara teknis, penggunaan AI generatif memang mampu meningkatkan produktivitas, namun alat ini tidak menawarkan akuntabilitas atas kesalahan yang dibuat. Pengguna seringkali terjebak dalam bias otomasi, di mana manusia cenderung memihak pada hasil kerja mesin meskipun terdapat data yang bertentangan.
Kecenderungan untuk menganggap output AI sebagai kebenaran mutlak menjadi risiko tersendiri bagi perusahaan. AI dapat menciptakan hasil yang terlihat masuk akal secara sekilas, namun sebenarnya merupakan hasil halusinasi atau ketidakteraturan data.
Langkah perusahaan teknologi menyertakan disklaimer ketat ini dipandang sebagai upaya perlindungan diri dari potensi tuntutan hukum di masa depan. Perusahaan cenderung meminimalkan risiko keterikatan hukum demi mempercepat monetisasi layanan AI di pasar global.
Di sisi lain, investor dan pelaku usaha terus memantau sejauh mana reliabilitas alat ini dapat dipertanggungjawabkan secara komersial. Ketidakjelasan status hukum dan fungsional ini diprediksi akan menjadi tantangan dalam adopsi AI skala besar di sektor-sektor kritis.