Bisnis.com, JAKARTA — Negara-negara Uni Eropa tengah menegosiasikan proposal usulan yang memberikan fleksibilitas bagi pelaku industri untuk mencapai target iklimnya. Berdasarkan draf yang dilihat Reuters, proposal ini mengemuka di tengah upaya blok tersebut dalam menggaet dukungan dari para anggota untuk target penurunan emisi 2040.
Uni Eropa tengah berpacu untuk mengesahkan target tersebut sebelum para pemimpin dunia berkumpul dalam Konferensi Iklim PBB COP30 yang dijadwalkan pada 6 November mendatang.
Namun, setelah berbulan-bulan negosiasi, kesepakatan belum tercapai karena sejumlah negara anggota menolak langkah hijau yang dinilai membebani industri dan menimbulkan pertanyaan tentang pendanaan transisi energi rendah karbon di tengah kebutuhan pertahanan dan revitalisasi ekonomi.
Draf kompromi yang disusun Uni Eropa memperlihatkan kemungkinan bagi blok tersebut untuk meninjau ulang target 2040 setiap dua tahun sekali, sehingga membuka ruang bagi Brussel untuk melonggarkan ambisi iklimnya pada masa mendatang.
Selain itu, rancangan tersebut juga menetapkan bahwa jika penyerapan emisi karbon dioksida (CO₂) oleh hutan lebih rendah dari perkiraan, atau teknologi penangkapan karbon berkembang lebih lambat dari rencana, maka sektor industri lain tidak akan diwajibkan menanggung beban tambahan untuk tetap mencapai target 2040.
“Potensi kekurangan dari satu sektor tidak boleh menjadi beban bagi sektor lainnya,” demikian bunyi draf yang bertanggal 25 Oktober tersebut.
Isi kompromi ini mencerminkan tuntutan yang disuarakan oleh para pemimpin negara Uni Eropa dalam pertemuan puncak pekan lalu. Mereka menekankan soal pentingnya menciptakan “kondisi pendukung” untuk mencapai target hijau tanpa menaikkan biaya energi bagi masyarakat, serta tetap menjaga daya saing industri yang kini menghadapi tekanan dari produk murah asal China dan tarif impor Amerika Serikat.
Para duta besar negara anggota Uni Eropa dijadwalkan membahas proposal ini pekan depan, sebelum para menteri lingkungan hidup mencoba mengesahkan target tersebut pada 4 November.
Draf kompromi itu tidak mengubah target pemotongan emisi 90%, maupun porsi 3% yang masih bisa dipenuhi melalui pembelian kredit karbon internasional alih-alih upaya domestik, meski klausul ini masih menjadi bahan perdebatan. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan menyebut pekan lalu bahwa kredit karbon tersebut bisa saja diperluas hingga 5%.
Sebagai upaya merangkul negara-negara yang masih skeptis, Komisi Eropa menjanjikan penyesuaian terhadap kebijakan hijau lainnya, termasuk mekanisme pengendalian harga dalam pasar karbon transportasi yang didorong oleh Polandia dan Republik Ceko.
Brussel juga dikabarkan tengah mempertimbangkan pelonggaran larangan mobil mesin pembakaran internal pada 2035 setelah tekanan dari Jerman dan Italia.
Seorang juru bicara dari Denmark, yang saat ini memegang presidensi bergilir Uni Eropa dan menyusun dokumen tersebut, menolak memberikan komentar.