Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Inggris meluncurkan program Climate Finance Accelerator (CFA) di Indonesia untuk mempercepat pembiayaan proyek rendah karbon dan memperkuat upaya pencapaian target net zero emission pada 2060.
CFA merupakan program bantuan teknis global yang didanai pemerintah Inggris untuk mempertemukan pelaku usaha dengan investor, sekaligus memperkuat implementasi Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia Dominic Jermey menyatakan CFA telah mendukung lebih dari 200 bisnis di berbagai negara dan memfasilitasi kesepakatan investasi senilai lebih dari US$400 juta. Menurutnya, kehadiran CFA di Indonesia memperkuat posisi Tanah Air sebagai mitra strategis Inggris dalam aksi iklim global.
“Saya senang bahwa program yang sangat sukses ini kini hadir dan meluncurkan siklus pertamanya di Indonesia. Kami memahami bahwa bisnis-bisnis iklim yang tengah mencari pembiayaan dapat menghadapi tantangan untuk menjadi layak menerima investasi,” ungkap Dominic dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (3/2/2026).
Ia menambahkan, peluncuran CFA juga menjadi bagian dari penguatan Kemitraan Strategis Inggris–Indonesia yang sebelumnya disepakati oleh Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden Prabowo Subianto di London. Program ini dinilai memberikan manfaat bagi pelaku proyek inovatif di Indonesia maupun investor global.
Program CFA menargetkan pelaku usaha yang membutuhkan investasi minimum US$3 juta di sektor energi, limbah, pertanian, transportasi, proses industri, serta kehutanan dan penggunaan lahan. Sekitar 10 bisnis akan dipilih untuk mengikuti pendampingan intensif selama tiga hingga empat bulan, mencakup sesi kelompok dan mentoring individu dari pakar finansial, teknis, serta isu kesetaraan dan inklusi.
Program ini ditandai dengan pembukaan pendaftaran proposal bisnis mulai 2 Februari hingga 9 Maret 2026.
Sementara itu, Presiden Direktur PwC Consulting Indonesia Martijn Peeters mengatakan pihaknya mendukung penuh pelaksanaan CFA di Indonesia. PwC berperan sebagai mitra implementasi yang akan mendampingi peserta dalam menyusun proposal investasi yang menarik dan bernilai komersial.
“Program ini bertujuan mengubah ambisi menjadi proyek yang layak investasi dan memberikan dampak iklim yang terukur. Tahun ini kami menargetkan 10 bisnis dari berbagai sektor terkait iklim,” kata Martjin.
Selain meningkatkan kesiapan investasi, CFA juga diharapkan dapat memperkuat kualitas pengembangan proyek dan meningkatkan kepercayaan pasar terhadap sektor pembiayaan iklim di Indonesia. Melalui penguatan pipeline proyek rendah karbon, program ini diharapkan mampu mendukung transisi ekonomi hijau secara berkelanjutan.
Sebagai informasi, CFA didanai melalui International Climate Finance (ICF) dan diimplementasikan di sejumlah negara, termasuk Indonesia, India, Malaysia, Afrika Selatan, dan Meksiko. Program ini merupakan bagian dari upaya Inggris dalam mendukung pencapaian target iklim global sesuai Paris Agreement.