Bisnis.com, JAKARTA — Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (AS) Dino Patti Djalal menyampaikan pandangannya terkait dengan serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, @dinopattidjalal, Minggu (1/3/2026).
Dalam pernyataannya, Dino mengaku terkejut dan prihatin atas serangan tersebut, terlebih karena terjadi di bulan Ramadan dan menyasar negara mayoritas Muslim.
“Kita semua shock melihat serangan Amerika dan Israel terhadap Iran. Dan kita terutama prihatin karena ini serangan terhadap suatu negara Islam di bulan Ramadan,” ujarnya.
Dino menilai konflik ini berpotensi berlangsung lama. Menurut dia, tujuan serangan bukan sekadar menghentikan kapasitas nuklir Iran, tetapi juga untuk menumbangkan pemerintahan di Teheran.
Lebih lanjut, dia menyebut berbagai instrument militer, politik, ekonomi, hingga operasi intelijen akan dikerahkan. Di sisi lain, Iran juga dipastikan tidak akan tinggal diam dan akan melawan intervensi tersebut.
“Perang ini juga akan menyeret pihak-pihak luar dan menyebarkan guncangan di luar wilayah Iran,” katanya.
Terlebih, Iran memiliki jaringan politik dan militer yang signifikan di kawasan Timur Tengah. Dino juga menegaskan bahwa meskipun terjadi pergantian pemerintahan di Teheran, hal itu tidak serta-merta membenarkan aksi militer secara moral maupun hukum internasional.
Dalam poin keduanya, mantan Wakil Menteri Luar Negeri itu menekankan bahwa Iran adalah pihak yang diserang, bukan pihak yang menyerang. Dia menilai kegagalan perundingan tidak dapat dijadikan alasan pembenaran penggunaan kekuatan militer.
Dia juga menyinggung peran Oman sebagai mediator yang sebelumnya menyatakan adanya kemajuan signifikan dalam perundingan antara Washington dan Teheran.
Dino memperingatkan bahwa pendekatan penyelesaian konflik melalui kekuatan militer berisiko mengganggu stabilitas dan perdamaian internasional.
Kritik Wacana Mediasi Presiden
Dino turut menanggapi pernyataan pemerintah yang menyebut Presiden Prabowo Subianto siap terbang ke Teheran untuk menjadi penengah konflik.
Sebagai akademisi dan mantan diplomat, dia mempertanyakan realisme gagasan tersebut. Menurut dia, Amerika Serikat jarang bersedia dimediasi pihak ketiga dalam situasi serangan militer. “Ini tidak realistis dan tidak akan mungkin terjadi. Kita harus jujur mengenai hal ini,” ucapnya.
Dia juga menilai belum terdapat kedekatan atau tingkat kepercayaan yang cukup antara Pemerintah Indonesia saat ini dengan Iran untuk memediasi konflik besar tersebut.
Selain itu, Dino menilai kecil kemungkinan Presiden AS Donald Trump atau Menteri Luar Negeri Marco Rubio bersedia terlibat dalam skema mediasi di Teheran.
Dia juga menyebut bahwa upaya mediasi akan mengharuskan pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menurut dia sangat sulit secara politik dan diplomatik.
Serukan Sikap Tegas dan Evaluasi Misi Perdamaian
Alih-alih mencari peran sebagai mediator, Dino mendorong Indonesia untuk menegaskan posisi secara lugas dan konsisten dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif serta komitmen terhadap hukum internasional.
Dia bahkan menyarankan agar Presiden Prabowo mempertimbangkan menulis surat kepada Presiden Trump untuk menangguhkan pengiriman pasukan perdamaian Indonesia dalam International Stabilization Force (ISF) di Gaza, sambil mengkaji perkembangan situasi di Timur Tengah.
“Menurut saya yang paling penting bagi Indonesia bukan mencari peran sebagai juru damai dalam konflik ini karena ini tidak realistis tapi justru untuk menegaskan posisi Indonesia secara jelas, secara tegas dan secara lugas. Kita harus berani menyatakan apa yang benar-benar dan apa yang salah-salah apapun risikonya,” tuturnya.
Menurut Dino, langkah tersebut penting untuk menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara berprinsip dan tidak mudah dianggap remeh oleh negara adidaya. “Validasi sejarah jauh lebih penting daripada validasi dari Gedung Putih,” tutur Dino.