Bisnis.com, SEMARANG — Setyo Adi Paminto, Chief Operation Officer Jatengland Industrial Park Sayung (JIPS), baru saja mengakhiri pertemuan dengan sejumlah perwakilan pelaku industri perbankan asal Taiwan yang membahas rencana investasi di kawasan. Di tengah kondisi global yang bergejolak, serta tekanan pada sektor finansial akibat kaburnya investor asing dari pasar modal, minat investasi ke Indonesia ternyata tidak memudar.
Setyo mengatakan, hal pertama yang dibutuhkan untuk menarik investor asing adalah kepercayaan. Ketika hati sudah mantap, tahapan selanjutnya yang krusial adalah membaca data sebagai kompas arah investasi secara riil.
Bagi calon investor yang hendak membangun pabrik, data utama yang dicari adalah indikator ketenagakerjaan serta peta supply chain atau rantai pasok. Kedua instrumen itu menjadi penentu utama dalam mengukur skala pabrik yang akan mereka bangun.
Setyo menyebut, rata-rata investor yang menanamkan modal di Jatengland Industrial Park Sayung telah memiliki jaringan rantai pasok di kawasan yang sama. Ketersediaan rantai pasok membuat alur produksi menjadi lebih efisien.
“Kami berupaya mengajak investor asing untuk mencari rantai pasok yang bersumber dari sumber daya lokal. Ini membuat industri manufaktur kita lebih berdaya saing,” kata Setyo saat ditemui di kantornya, Selasa (9/6/2026).
Harapan untuk mengoptimalkan rantai pasok lokal pun sejalan dengan potret Berita Resmi Statistik Kinerja Ekonomi Jawa Tengah yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data BPS menunjukkan bahwa sektor industri pengolahan masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi dengan kontribusi sebesar 32,69% terhadap PDRB Jawa Tengah.
Merujuk pada data PDRB Jateng Menurut Lapangan Usaha 2021-2025, sebanyak 13 subkategori industri pengolahan berhasil mencatatkan pertumbuhan positif pada 2025. Di antara subsektor yang tumbuh positif adalah industri barang logam, komputer, barang elektronik dan peralatan listrik. Golongan ini mencakup pembuatan produk logam murni seperti suku cadang, perlengkapan komputer dan barang elektronik sejenis termasuk pembuatan komponennya. Industri mesin dan perlengkapan juga menunjukkan kontribusi yang cukup stabil. Data tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur berbasis komponen dan permesinan di Jawa Tengah terus berkembang, sebuah kondisi yang dapat mendukung penguatan rantai pasok industri.
Tidak hanya rantai pasok, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang presisi juga menjadi pertaruhan. Data ketenagakerjaan mutlak dibutuhkan investor untuk memastikan lini produksi pabrik nantinya diisi oleh tenaga kerja yang sesuai dengan spesifikasi teknis mereka.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Tengah pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,24%, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Di sisi lain, BPS juga mencatat sekitar 8,51% penduduk bekerja di Jawa Tengah telah berpendidikan tinggi dengan tingkat pendidikan Diploma ke atas. Data tersebut memberi gambaran mengenai ketersediaan tenaga kerja yang semakin terdidik, sebuah faktor yang menjadi perhatian penting bagi investor yang masuk ke sektor manufaktur berbasis teknologi.
Bagi investor, membangun pabrik secara kasat mata terlihat pada saat dimulainya proses pembelian lahan dan pembangunan gedung. Namun jauh sebelum alat berat masuk ke lokasi proyek, keputusan investasi sesungguhnya telah dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana, yakni membaca data. Data paling akurat dan mutakhir akan membantu investor memotret kondisi terkini. Apalagi, lanskap bisnis terus berubah setiap waktu.
Edward Sofiananda, CEO Mugan Group Indonesia, mengatakan bahwa di Jawa Tengah, karaktersitik industri manufaktur telah mulai bergeser. Jateng, yang dahulu dikenal dengan manufaktur padat karya seperti industri tekstil dan produk tekstil, serta furnitur, kini perlahan semakin diwarnai oleh industri padat modal yang mengadopsi teknologi tinggi, seperti industri elektronik dan kendaraan listrik.
“Pergeseran ini tentu membutuhkan profil tenaga kerja yang berbeda, karena industri kendaraan listrik membutuhkan tenaga kerja yang lebih terdidik,” ujarnya.
Di sinilah pentingnya Sensus Ekonomi. Melalui sensus yang dilaksanakan secara berkala, BPS memotret struktur dunia usaha Indonesia secara menyeluruh, mulai dari usaha mikro hingga perusahaan besar. Data tersebut menjadi fondasi bagi pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, hingga investor untuk membaca peluang ekonomi secara lebih presisi.
Di tengah persaingan memperebutkan modal global, kualitas data ekonomi menjadi keunggulan yang tidak kalah penting dibandingkan infrastruktur fisik. Sebab bagi investor, data bukan sekadar angka, melainkan juga berfungsi sebagai kompas yang menunjukkan ke mana modal akan berlabuh. Kompas baru itulah yang kini tengah dibidik lewat hajatan besar Sensus Ekonomi (SE) 2026.
Kegiatan Sensus Ekonomi 2026 yang sedang digelar oleh BPS pada Mei hingga 31 Agustus 2026 mendatang diharapkan mampu memberikan gambaran ekonomi regional yang menyeluruh serta membuka peluang investasi baru.
Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan bahwa Sensus Ekonomi 2026 akan dilakukan secara menyeluruh di Indonesia sehingga dapat memotret seluruh aktivitas ekonomi hingga ke daerah. Menurutnya, data hasil kegiatan sensus ekonomi nantinya dapat menjadi pijakan penting bagi pemerintah daerah untuk menyusun kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Selain itu, hasil sensus ekonomi bisa dimanfaatkan oleh akademisi, asosiasi usaha, dan lembaga keuangan untuk meneliti, mengembangkan, dan memperkuat ekonomi lokal. Dengan data yang valid, setiap daerah dapat merancang strategi ekonomi yang sesuai dengan karakter dan potensinya, bukan sekadar meniru kebijakan nasional yang seragam.
“Misalnya, jika suatu daerah diketahui memiliki konsentrasi tinggi pada usaha pengolahan pangan lokal, pemerintah bisa mengarahkan investasi pada sektor tersebut. Sebaliknya, wilayah yang memiliki potensi wisata atau ekonomi kreatif bisa mendapat dorongan melalui promosi dan infrastruktur pendukung,” ujarnya.
Amalia menilai pembangunan ekonomi nasional akan berjalan dengan kuat bila terdapat fondasi yang kokoh di tingkat daerah. “Sensus Ekonomi 2026 menjadi instrumen penting untuk memastikan bahwa data perekonomian daerah dapat tersedia dengan akurat,” katanya.
BPS berupaya menyajikan potret ekonomi daerah yang lengkap, mulai dari usaha mikro hingga perusahaan besar. Nantinya, setiap kabupaten, kota, dan provinsi akan memiliki gambaran tentang struktur ekonomi sektor yang dominan, jumlah pelaku usaha titik-titik pertumbuhan serta sektor paling potensial untuk dikembangkan.
Di ruang-ruang rapat kawasan industri, keputusan investasi mungkin tampak dimulai dari negosiasi harga lahan, insentif, atau pembangunan infrastruktur. Namun pengalaman para pengelola kawasan industri menunjukkan hal yang berbeda. Sebelum memutuskan menanamkan modal miliaran rupiah, investor terlebih dahulu mencari tahu di mana tenaga kerja yang sesuai tersedia, bagaimana rantai pasok terbentuk, dan sektor apa yang memiliki prospek pertumbuhan paling kuat. Arah itulah yang disediakan oleh data.
Ketika Sensus Ekonomi 2026 memotret jutaan pelaku usaha dari Sabang hingga Merauke, yang dihimpun bukan sekadar deretan angka statistik. Di dalamnya tersimpan peta tentang kekuatan ekonomi daerah, peluang investasi, hingga wajah baru industri Indonesia yang sedang bertumbuh.
Bagi pemerintah, data menjadi dasar kebijakan. Bagi pelaku usaha, data menjadi bahan membaca pasar. Sementara bagi investor, data membantu menerjemahkan peluang menjadi keputusan. Sebab pada akhirnya, investasi tidak selalu berawal dari tanah yang luas atau gedung yang megah. Sering kali, ia bermula dari satu hal yang lebih sederhana, yakni data yang mampu menunjukkan arah.