#30 tag 24jam
Puing Berganti Pakcoy, BRI Dampingi Taman Urban Farming Dahlia Tebar Manfaat ke Warga
Dari lahan terbengkalai menjadi kebun organik, Taman Urban Farming Dahlia binaan BRI kini memasok sayuran untuk MBG dan menjadi ruang belajar warga. - Bagian all [1,365] url asal
JAKARTA, iNews.id - Sebelum ditumbuhi pakcoy, sawi, hingga kangkung, lahan di tengah permukiman padat RW 07 Kelurahan Cempaka Putih Barat, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat ini lebih akrab dengan tumpukan puing bangunan. Warga bahkan pernah menjadikannya tempat membuang sampah dan mengikat kambing.
Suasananya kini berubah total. Bedeng-bedeng tanaman memenuhi sudut lahan yang kini diberi nama Taman Urban Farming Dahlia ini, sementara warga silih berganti datang untuk menanam, memanen, hingga belajar bercocok tanam.
Transformasi tersebut lahir dari inisiatif warga yang kemudian diperkuat melalui dukungan BRI. Kebun sederhana itu berkembang menjadi sentra urban farming yang menghasilkan sayuran organik dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Setiap beberapa pekan, pakcoy, sawi, kangkung, hingga terong dipanen dari bedeng-bedeng sederhana. Sayuran itu sebagian dibagikan kepada warga, sebagian lagi dijual untuk membeli bibit dan pupuk agar kebun tetap hidup.
Pengurus Taman Urban Farming Dahlia, Sukarni menyatakan seluruh tanaman di lahan ini dibudidayakan secara organik. Pengelola tidak menggunakan pupuk kimia maupun pestisida sintetis.
"Kalau konvensional juga di sini kita termasuk tanaman organik, karena kita tidak menggunakan urea atau NPK. Paling pupuk kandang saja," kata Pengurus Taman Urban Farming Dahlia, Sukarni kepada iNews.id pada Senin (22/6/2026).
Ketika tanaman diserang hama, kata dia, warga memilih membuat pestisida alami dari bahan dapur.
"Kalau kemarin waktu kita kena ada kutu-kutu itu, dibikin obatnya dari bawang putih campur air kita semprotin," ujarnya.
Menurut Sukarni, kawasan hijau tersebut dulunya hanyalah lahan kosong yang terbengkalai.
Rumah Sukarni berada tepat di samping lokasi itu. Selama bertahun-tahun, dia melihat lahan tersebut berubah menjadi tempat pembuangan puing bangunan, bahkan sesekali dijadikan lokasi mengikat kambing sehingga menimbulkan bau yang mengganggu warga sekitar.
Melihat kondisi tersebut, Sukarni mulai berpikir lahan ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih berguna.
"Melihat dari situ saya jadi berinisiatif, 'Kenapa enggak dibikin sesuatu yang bermanfaat ya?' Akhirnya saya merintis tuh sedikit-sedikit," katanya.
Awalnya, hanya ada beberapa tanaman peria atau pare dan jeruk nipis yang ditanam bersama ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Meski belum banyak warga yang terlibat, tetapi perlahan hasil panen kecil mulai terlihat.
Semangat itu semakin tumbuh ketika kawasan tersebut mengikuti Program Kampung Iklim (Proklim) dari Kementerian Lingkungan Hidup (LH). Warga kemudian bergotong royong membersihkan lahan bersama pengurus RT dan petugas PPSU.
"Karena ini dulu tempat buang sampah. Akhirnya diangkat semua, dirapiin, kita bikin ala-ala desa. Kita bikin saung bambu. Pokoknya manfaatin bahan-bahan yang enggak kepakai di luar, angkutin ke sini," ujar Sukarni.
Sedikit demi sedikit wajah kawasan berubah. Jalan diperkeras menggunakan konblok, saung dibangun sebagai tempat berkumpul warga, sementara berbagai tanaman mulai memenuhi lahan yang sebelumnya terbengkalai.
Perubahan tersebut menarik perhatian banyak pihak, termasuk BRI.
Melihat potensi Taman Urban Farming Dahlia yang dibangun secara swadaya oleh warga, BRI Peduli melalui program BRI Bertani di Kota (BRInita) kemudian memberikan dukungan untuk mengembangkan kawasan tersebut.
"Awalnya kita swadaya. Terus kemudian ada dari BRI ngelihat waktu itu, 'Oh masih ada di Jakarta tempat terpencil kayak gini dimanfaatin jadi urban farming,'" kata Sukarni.
Setelah melalui proses perizinan dengan kelurahan dan pengelola lahan, pembangunan dilakukan pada 2022.
Berbagai fasilitas kemudian dibangun untuk menunjang aktivitas warga, mulai dari pagar, gazebo, bedeng tanam, kolam ikan, kanopi, kamar mandi, pompa air, hingga mesin pencacah.
"Kontribusinya dari BRI awal ya bibit dapat, kemudian fasilitasnya kayak pagar, kamar mandi semua dapat. Gazebo ini juga dari BRI. Kolam juga dapat dari BRI," ujarnya.
Selain membangun fasilitas fisik, BRI juga memberikan berbagai pelatihan mengenai teknik budidaya tanaman.
"Dulu ada soal bercocok tanam dari BRI. Misalnya cara nanam, cara memelihara tanaman yang benar," katanya.
Seiring bertambahnya pengalaman warga, hasil panen Taman Urban Farming Dahlia tak lagi hanya dinikmati sendiri. Sebagian sayuran mulai dipasarkan kepada masyarakat sekitar.
Bahkan belum lama ini, pengelola berhasil memasok sekitar 28 kilogram pakcoy ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cempaka Putih Timur 2 untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Terakhir kita panen pakcoy itu 28 kilogram kita jual ke SPPG. Lumayan itu kemarin," ujar Sukarni.
Meski demikian, keuntungan finansial bukanlah tujuan utama. Menurut Sukarni, hasil penjualan kembali diputar untuk membeli bibit, pupuk organik, dan memenuhi kebutuhan operasional kebun.
"Kalau ditanya berapa sih keuntungannya? Kita belum bisa teriak kita dapat keuntungan. Paling kita kelola dapat Rp100.000 sampai Rp200.000. Kemudian kita belikan lagi untuk kompos, beli bibit lagi," katanya.
Manfaat terbesar yang dirasakan Sukarni dari keberadaan Taman Urban Farming Dahlia justru tidak diukur dari jumlah panen. Kebun tersebut telah menjadi ruang berkumpul warga, tempat belajar anak-anak, sekaligus media mempererat hubungan antarwarga.
Dia mengatakan anak-anak Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) rutin datang untuk belajar menyemai benih, menanam, hingga memanen sayuran. Saat panen ikan lele, warga juga bergotong royong membersihkan dan mengolah hasilnya sebelum dijual.
"Yang tadinya jarang ketemu kan bisa jadi kumpul di sini. Silaturahmi itu yang kita jaga," ujarnya.
Menurut Sukarni, suasana kebersamaan itulah yang membuat Taman Urban Farming Dahlia memiliki nilai lebih dibanding sekadar lahan pertanian.
"Kalau kita panen lele aja bapak-bapak yang ambilin, bantuin nyuci. Bareng-bareng. Jadi itu satu momen yang belum tentu semua orang bisa ngerasain. Orang bilang, 'Enak lho di sana pada rukun,'" katanya.
Sukarni pun berharap Taman Urban Farming Dahlia dapat terus berkembang. Dia bermimpi ruang hijau di tengah kota itu mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi warga yang selama ini mengelolanya secara sukarela.
"Mudah-mudahan BRI bisa rutin membantu kita, untuk pupuk dan bibit saja. Mungkin bisa ada apresiasi juga," ujarnya.
Hasil panen Taman Urban Farming Dahlia tidak hanya menjadi konsumsi para pengelola kebun. Sebagian sayuran organik hingga ikan lele yang dihasilkan juga dibagikan kepada warga sekitar.
Suasana panen pun menjadi momen yang dinantikan warga. Ketika sayuran siap dipetik, warga RW 7 kerap datang untuk mengambil hasil panen yang dibagikan secara bergiliran.
Salah seorang warga RW 07 Cempaka Putih Barat, Erwin, mengaku keberadaan Taman Urban Farming Dahlia membawa manfaat nyata bagi lingkungan tempat tinggalnya. Menurut dia, hasil kebun tidak hanya dinikmati pengelola, tetapi juga dirasakan masyarakat sekitar.
"Lumayanlah. Apalagi buat warga RW, kalau panen-panen gitu bagi-bagi ke warga. Ada juga yang dijual. Hasil panen sayuran, ada ikan lele juga," ujar Erwin.
Dia mengaku beberapa kali membawa pulang hasil panen dari kebun tersebut. Warga yang ingin menikmati sayuran biasanya cukup datang saat panen berlangsung.
"Kalau ada panen, warga sini kalau mau ambil ya kita ambil aja, minta gitu ya. Terus dibagi-bagiin buat warga RW 07-lah," katanya.
Menurut Erwin, pola berbagi hasil panen itu membuat keberadaan kebun semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Warga dari luar RW 07 pun dapat membeli hasil panen yang tersedia.
"Ya ngerasainlah. Misal mau minta nanti dikasih. Kalau mau beli misal dari warga RW lain bisa," ujarnya.
Dia menilai keberadaan Taman Urban Farming Dahlia juga menjadi salah satu ruang yang paling aktif menggerakkan kegiatan masyarakat. Berbagai pelatihan hingga kunjungan dari instansi pemerintah rutin digelar di lokasi tersebut.
Dia mengungkapkan berbagai kegiatan edukasi itu juga melibatkan BRI yang selama ini mendampingi pengembangan Taman Urban Farming Dahlia.
"Iya dari pihak BRI. Kerja sama dengan pihak BRI juga. Adalah kegiatan. Aktif banget," ujarnya.
Keberadaan kebun itu, lanjut Erwin, bahkan beberapa kali menarik perhatian pemerintah daerah. Sejumlah pejabat dari tingkat kota hingga provinsi pernah berkunjung untuk melihat langsung pengembangan urban farming yang dikelola warga.
"Jangankan pendampingan, waktu menanam saja seluruh DKI (pejabat Pemprov DKI Jakarta) pernah datang ke sini, dari sudin, dari wali kota, dari gubernur. Waktu itu terakhir istri gubernur datang," katanya.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan pengembangan urban farming menjadi salah satu bentuk komitmen BRI dalam mendorong pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan masyarakat. Melalui program BRI Bertani di Kota (BRInita), BRI ingin menghadirkan ruang hijau yang tidak hanya memperbaiki kualitas lingkungan perkotaan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga.
Menurut dia, hasil panen dari kegiatan urban farming dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, menambah pendapatan melalui penjualan hasil panen, hingga mendukung berbagai kegiatan sosial di lingkungan masyarakat.
"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi," ujar Dhanny.
Dia menjelaskan, BRInita merupakan bagian dari upaya BRI mendukung pembangunan berkelanjutan dengan memperluas ruang terbuka hijau, mengurangi dampak pencemaran lingkungan, serta memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas. Program tersebut juga sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs).
"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucapnya.
Editor: Rizky Agustian
Petik Sayur, Panen Ilmu: BRI Bantu Kebun Gangnam Jadi Tempat Belajar Urban Farming
BRI Peduli mengembangkan Kebun Gangnam menjadi pusat edukasi urban farming, tempat warga belajar bertani, ketahanan pangan, dan lingkungan hijau. - Bagian all [784] url asal
JAKARTA, iNews.id - Riuh percakapan terdengar dari rumah edukasi di sudut Kebun Pegangsaan Dua Menanam (Gangnam), Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Kamis (4/6/2026). Puluhan anggota Kelompok Tani Gangnam dan warga duduk memperhatikan penjelasan penyuluh, sementara di hadapan mereka tersaji aneka daun, batang serai, lengkuas, hingga daun mimba yang akan diolah menjadi pestisida nabati.
Tak lama, peserta beranjak menuju area kebun. Mereka mengamati tanaman cabai yang mulai terserang hama.
Mereka lantas mempraktikkan cara mengenali gejala penyakit dan mencoba meracik larutan alami untuk melindungi tanaman. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran baru bagi mereka yang bisa langsung diterapkan di Kebun Gangnam maupun rumah masing-masing.
Pemandangan seperti itu bukan hal yang asing di Kebun Gangnam. Kebun seluas sekitar 1.330 meter persegi tersebut berkembang menjadi ruang belajar bersama tentang pertanian perkotaan.
Kegiatan yang berlangsung hari itu merupakan bagian dari roadshow Laboratorium Klinik Tanaman yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta.
Penyuluh Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman Dinas KPKP DKI Jakarta, Carta, mengatakan kegiatan tersebut digelar secara bergilir di berbagai wilayah Jakarta hingga November 2026.
"Ini kegiatan roadshow Laboratorium Klinik Tanaman. Jadi di Provinsi DKI sampai November 2026. Kebetulan hari ini di Kelapa Gading dan kita praktik langsung di lapangan," ujar Carta saat ditemui iNews.id.
Menurut dia, materi yang diberikan tidak terbatas pada teori. Peserta juga diajak mempraktikkan pengendalian hama dan penyakit tanaman menggunakan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
"Kami memberikan edukasi mengenai pengendalian hama dan penyakit tanaman yang ramah lingkungan. Selain itu, peserta juga diajak praktik membuat pestisida nabati dari bahan-bahan alami yang tersedia di sekitar mereka," tuturnya.
Pelatihan semacam ini menjadi bagian dari aktivitas rutin di Kebun Gangnam. Sejak memperoleh dukungan melalui program BRI Bertani di Kota (BRInita) dari BRI Peduli, kawasan tersebut semakin aktif menggelar berbagai kegiatan edukasi yang melibatkan masyarakat.
Lewat programnya, BRI memberikan dukungan pengembangan kebun dengan menghadirkan fasilitas fisik. Selain itu, bantuan juga diberikan lewat ruang bagi kelompok tani untuk terus meningkatkan kapasitas melalui berbagai pelatihan.
Pengetahuan yang diperoleh kemudian dibagikan kepada masyarakat sehingga manfaatnya dirasakan lebih luas.
Lurah Pegangsaan Dua, Sarmudi mengatakan keberadaan Kebun Gangnam kini memberi kesempatan bagi warga Jakarta untuk belajar bercocok tanam meski tinggal di kawasan dengan lahan yang terbatas.
"Sangat bermanfaat tentunya, karena keberadaan Kebun Gangnam ini bisa memberikan dampak buat warga sekitar. Di DKI Jakarta lahannya sangat terbatas, jadi warga bisa belajar bagaimana memanfaatkan pekarangan sempit dengan pot atau vertical garden," kata Sarmudi.
Dia mengatakan siapa pun yang tertarik belajar urban farming dapat datang langsung ke Kebun Gangnam. Kelompok Tani bahkan menyediakan bibit tanaman agar peserta dapat mempraktikkan ilmu yang diperoleh di rumah.
"Kalau warga masyarakat mau belajar cara menanam sayuran dan buah-buahan bisa langsung datang ke sini. Nanti kita kasih bibitnya juga buat mereka tanam di rumah," ujarnya.
Keberadaan rumah edukasi juga memperkuat fungsi kebun sebagai pusat pembelajaran. Bangunan tersebut menjadi tempat peserta menerima materi dasar sebelum mempraktikkan langsung proses budidaya di lahan.
Tak hanya warga sekitar, berbagai sekolah hingga perguruan tinggi juga rutin memanfaatkan Kebun Gangnam sebagai lokasi pembelajaran luar kelas. Siswa PAUD, TK, SD, komunitas, hingga mahasiswa datang bergantian untuk mengenal proses menanam dari dekat.
Koordinator Lapangan Kelompok Tani Gangnam, Yunus Banul mengatakan kegiatan edukasi hampir selalu mengisi agenda pengelola.
"Iya, rutin. Ada anak SD, PAUD, TK. Kemarin juga ada mahasiswa magang dari Universitas Diponegoro," kata Yunus.
Menurut dia, setiap rombongan diawali dengan penyampaian materi di rumah edukasi sebelum diajak mempraktikkan langsung cara menyemai benih, menanam, hingga merawat tanaman.
"Dikasih pemaparan dulu di rumah edukasi, baru nanti praktik penanaman," ucap dia.
Kemampuan anggota kelompok tani untuk membimbing masyarakat tidak lepas dari berbagai pelatihan yang mereka ikuti melalui program BRInita. Berbagai materi diberikan, mulai dari budidaya sayuran, melon, perikanan lele, hingga peternakan ayam.
"Ada pelatihan budidaya lele, pelatihan ternak ayam, sampai pelatihan melon. Jadi dari pembenihan sampai panen diajarkan," kata Yunus.
Ilmu tersebut kemudian ditularkan kembali kepada masyarakat. Dengan begitu, keberadaan Kebun Gangnam juga dapat melahirkan semakin banyak warga yang memahami cara bercocok tanam di lingkungan perkotaan.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus memperkuat komitmennya dalam mendukung program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan melalui BRInita. Menurut dia, urban farming memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kapasitas masyarakat selain menghadirkan ruang hijau di kawasan perkotaan.
"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi," ujar Dhanny.
Dia menambahkan, BRInita merupakan bagian dari komitmen BRI dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB/SDGs) sekaligus Asta Cita Pemerintah, khususnya dalam memperkuat ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, serta menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih hijau dan produktif.
"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucap Dhanny.
Editor: Rizky Agustian
BRI Bantu Taman Dahlia Penuhi Gizi Anak, Hasil Panen Disuplai ke Dapur MBG
Dukungan BRInita membantu Taman Urban Farming Dahlia berkembang. Kini 28 kg pakcoy hasil panen warga dipasok ke dapur Program Makan Bergizi Gratis. - Bagian all [970] url asal
JAKARTA, iNews.id - Taman Urban Farming Dahlia berdiri di tengah permukiman padat penduduk RW 07 Kelurahan Cempaka Putih Barat, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Kebun yang dikelola secara gotong royong oleh warga itu telah berkembang pesat sejak awal 2020-an.
Pemanfaatan lahan yang semula terbengkalai tersebut tak hanya berdampak positif bagi masyarakat sekitar. Taman Urban Farming Dahlia turut berkontribusi pada pemenuhan gizi anak lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hasil panen kebun membantu mencukupi pasokan sayuran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cempaka Putih Timur 2. Baru-baru ini, sebanyak 28 kilogram sayuran pakcoy dijual ke SPPG tersebut.
"Terakhir kita panen pakcoy itu 28 kilogram kita jual ke SPPG. Lumayan itu kemarin SPPG Cempaka Putih Timur 2," kata Pengurus Taman Urban Farming Dahlia, Sukarni saat ditemui iNews.id pada Senin (22/6/2026).
Sukarni menjelaskan pakcoy tersebut ditanam secara konvensional dengan masa tanam sekitar 1,5 bulan hingga siap dipanen.
Dia memastikan pakcoy dan seluruh tanaman di Taman Urban Farming Dahlia dibudidayakan secara ramah lingkungan. Seluruh tanaman di kebun ditanam tanpa pupuk kimia maupun pestisida sintetis.
"Kita ini termasuk tanaman organik, karena kita tidak menggunakan urea atau NPK. Paling pupuk kandang saja," ujarnya.
Sementara untuk mengatasi serangan hama, pengurus Taman Urban Farming Dahlia memanfaatkan bahan alami. Ramuan air bawang putih menjadi senjata untuk mengusir hama kutu yang sempat menyerang tanaman.
Sukarni menilai penjualan hasil panen ke SPPG menjadi perkembangan positif bagi kebun yang selama ini dikelola warga secara gotong royong. Sebab, selama bertahun-tahun hasil panen lebih banyak dibagikan kepada warga dan pengurus, sementara sebagian lainnya dijual untuk menjaga keberlangsungan kebun.
Meski mampu menghasilkan berbagai komoditas pertanian, Sukarni mengakui keuntungan belum menjadi tujuan utama pengelola kebun. Menurut dia, hasil penjualan biasanya kembali digunakan untuk kebutuhan operasional seperti membeli bibit tanaman baru dan pupuk.
"Paling kita kelola putus, (keuntungan) Rp100.000-200.000. Kemudian kita belikan lagi untuk kompos, beli bibit lagi," ujarnya.
Saat ini, berbagai jenis tanaman tumbuh di Taman Urban Farming Dahlia. Selain pakcoy, warga juga menanam sawi, kangkung, terong, hingga tanaman herba seperti jahe, kunyit, dan temulawak.
Khusus pakcoy, tanaman tersebut dibudidayakan secara konvensional maupun hidroponik. Sukarni menyebut hasil hidroponik memiliki tekstur yang berbeda.
"Kalau di hidroponik itu karena air ya, lebih crunchy, garing, tapi gampang patah. Harus lebih hati-hati dari konvensional," katanya.
Pendampingan program BRInita menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Taman Urban Farming Dahlia. Sebelum mendapatkan dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI melalui BRI Bertani di Kota (BRInita) pada 2022 lalu, pengelolaan kebun tersebut lebih banyak bertumpu pada gotong royong dan iuran warga.
Kondisi tersebut membuat pengembangan kebun berjalan secara bertahap karena keterbatasan sarana dan biaya. Sukarni mengaku warga harus memutar hasil penjualan panen yang jumlahnya tidak seberapa untuk membeli kembali bibit maupun kebutuhan tanam lainnya.
"Terus terang yang namanya swadaya kan berat, kita ngeluarin modal itu lumayan berat. Karena hasilnya kan enggak seberapa," ujarnya.
Setelah memperoleh dukungan BRInita, berbagai fasilitas penunjang mulai tersedia di kawasan kebun. Mulai dari bibit tanaman, kolam ikan, gazebo, pagar, bedeng tanam, kanopi shelter, pompa air hingga mesin pencacah yang membantu pengelolaan kebun sehari-hari.
Selain pembangunan sarana, para pengurus juga dibekali pengetahuan budidaya tanaman melalui pelatihan dari BRInita. Materi yang diberikan mencakup teknik penanaman hingga perawatan tanaman agar hasil panen lebih optimal.
"Dulu ada soal bercocok tanam dari BRI. Misalnya cara nanam, cara memelihara tanaman yang benar," kata Sukarni.
Taman Urban Farming Dahlia juga memiliki fungsi lain yang tak kalah penting. Kebun tersebut perlahan berkembang menjadi ruang bersama bagi masyarakat RW 07 Cempaka Putih Barat.
Sukarni mengatakan hasil panen bukanlah satu-satunya manfaat yang diperoleh dari keberadaan Taman Urban Farming Dahlia. Dia justru melihat semakin kuatnya hubungan antarwarga sejak aktivitas berkebun dilakukan bersama-sama.
"Pertama di sini yang bisa kita ambil itu keguyuban. Karena dengan adanya saung di sini bisa jadi tempat kumpul (warga), makan bareng misalnya," tutur Sukarni.
Saung yang berada di tengah kebun kerap menjadi tempat warga berbincang dan berkumpul. Aktivitas itu membuat lahan yang dulunya terbengkalai kini memiliki peran baru sebagai ruang sosial bagi masyarakat sekitar.
Tak hanya untuk orang dewasa, kebun tersebut juga menjadi sarana belajar bagi anak-anak. Sukarni yang sehari-hari mengajar PAUD rutin mengenalkan proses bercocok tanam kepada para murid melalui kegiatan praktik langsung di kebun.
Melalui kegiatan itu, anak-anak diajak belajar langsung bagaimana menanam, merawat, hingga memanen sayuran yang tumbuh di lingkungan mereka.
"Kalau misalnya kita sudah mau panen, ada PAUD yang pengen ke sini, yaudah kita bawa mereka ke sini, kita ajarkan gini lho cara kita panen. Misal mau menanam, kita kasih polybag, kita kasih bibit," kata Sukarni.
Keberadaan kebun yang semakin berkembang itu tidak hanya dirasakan oleh para pengurus. Warga sekitar juga ikut menikmati hasilnya, baik melalui pembagian hasil panen maupun berbagai aktivitas yang rutin digelar di lokasi tersebut.
"Lumayanlah, apalagi buat warga RW ya, ada panen-panen gitu bagi-bagi ke warga. Ada juga yang dijual. Hasil panen-panen, ada ikan lele, sayuran," ujar warga setempat, Erwin.
Menurut dia, Taman Urban Farming Dahlia kini menjadi salah satu pusat kegiatan warga di lingkungan RW 07. Beragam pelatihan dan aktivitas komunitas kerap digelar di lokasi tersebut sehingga membuat kebun semakin hidup.
"Sering ada kegiatan di sini. Ada pelatihan juga dari pihak BRI, kerja sama dengan pihak BRI juga. Adalah kegiatan aktif banget," katanya.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan lingkungan melalui program urban farming.
Menurut dia, hasil kegiatan urban farming tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok tani, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.
"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi," ujar Dhanny.
Dia menambahkan, program BRInita diharapkan mampu mengurangi polusi, menambah ruang hijau perkotaan, sekaligus mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs).
"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucapnya.
Editor: Rizky Agustian
BRI Dukung Taman Dahlia Jadi Ruang Hijau di Pusat Kota, Perekat Kebersamaan Warga
Taman Urban Farming Dahlia di Cempaka Putih bertransformasi dari lahan sampah menjadi ruang hijau berkat gotong royong warga dan dukungan BRI Peduli. - Bagian all [714] url asal
JAKARTA, iNews.id - Sulit membayangkan lahan hijau yang kini dipenuhi sayuran, tanaman obat keluarga, kolam ikan, hingga gazebo di RW 07 Kelurahan Cempaka Putih Barat, Kecamatan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, dulunya merupakan lahan terbengkalai. Area itu semula dipenuhi puing dan sampah.
Di atas lahan seluas sekitar 300 meter persegi itu, warga kini menanam berbagai jenis sayuran dan memanfaatkan kawasan tersebut sebagai ruang berkumpul. Namun sebelum menjadi Taman Urban Farming Dahlia seperti sekarang, kawasan tersebut sempat menjadi lokasi pembuangan sampah hingga tempat berjualan kambing.
"Jadi ini tadinya tahu sendiri ya, namanya warga di lingkungan, terkadang enggak boleh lihat lahan kosong mereka buang puing segala macam. Terkadang jadi tempat jual kambing. Kebetulan rumah saya persis di sebelah kebun, jadi agak bau," kata Pengurus Taman Urban Farming Dahlia, Sukarni saat ditemui iNews.id pada Senin (22/6/2026).
Berangkat dari keresahan itu, Sukarni bersama ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) RW 07 mulai menanam berbagai tanaman sederhana pada awal 2010-an. Pare dan pohon jeruk nipis menjadi tanaman pertama yang menghijaukan lahan tersebut.
Seiring waktu, semakin banyak warga yang ikut bergotong royong membersihkan area yang sebelumnya dipenuhi puing. Sedikit demi sedikit, lahan kosong itu berubah menjadi kebun yang lebih tertata dan produktif.
Perkembangan Taman Urban Farming Dahlia semakin pesat setelah mendapatkan bantuan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI melalui program BRI Bertani di Kota (BRInita) pada 2022.
Dukungan tersebut menjadi angin segar karena selama bertahun-tahun pengelolaan kebun hanya mengandalkan swadaya warga.
"Terus terang yang namanya swadaya kan berat, kita ngeluarin modal itu lumayan berat. Karena hasilnya kan enggak seberapa," tuturnya.
Melalui program tersebut, BRI membantu berbagai kebutuhan pengembangan kebun mulai dari bibit tanaman hingga fasilitas pendukung seperti gazebo, kolam ikan, pagar, kanopi shelter, bedeng tanaman, pompa air, dan mesin pencacah.
"Kontribusinya dari BRI awal ya bibit dapat, kemudian ini fasilitasnya kayak pagar, bilik kamar mandi semua dapat," ujar Sukarni.
Tak hanya itu, pengurus kebun juga mendapatkan pelatihan terkait budidaya tanaman. "Dulu ada soal bercocok tanam dari BRI. Misalnya cara nanam, cara memelihara tanaman yang benar," katanya.
Meski hasil panen sayuran dan ikan lele kini dapat dijual untuk membantu operasional kebun, Sukarni menilai manfaat terbesar yang dirasakan warga bukanlah soal ekonomi. Menurut dia, Taman Urban Farming Dahlia justru menjadi ruang yang mempererat hubungan antarwarga.
"Kalau dibilang dari mulai kita awal enggak punya apa-apa, dampak positifnya pasti adalah. Saya bilang tadi (warga) guyub nih, rukun, bisa kumpul di sini. Yang tadinya jarang ketemu kan bisa jadi kumpul di sini. Silaturahmi itu yang kita jaga," tutur Sukarni.
Kebersamaan itu terasa saat masa panen tiba. Warga saling membantu, mulai dari memanen hingga mengolah hasil kebun.
"Kalau kita panen lele aja bapak-bapak yang ambilin, bantuin nyuci. Bareng-bareng. Jadi itu satu momen yang belum tentu semua orang bisa ngerasain," kata Sukarni.
Taman Urban Farming Dahlia juga berkembang menjadi sarana edukasi bagi anak-anak. Siswa PAUD kerap diajak belajar mengenal tanaman mulai dari proses menanam hingga memanen.
"Kalau misalnya kita sudah mau panen, ada PAUD yang pengen ke sini, yaudah kita bawa mereka ke sini, kita ajarkan gini lho cara kita panen. Misal mau menanam, kita kasih polybag, kita kasih bibit. Kita kasih tahu ke mereka tuh bahwa ini lho caranya merawat tanaman," tuturnya.
Manfaat keberadaan Taman Urban Farming Dahlia turut dirasakan warga sekitar. Salah seorang warga, Erwin mengatakan hasil panen kerap dibagikan kepada masyarakat.
"Lumayanlah, apalagi buat warga RW ya, ada panen-panen gitu bagi-bagi ke warga. Ada juga yang dijual. Hasil panen-panen, ada ikan lele, sayuran," katanya.
Menurut Erwin, aktivitas di Taman Urban Farming Dahlia membuat lingkungan menjadi lebih hidup.
"Sering ada kegiatan di sini. Ada pelatihan juga dari pihak BRI. Kerja sama dengan pihak BRI juga. Adalah kegiatan. Aktif banget," ujarnya.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan lingkungan melalui program urban farming.
Menurut dia, hasil kegiatan urban farming tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi kelompok tani, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.
"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi," ujar Dhanny.
Dia menambahkan, program BRInita diharapkan mampu mengurangi polusi, menambah ruang hijau perkotaan, sekaligus mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs).
"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucapnya.
Editor: Rizky Agustian
BRI Perkuat Budidaya Lele di Kebun Gangnam, Diolah Jadi Makanan Bergizi Atasi Stunting
BRI Peduli mendukung budidaya lele di Kebun Gangnam, Pegangsaan Dua, Jakarta Utara. Hasil panen dimanfaatkan untuk diolah menjadi makanan bergizi. - Bagian all [657] url asal
JAKARTA, iNews.id - Empat kolam ikan berdiri di salah satu sudut Kebun Pegangsaan Dua Menanam (Gangnam), Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara (Jakut). Airnya memantulkan cahaya matahari yang menembus atap kanopi bantuan BRI Peduli.
Gemercik air sesekali muncul di permukaan yang terlihat sedikit keruh. Puluhan ikan lele dengan panjang sekitar 10 cm terlihat berenang ke sana ke mari seperti anak kecil yang sedang bermain.
Koordinator Lapangan Kelompok Tani Gangnam Yunus Banul mengatakan kolam-kolam tersebut merupakan tempat budidaya lele yang dikembangbiakkan sedari masih bibit. Dia menuturkan bibit-bibit tersebut merupakan hasil pemijahan dari indukan lele yang berada di kolam terpisah.
"Jadi ada indukan, yang ini anakannya. Lagi belajar pemijahan, tadinya kan pembesaran. Ini lagi belajar nih," ujar Yunus saat ditemui iNews.id di Kebun Gangnam pada Kamis (4/6/2026).
Dia menuturkan, lele-lele itu dikembangbiakkan hingga siap panen. Biasanya, panen dilakukan saat lele mencapai ukuran konsumsi.
"Kalau lele biasanya itu (ukuran panen) 20 cm satu bulan, itu satu kilo (kilogram) isinya delapan," ucap Yunus.
Di balik keberhasilan budidaya lele tersebut, Kelompok Tani Gangnam mendapatkan pendampingan dan pelatihan dari BRI melalui program BRI Bertani di Kota (BRInita). Menurut Yunus, pelatihan yang diberikan mencakup seluruh tahapan budidaya lele.
Dia mengaku mendapat pelatihan pembenihan dan budidaya ikan lele dari BRI sebanyak tiga kali. Hasilnya menjadi bekal penting bagi anggota Kelompok Tani Gangnam dalam budidaya perikanan di kawasan perkotaan.
“Itu ada pelatihannya sekitar tiga kali (dari BRI). Jadi dari bibit lele sampai besar dan siap panen diajarkan,” ujar Yunus.
Lurah Pegangsaan Dua, Sarmudi mengatakan hasil budidaya ikan lele oleh Kelompok Tani Gangnam dimanfaatkan untuk membantu pemenuhan gizi balita stunting di kawasan Pegangsaan Dua.
Dia mengungkapkan bibit lele yang digunakan pada tahap awal pengembangan budidaya berasal dari bantuan BRI. Sementara pendanaan program penanganan stunting dilakukan melalui kolaborasi dengan pihak swasta.
Ikan lele yang telah dipanen kemudian diolah menjadi makanan bergizi bekerja sama dengan SMK Negeri 33 Jakarta. Lele kemudian diolah menjadi makanan beku atau frozen food dan dibagikan ke balita-balita stunting.
“Jadi dipanen lelenya dari sini, terus sama SMK 33 diolah. Nanti ada berapa balita stunting di Pegangsaan Dua ini, sasarannya itu balita stunting,” kata Sarmudi.
Menurut dia, lele hasil panen diolah menjadi produk makanan bergizi dengan komposisi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan gizi anak.
“SMK 33 kan mereka ada jurusan tata boga. Jadi mereka takaran gizinya sudah tahu, terus komposisinya sudah paham,” ujarnya.
Sarmudi mengatakan bantuan diberikan secara berkelanjutan kepada balita stunting selama tiga bulan. Makanan olahan lele dibagikan setiap pekan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak-anak penerima manfaat.
Perkembangan kondisi gizi balita penerima bantuan juga dipantau secara berkala oleh puskesmas setempat untuk mengukur efektivitas program.
“Misalkan ada lima balita stunting yang dibantu, ini selama tiga bulan dibantu setiap hari. Nanti makanan olahan lele itu diberikan untuk kebutuhan seminggu, lalu dibagikan lagi minggu berikutnya,” ujar Sarmudi.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan BRI senantiasa mendukung program pemerintah dalam mencegah dan menurunkan angka prevalensi stunting. Dukungan itu demi tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) Nomor 2 yakni Tanpa Kelaparan.
Berbagai kegiatan pun telah dilakukan, meliputi pemberian paket nutrisi bergizi bagi anak stunting, paket makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita, serta penyediaan antropometri kit guna mendukung pengukuran tumbuh kembang anak secara akurat di posyandu dan puskesmas. Setiap satu paket antropometri kit terdiri dari timbangan digital, timbangan bayi, infantometer, stadiometer, dan tensimeter digital.
Keseluruhan program ini juga diperkuat dengan edukasi gizi dan pola asuh bagi orang tua, ibu hamil, serta remaja putri sebagai upaya pencegahan sejak dini. Hal ini menunjukkan program dilaksanakan dengan pendekatan menyeluruh, tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga memperkuat fondasi pencegahan stunting.
“Melalui pelaksanaan kegiatan ini, pencegahan stunting tidak hanya diposisikan sebagai isu kesehatan semata, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama dalam membangun generasi yang sehat dan berkualitas,” ucap Dhanny.
Dia berharap upaya ini mampu memperkuat peran serta masyarakat dalam mendukung penurunan stunting secara berkelanjutan, sekaligus berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup anak-anak sebagai aset penting bagi pembangunan di masa depan.
Editor: Rizky Agustian
BRInita Perkuat Pengembangan Kebun Gangnam di Jakut, Jadi Ruang Produktif Warga
Kebun Gangnam di Jakarta Utara bertransformasi dari lahan penuh sampah menjadi pusat urban farming dan edukasi berkat dukungan BRInita BRI Peduli. - Bagian all [1,161] url asal
JAKARTA, iNews.id - Hamparan sayuran hijau yang tumbuh subur di Kebun Pegangsaan Dua Menanam (Gangnam), Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, menyimpan cerita panjang. Kebun tersebut merupakan hasil transformasi lahan telantar menjadi ruang produktif yang bermanfaat bagi masyarakat.
Di atas lahan seluas sekitar 1.330 meter persegi itu, tumbuh berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Warga datang untuk membeli hasil panen, belajar bercocok tanam, hingga mengikuti berbagai kegiatan edukasi lingkungan.
Tak hanya itu, kawasan tersebut juga menjadi bagian dari upaya penanganan stunting melalui budidaya lele yang hasilnya diolah menjadi makanan bergizi bagi balita. Padahal, menurut Lurah Pegangsaan Dua Sarmudi, kondisi kawasan tersebut jauh berbeda beberapa tahun lalu. “Dulu lokasi ini semak belukar, banyak bedeng-bedeng liar, banyak puing-puing, banyak sampah. Pokoknya kalau orang lewat sini melihat ke sini matanya sakit,” kata Sarmudi saat ditemui iNews.id pada Kamis (4/6/2026). Transformasi lahan menjadi Kebun Gangnam dimulai pada September 2023 melalui program penataan kawasan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Berbagai instansi teknis dilibatkan untuk mengubah lahan yang semula tidak produktif itu menjadi area pertanian perkotaan atau urban farming. Sarmudi mengatakan prosesnya tidak mudah. Kondisi tanah yang didominasi bebatuan membuat kawasan tersebut harus diratakan terlebih dahulu menggunakan alat berat sebelum ditimbun tanah yang layak untuk budidaya tanaman. “Dulu tanah bawahnya bebatuan, bukan langsung tanah. Jadi diratakan dulu pakai alat berat, baru di atasnya diberikan tanah merah supaya bisa ditanami,” ujarnya. Setelah penataan kawasan selesai, Kelurahan Pegangsaan Dua bersama kelompok tani mulai mengembangkan berbagai komoditas pertanian. Menurut Sarmudi, Kebun Gangnam memiliki sekitar 70 jenis tanaman yang ditanam secara bergantian sesuai musim dan kebutuhan pasar. “Kalau bulan ini terong, bulan berikutnya cabai. Kalau menjelang Ramadan biasanya kita tanam timun suri. Jadi bergantian,” kata Sarmudi. Meski memiliki banyak jenis tanaman, kangkung dan pakcoi menjadi komoditas yang paling rutin dibudidayakan. Kangkung ditanam langsung di lahan tanah, sementara pakcoi dikembangkan melalui sistem hidroponik. “Kangkung hampir setiap bulan kita tanam. Setelah panen tanahnya digemburkan lagi lalu ditanam kembali,” ujarnya. Hasil panen Kebun Gangnam bahkan sempat disalurkan ke salah satu rumah makan di kawasan Jakarta Utara. Kangkung dan berbagai jenis sayuran lainnya langsung dikirim ke rumah makan tersebut begitu dipanen. Selain itu, hasil panen juga dinikmati masyarakat sekitar. Setiap Jumat, Kelompok Tani Gangnam menggelar program Jumat Berkah yang memungkinkan warga membawa pulang sayuran secara gratis. “Kalau hari Jumat warga yang datang olahraga atau berkunjung boleh ambil sayuran gratis,” ujarnya. Sementara pada hari biasa, warga dapat membeli hasil panen langsung dari kebun. Bahkan pengunjung diperbolehkan memetik sendiri sayuran yang ingin dibeli sebelum ditimbang dan dibayar secara non-tunai menggunakan mesin EDC BRI. “Kalau ada yang mau beli silakan petik sendiri. Setelah itu ditimbang dan bisa bayar non-cash,” katanya. Perkembangan Kebun Gangnam semakin pesat setelah mendapat dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli, yakni BRI Bertani di Kota (BRInita). Menurut Sarmudi, bantuan tersebut tidak hanya berupa sarana dan prasarana, tetapi juga peningkatan kapasitas bagi para pengelola kebun. “Pernah ada pelatihan dari BRI terkait cara menanam, memelihara tanaman, sampai bagaimana menjaga kesuburan tanah setelah panen,” ujarnya. Pelatihan tersebut dinilai penting karena produktivitas lahan tidak hanya ditentukan oleh proses tanam dan panen, tetapi juga bagaimana tanah diregenerasi agar tetap subur. “Nah itu juga ada pelatihannya. Jadi tanahnya tidak terus-menerus dipakai tanpa perawatan karena nanti kesuburannya berkurang,” kata Sarmudi. Selain mendukung kegiatan pertanian, kawasan ini juga berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat. Warga maupun anak-anak sekolah yang ingin belajar bercocok tanam dapat mendaftar melalui akun media sosial Kebun Gangnam dan mengikuti kegiatan edukasi secara terjadwal. Di kawasan tersebut juga telah tersedia rumah edukasi yang digunakan sebagai ruang pembelajaran sebelum peserta melakukan praktik langsung di kebun. “Kalau warga atau sekolah mau belajar tentang cara menanam sayuran dan buah-buahan bisa datang ke sini. Bahkan kita kasih bibitnya juga untuk ditanam di rumah,” ujarnya. Sarmudi menilai dukungan BRI memberikan manfaat besar karena membantu memperluas fungsi Kebun Gangnam. Dia mengatakan Kebun Gangnam bukan hanya sebagai tempat produksi pangan, tetapi juga sarana pemberdayaan masyarakat. “Sangat bermanfaat tentunya (dukungan BRI), karena keberadaan Kebun Gangnam ini bisa memberikan dampak bagi warga sekitar. Di Jakarta lahan sangat terbatas, tapi warga bisa belajar memanfaatkan pekarangan sempit untuk bercocok tanam,” katanya. Manfaat program BRInita juga dirasakan langsung oleh Kelompok Tani Gangnam yang sehari-hari mengelola kawasan tersebut. Koordinator Lapangan Kelompok Tani Gangnam Yunus Banul mengatakan bantuan dari BRI mewujudkan sejumlah fasilitas yang belum dimiliki kelompok tani. Menurut dia, bantuan yang diberikan mencakup rak budidaya tanaman, rumah bibit, dan kandang ayam. “Jadi tadinya kita enggak punya rak melon ini. Memang cita-citanya mau ada dan akhirnya dibantu oleh BRI. Alhamdulillah sekarang sudah dua kali panen,” ujar Yunus kepada iNews.id. Fasilitas tersebut diberikan sekitar tujuh bulan lalu setelah kelompok tani mengajukan proposal pengembangan kepada BRI. Tak hanya bantuan fisik, Kelompok Tani Gangnam juga memperoleh berbagai pelatihan teknis yang mendukung peningkatan produktivitas. “Ada pelatihan budidaya lele, pelatihan ternak ayam, sampai pelatihan melon. Jadi dari pembenihan sampai panen diajarkan,” kata Yunus. Berkat dukungan tersebut, Kelompok Tani Gangnam kini mampu mengembangkan berbagai komoditas pertanian dan perikanan yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Sebagian besar hasil panen dijual kepada warga sekitar dengan harga terjangkau. Kangkung misalnya dijual sekitar Rp15.000 per kilogram, sementara pakcoi sekitar Rp12.000 per kilogram. “Kalau satu ikat biasanya Rp3.000 sampai Rp5.000 tergantung jenis sayurannya,” ujar Yunus. Selain sayuran, Kelompok Tani Gangnam juga mengembangkan melon dan jagung ketan yang cukup diminati masyarakat. “Kalau jagung ketan yang sekarang bahkan sudah dipesan semua sebelum panen,” katanya. Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan. Menurut dia, hasil dari kegiatan urban farming dapat memberikan manfaat bagi anggota kelompok tani maupun masyarakat sekitar. "Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujar Dhanny. Dia menyatakan kegiatan urban farming yang didukung BRI Peduli diharapkan dapat mengurangi polusi sekaligus menambah keasrian lingkungan. Pelaksanaan BRInita juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah, yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. "Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucap Dhanny. Editor: Rizky Agustian

Craftote Tembus Pasar 4 Negara lewat Pemberdayaan BRI, Produk Serat Alam Go Global

BRI KPR Solusi Promo hingga Tenor 20 Tahun dan Bunga Mulai 2,50%, Makin Mudah Miliki Properti Impian

Lewat LinkUMKM BRI, Zdrink Kembangkan Minuman Cokelat Instan Berbahan Kakao Khas Lampung


Dukungan BRInita Perkuat Pengembangan Kebun

Fasilitas dari BRInita Tingkatkan Produktivitas Kelompok Tani

Dukungan BRI Dorong Ketahanan Pangan
Dukungan BRI Bantu KWT Mawar 8 Jaga Mutu Panen, Sayuran Makin Berkualitas
KWT Mawar 8 di Kota Tangerang mengutamakan kualitas sayuran hidroponik untuk warga sekitar. - Bagian all [894] url asal
TANGERANG, iNews.id - Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 8 di RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, berupaya menjaga kualitas hasil panen kebun hidroponik secara maksimal. Mereka memiliki prinsip agar warga sekitar mendapatkan sayuran segar dengan kualitas terbaik.
Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihantini, mengatakan kelompoknya selalu mengutamakan kualitas sayuran yang dipasarkan kepada warga sekitar. Karena tanpa menggunakan pestisida kimia, tanaman harus dipantau setiap hari untuk mengantisipasi serangan hama maupun dampak cuaca.
“Pokoknya gak boleh ada yang jelek dikit. Jadi kita kasih yang terbagus,” kata Yuliana saat ditemui iNews.id, dikutip Sabtu (30/5/2026).

Kualitas Panen Jadi Prioritas Utama
Menurut dia, anggota KWT sering memanen tanaman lebih cepat ketika melihat tanda-tanda serangan hama. Langkah itu dilakukan agar kualitas sayuran tetap terjaga saat sampai ke tangan warga. “Kita panen kalau sekiranya mau ada ulat, panen sekarang. Kita jual walaupun belum maksimal untuk menjaga kualitasnya,” ujarnya. Yuliana mengatakan hasil panen KWT Mawar 8 selama ini diprioritaskan untuk masyarakat sekitar. Sayuran dijual dengan harga terjangkau agar bisa dinikmati lebih banyak warga. “Kalau bisa warga semuanya menikmati sayuran yang ada di sini kualitasnya yang bagus, tanpa obat macam-macam,” katanya. Menurut dia, warga sekitar sudah cukup akrab dengan aktivitas panen KWT Mawar 8. Bahkan tak sedikit yang rutin menunggu informasi panen melalui grup WhatsApp lingkungan. Sayuran yang dipanen antara lain pokcoy, caisim, bayam, seledri, hingga sawi pahit. Harga yang ditawarkan pun relatif murah, berkisar Rp10.000 per kemasan. Jika kualitas hasil panen sedikit menurun akibat faktor cuaca, harga akan disesuaikan. “Yang beli senang sih, sayurannya lebih manis, muda. Harganya paling tinggi Rp10.000 satu pak,” kata Yuliana. Komitmen menjaga kualitas tersebut semakin mudah dilakukan setelah KWT Mawar 8 mendapatkan dukungan fasilitas dari program BRI Peduli Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta BRI Bertani di Kota (BRInita). Bantuan tersebut berupa rumah hidroponik, rumah semai, pendopo, hingga perbaikan area kebun yang sebelumnya rawan banjir. Menurut dia, bantuan dari BRI sangat membantu perkembangan kebun hidroponik yang sebelumnya serba terbatas. Berbagai fasilitas yang diberikan BRI, mulai dari rumah semai, pendopo, hingga perbaikan area kebun, mampu menunjang aktivitas kelompoknya. Bahkan, kata Yuliana, perwakilan BRI secara proaktif mencatat dan memenuhi kebutuhan yang dianggap penting untuk menunjang perkembangan kebun KWT Mawar 8. “Pokoknya butuhnya apa yang menunjang kemajuan ini (KWT Mawar 8), okelah,” katanya. Sementara itu, Sekretaris KWT Mawar 8 Lie Vonny menambahkan kelompoknya lebih memilih menjaga kualitas dibanding mengejar volume produksi. Karena itu, sayuran yang dinilai kurang layak dijual biasanya dibagikan kepada warga. “Ada saatnya kita memberi, ada saatnya jual. Kalau sayur kami tidak layak untuk jual, kami bagi,” ujar Vonny. Menurut dia, kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan terbesar dalam budidaya hidroponik. Curah hujan yang tinggi dapat memengaruhi kualitas tanaman dan memicu munculnya hama. “Kemarin agak kuning karena pengaruh cuaca hujan. Tandon air saya kecampuran air hujan terus, mulai datang hama,” katanya. Meski dibagikan secara gratis, Vonny memastikan sayuran tetap dikemas dengan baik sebelum diberikan kepada warga. “Siapa pun yang lewat kami bagi, tapi tetap kami packaging dengan rapi. Gak mau kami mengurangi kualitas,” ujarnya. “Saya kan jual kualitas, bukan jual kuantitas,” tambahnya. Ketua RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, M Amiruddin menilai keberadaan KWT Mawar 8 memberi manfaat nyata bagi warga sekitar. Hasil panen dari KWT Mawar 8 diprioritaskan untuk kebutuhan warga RW 004. Menurut dia, sayuran dijual dengan harga lebih murah dibanding pasar agar bisa dijangkau masyarakat sekitar. “Hasilnya pun dinikmati juga sama warga, harganya pun harga di bawah pasar,” kata Amiruddin. Dia menilai semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan utama yang membuat KWT Mawar 8 mampu bertahan hingga sekarang. Selain anggota KWT, banyak warga ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing. “Memang kegiatan ini dari kita untuk warga semua, dan itu dirasakan sama warga kita,” ujarnya. Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan. Menurut dia, hasil dari kegiatan urban farming dapat memberikan manfaat bagi anggota KWT maupun masyarakat sekitar. "Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujar Dhanny. Dia menyatakan kegiatan urban farming yang didukung BRI Peduli diharapkan dapat mengurangi polusi lingkungan hingga menambah keasrian lingkungan. Pelaksanaan BRInita juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah, yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. "Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucap Dhanny. Editor: Rizky Agustian
BRI Hadirkan Promo Spesial KKB The Elite, Nasabah Bisa Bawa Pulang Kendaraan Impian dengan Banyak Keuntungan

QRIS BRI Jadi Andalan Warung Asep Layani Pembeli, Tak Perlu Cari Uang Kembalian


KWT Mawar 8 Bersama BRI Beri Manfaat Nyata, Hasil Panen Penuhi Kebutuhan Pangan Warga

Didukung BRI, KWT Mawar 8 Sulap Lahan Semak Belukar di Tangerang Jadi Kebun Hidroponik
Dukungan BRI Bantu Pengembangan Kebun Hidroponik


Hasil Panen Dinikmati Warga Sekitar
BRInita Dukung Ketahanan Pangan Perkotaan
KWT Mawar 8 Bersama BRI Beri Manfaat Nyata, Hasil Panen Penuhi Kebutuhan Pangan Warga
Warga RW 004 Porisgaga Baru, Kota Tangerang merasakan manfaat nyata atas keberadaan KWT Mawar 8. Hasil panen kebun mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. - Bagian all [801] url asal
JAKARTA, iNews.id - Warga RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, merasakan manfaat nyata atas keberadaan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 8. Hasil kebun hidroponik binaan KWT Mawar 8 yang berdiri di atas lahan fasilitas umum (fasum) mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangan masyarakat sekitar.
Ketua RW 004 Porisgaga Baru, M Amiruddin mengatakan manfaat keberadaan KWT Mawar 8 dirasakan warganya sejak awal berdiri. Hasil panen dijual dengan harga terjangkau agar warga bisa mendapatkan sayuran segar dengan harga lebih murah dibanding pasar.
“Ini hasilnya pun dinikmati juga sama warga, harganya pun harga di bawah pasar,” kata Amiruddin saat ditemui iNews.id di Batuceper, Kota Tangerang, dikutip Selasa (26/5/2026).

Didukung BRI, KWT Mawar 8 Sulap Lahan Semak Belukar di Tangerang Jadi Kebun Hidroponik
Tak hanya dijual, sebagian hasil panen juga rutin dibagikan kepada petugas lingkungan. Amiruddin menilai semangat berbagi itu menjadi salah satu nilai plus KWT Mawar 8.
“Memang kegiatan ini dari kita untuk warga semua, dan itu dirasakan sama warga kita,” katanya.

Ditopang KUR BRI, Depot Mirah Bulungan Tetap Eksis Hampir 2 Dekade
Gotong Royong Warga dan Dukungan BRI Perkuat KWT Mawar 8
Amiruddin menjelaskan, setelah kepengurusan RW dibenahi, pihaknya mulai lebih serius mendukung pengembangan KWT Mawar 8. Dukungan diberikan mulai dari tambahan pendanaan hingga pembenahan manajemen kelompok agar lebih tertata.
“Kita support tambahan dana, teman-teman di sini juga aktif semua,” ujarnya.

KUR BRI Dorong Sate Ayam Barokah Mayestik Naik Kelas, dari Trotoar Kini Sewa Ruko

Dia menilai keberhasilan KWT Mawar 8 tidak lepas dari semangat gotong royong warga. Selain anggota kelompok tani, banyak masyarakat ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing.
“Alhamdulillah semua pihak di sini warga yang punya relasi terlibat untuk lingkungan,” katanya.

Kisah Thio Bangun Craftote, Olah Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor lewat Dukungan BRI
Di tengah proses pengembangan itu, Amiruddin juga berupaya mencari dukungan tambahan agar kebun hidroponik bisa berkembang lebih besar. Salah satunya dengan menjalin komunikasi bersama salah satu warga bernama Budi untuk menghubungkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli ke lingkungan RW 004.
“Kebetulan ada warga kita, Pak Budi, saya dekati beliau, saya bilang, ‘Tolong jangan urus lingkungan orang saja, masukkan ke sini CSR-nya BRI,’” ujarnya.
Permintaan tersebut akhirnya mendapat respons positif. Bantuan dari BRI melalui program BRI Bertani di Kota (BRInita) kemudian diberikan dalam bentuk fasilitas penunjang kebun hidroponik senilai Rp50 juta.
“Bantuan dalam bentuk fasilitas, sekitar Rp50 juta dalam bentuk barang,” kata Amiruddin.

Menurut dia, bantuan itu sangat membantu pengembangan kebun, terutama karena area tersebut sebelumnya rawan banjir. Lahan kemudian ditinggikan menggunakan tanah merah agar tanaman tidak mudah rusak saat hujan turun.
Selain itu, berbagai fasilitas penunjang dari BRI seperti rumah semai, pendopo, hingga area pembibitan juga ikut dibangun untuk mendukung aktivitas anggota KWT.
“Ini tadinya daerah banjir, jadi diuruk semua kemarin mungkin ada 10 truk tanah merah,” ujarnya.
Tak Hanya Panen Sayur, Juga Berbagi ke Warga
Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihantini mengatakan keberadaan fasilitas baru membuat aktivitas menanam menjadi lebih maksimal. Dia mengaku awalnya tidak memiliki pengalaman di bidang pertanian saat mulai mengelola lahan kosong tersebut.
“Hobinya sebenarnya bukan menanam, saya dulu hobinya mengajar,” katanya.

Yuliana bersama sejumlah warga kemudian belajar menanam secara autodidak. Awalnya mereka hanya menanam kangkung dan beberapa jenis sayuran sederhana sebelum akhirnya berkembang menjadi kebun hidroponik.
“Pertama kali kami menanam kangkung dulu, hidroponik ini belum ada,” ujarnya.
Kini KWT Mawar 8 menanam berbagai jenis sayuran seperti caisim, pokcoy, bayam, seledri hingga sawi pahit. Hasil panen tersebut menjadi salah satu sumber pemasukan kelompok sekaligus membantu memenuhi kebutuhan warga sekitar.
Sekretaris KWT Mawar 8, Lie Vonny mengatakan keberadaan rumah hidroponik bantuan BRI membuat kapasitas produksi sayuran meningkat dibanding sebelumnya.
Meski sudah berkembang, Vonny menegaskan KWT Mawar 8 tetap mempertahankan semangat sosial dan kebersamaan antarwarga.
“Kalau panen selalu izin, ‘Bu, boleh gak kami bagi posyandu? Bu, boleh gak kami bagi security?’ jadi kita berbagi,” ujarnya.
BRInita Dorong Ketahanan Pangan
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan. Menurut dia, hasil dari kegiatan urban farming dapat memberikan manfaat bagi anggota KWT maupun masyarakat sekitar.
"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujar Dhanny.
Dia menyatakan kegiatan urban farming yang didukung BRI Peduli diharapkan dapat mengurangi polusi hingga menambah keasrian lingkungan. Pelaksanaan BRInita juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah, yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucap Dhanny.
Editor: Rizky Agustian
Didukung BRI, KWT Mawar 8 Sulap Lahan Semak Belukar di Tangerang Jadi Kebun Hidroponik
Didukung BRI melalui program BRInita, ibu-ibu KWT Mawar 8 di Tangerang berhasil menyulap lahan kosong menjadi kebun hidroponik yang bermanfaat bagi warga. - Bagian all [1,178] url asal
JAKARTA, iNews.id - Di tengah permukiman padat RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, berdiri deretan tanaman hijau yang tertata rapi dalam instalasi hidroponik. Siapa sangka, kawasan yang kini menjadi kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 8 itu dulunya hanyalah lahan semak belukar yang tak terurus.
Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihantini masih mengingat betul bagaimana awal mula dirinya bersama beberapa warga mencoba mengubah lahan fasilitas umum (fasum) tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Dia menyulap lahan tak terpakai itu sebagai lokasi bercocok tanam di lingkungan perkotaan atau urban farming.
“Pada mulanya ini semak belukar ya, tanamannya banyak sekali yang tinggi-tinggi. Benar-benar tidak ada yang ngurus,” kata Yuliana saat ditemui iNews.id, dikutip Kamis (21/5/2026).

KUR BRI Dorong Sate Ayam Barokah Mayestik Naik Kelas, dari Trotoar Kini Sewa Ruko
Dia bersama warga lain bernama Endang berinisiatif mengelola lahan kosong tersebut. Kegiatan itu dimulai sejak pandemi Covid-19 merebak pada 2020-2021. Meski tak memiliki latar belakang pertanian, Yuliana nekat mencoba belajar menanam secara autodidak.
“Hobinya sebenarnya bukan menanam, saya dulu hobinya mengajar,” ujarnya sambil tertawa.

Kisah Thio Bangun Craftote, Olah Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor lewat Dukungan BRI
Yuliana yang sehari-hari mengajar di sekolah kawasan Muara Karang, Jakarta Utara itu mengaku awalnya hanya ingin mengisi waktu dengan kegiatan yang berguna bagi warga sekitar. Dari situ, dia mulai mencoba menanam kangkung, bayam, hingga kundur di lahan kosong tersebut.
Tak disangka, hasil panen saat itu cukup berhasil. Bahkan dia mengaku pernah memanen hingga ratusan kilogram buah kundur.

Hari Pendidikan Nasional, BRI Peduli Gelar Kelas Inspirasi di SDN 104 Langensari Bandung
“Di situ kami sungguh bahagia banget,” ujarnya.
Belajar Hidroponik dari Nol
Yuliana mengatakan, KWT Mawar 8 terbentuk tanpa direncanakan pada awal 2025. Dia mengaku terpilih menjadi ketua karena ditunjuk langsung oleh para anggota KWT.
“Tiba-tiba saya tidak ada A, I, U, E, O, langsung dikasih stempel, 'Ibu jadi ketua,' kaget saya,” katanya.
Yuliana menuturkan, perjalanan KWT Mawar 8 tidak selalu mudah. Setelah mulai berkembang, organisasi yang dinaunginya mendapat bantuan fasilitas hidroponik. Namun, bantuan itu justru sempat membuatnya panik karena belum memahami cara pengelolaannya.
“Lalu dikasihlah hidroponik, waduh tambah pusing saya. Gimana caranya,” ujarnya.

Namun perlahan, Yuliana mulai belajar bersama anggota lain. Dia juga dibantu beberapa warga yang memiliki pengalaman menanam. Kini, kebun hidroponik KWT Mawar 8 sudah menanam berbagai jenis sayuran seperti caisim, pokcoy, bayam, seledri, hingga sawi pahit.
Menurut Yuliana, sosok penting di balik perkembangan kebun tersebut adalah Lie Vonny yang kini menjabat sebagai sekretaris KWT Mawar 8. Dia mengatakan Vonny adalah orang yang paling aktif mengurus hidroponik di kebun tersebut setiap hari.
Yuliana bahkan menyebut Vonny sebagai "maskot" KWT Mawar 8 karena hampir seluruh aktivitas kebun dijalani dengan penuh totalitas.
“Sampai saya masih tertidur jam 5 (pagi), dia sudah di kebun untuk panen,” ujarnya.
Dukungan BRI Bantu Kebun Berkembang
Perkembangan KWT Mawar 8 ternyata menarik perhatian banyak pihak, termasuk BRI. Bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) itu memberikan dukungan melalui program BRI Peduli Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta BRI Bertani di Kota (BRInita).
Tak hanya berupa pendampingan, Yuliana dan anggota KWT Mawar 8 juga menerima berbagai fasilitas penunjang untuk memperbesar kapasitas kebun.
“Ternyata luar biasa sekali, sampai Bank BRI melirik kami,” kata Yuliana.

Menurut dia, bantuan dari BRI sangat membantu perkembangan kebun hidroponik yang sebelumnya serba terbatas. Berbagai fasilitas yang diberikan BRI mulai dari rumah semai, pendopo, hingga perbaikan area kebun mampu menunjang aktivitas kelompoknya.
“(Bantuan untuk) kami dari BRI, tanah merah, lalu ini kita diperbaiki (pendopo) yang tadinya sudah mau roboh, lalu ada penambahan (rumah semai), jadinya tambah banyak,” ujarnya.
Bahkan, kata Yuliana, perwakilan BRI secara proaktif mencatat dan memenuhi kebutuhan yang dianggap penting untuk menunjang perkembangan kebun olahan KWT Mawar 8.
“Pokoknya butuhnya apa yang menunjang kemajuan ini, okelah,” katanya.
Hasil Panen untuk Warga
Meski sudah berkembang, KWT Mawar 8 tetap memprioritaskan warga sekitar sebagai penerima manfaat utama. Hasil panen dijual dengan harga terjangkau dan sebagian juga dibagikan kepada warga maupun petugas lingkungan.
“Kalau panen selalu izin, ‘Bu, boleh gak kami bagi posyandu? Bu, boleh gak kami bagi security?’ jadi kita berbagi,” kata Yuliana.
Menurutnya, kualitas sayuran juga dijaga dengan serius agar warga mendapat hasil terbaik.

“Cara memberikan sayurannya tidak boleh ada yang kotor, tidak boleh ada ulatnya,” ujarnya.
Sementara itu, Lie Vonny menambahkan KWT Mawar 8 saat ini mampu memperoleh pemasukan sekitar Rp2 juta per bulan dari hasil penjualan sayur. Meski belum besar, hasil tersebut sudah cukup memberi tambahan penghasilan bagi anggota kelompok.
“Awalnya keuangan kami (KWT) zero (nol), bahkan minus,” kata Vonny.
Kini, kelompok tersebut menjadi satu-satunya KWT yang masih aktif bertahan di Kelurahan Porisgaga Baru. Sebab menurut Vonny, banyak kelompok serupa yang akhirnya berhenti di tengah jalan karena sulit menjaga konsistensi.
“Untuk mendirikan suatu KWT itu tidak mudah ya,” katanya.
Menurut dia, mengelola hidroponik membutuhkan ketekunan tinggi karena kegagalan panen bisa datang kapan saja akibat cuaca maupun serangan hama.
“Sudah capek semai ada serangan hama, ada serangan macam-macam, rasa kekecewaan itu pasti ada,” ujarnya.
Meski begitu, Vonny bersama Yuliana dan anggota KWT Mawar 8 lainnya memilih tetap bertahan. Mereka memandang kebun kecil di tengah permukiman itu sebagai ajang untuk berbagi dengan sesama sekaligus menjaga semangat kebersamaan warga.
"Belum sempurna tapi paling tidak menuju kesempurnaan. Pasti bisa dong ya, apalagi kalau banyak yang dukung ya," tutur Vonny.
Datangkan Manfaat bagi Warga Sekitar
Ketua RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, M Amiruddin menilai keberadaan KWT Mawar 8 memberi manfaat nyata bagi warga sekitar. Hasil panen dari KWT Mawar 8 memang diprioritaskan untuk kebutuhan warga RW 004.
Menurut dia, sayuran dijual dengan harga lebih murah dibanding pasar agar bisa dijangkau masyarakat sekitar.
“Hasilnya pun dinikmati juga sama warga, harganya pun harga di bawah pasar,” kata Amiruddin.
Dia menilai semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan utama yang membuat KWT Mawar 8 mampu bertahan hingga sekarang. Selain anggota KWT, banyak warga ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing.
“Memang kegiatan ini dari kita untuk warga semua, dan itu dirasakan sama warga kita,” ujarnya.
BRInita Dorong Ketahanan Pangan
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan. Menurut dia, hasil dari kegiatan urban farming dapat memberikan manfaat bagi anggota KWT maupun masyarakat sekitar.
"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujar Dhanny.
Dia menyatakan kegiatan urban farming yang didukung BRI Peduli diharapkan dapat mengurangi polusi lingkungan hingga menambah keasrian lingkungan. Pelaksanaan BRInita juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucap Dhanny.
Editor: Rizky Agustian
KWT Buaran Citra Lestari, Perempuan Berdaya Lewat Program BRInita
Urban farming oleh kelompok tani Buaran Citra Lestari mengubah lahan tidur menjadi produktif, mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. [763] url asal
#brinita #pemberdayaan-perempuan #bri #bbri #bri-peduli #pemerintah-daerah #citra-lestari #maggot-bsf #kelompok-wanita-tani-kwt-buaran-citra-lestari #teh-bunga-telang #jakarta-timur #indonesia
(CNN Indonesia - Ekonomi) 16/04/26 14:57
v/193388/
Urban farming menjadi salah satu solusi nyata mendukung ketahanan pangan masyarakat kota di tengah padatnya kawasan perkotaan. Urban farming memanfaatkan lahan terbengkalai menjadi ruang hijau produktif.
Semangat itu dijalankan kelompok tani Buaran Citra Lestari yang beranggotakan warga RT 09/RW 13 Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. Lahan tidur milik Pemerintah Daerah seluas sekitar 1.500 meter persegi yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, kini disulap menjadi area pertanian urban berbasis hidroponik.
Tak hanya menghadirkan ruang hijau di tengah kota, kawasan ini juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.
Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Buaran Citra Lestari, Lydwina atau yang akrab disapa Ina, menceritakan keberadaan urban farming ini bermula dari inisiatif lingkungan sekitar yang ingin memanfaatkan lahan kosong agar lebih produktif.
"Pada saat itu urban farming di kota sedang ramai. Akhirnya, di tahun 2021 mulai dibangun secara bertahap fasilitas yang terkait. Pertama kita bikin kolam ikan dulu, ada yang bioflok, ada yang konvensional. Lalu ada ruang hidroponiknya juga, hingga akhirnya diresmikan pada Desember 2022," ucap Ina.
Karena luasnya area yang dikelola, warga kemudian membentuk beberapa kelompok tani. Salah satunya adalah kelompok Buaran Citra Lestari yang kini aktif mengelola berbagai aktivitas pertanian di lahan tersebut.
Seiring waktu, urban farming Buaran Citra Lestari terus berkembang. Beragam komoditas kini dibudidayakan, mulai dari sayuran seperti bayam, pakcoy, kangkung, tomat, seledri, kacang panjang, hingga cabai rawit. Selain itu, kelompok ini juga membudidayakan ikan lele dan nila dengan sistem bioflok.
Tak berhenti pada hasil panen segar, kelompok ini juga mengembangkan produk turunan dari hasil pertanian mereka. Salah satu yang cukup dikenal adalah teh bunga telang yang diolah langsung oleh para anggota kelompok.
Seluruh hasil panen maupun produk olahan dipasarkan kepada warga sekitar. Keuntungan yang diperoleh kemudian digunakan kembali untuk mendukung operasional dan pengembangan urban farming tersebut.
Perkembangan urban farming Buaran Citra Lestari semakin terasa sejak mendapat dukungan dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan BRI Peduli dalam program BRInita (BRI Bertani di Kota).
"Tahun 2025 lalu kita mendapatkan dukungan juga dari program BRInita. Jadi kita dapat bantuan greenhouse dan ruang untuk pengelolaan maggot. Selain itu, kami juga mendapatkan pelatihan-pelatihan seperti pelatihan hidroponik, pelatihan pengolahan ikan lele, pelatihan pengolahan makanan dan minuman juga," ujar Ina.
Memasuki 2026, dukungan tersebut terus berlanjut melalui berbagai pelatihan dan penguatan kapasitas kelompok. Di antaranya pelatihan budidaya anggur, pelatihan olahan pascapanen seperti nugget bayam, pelatihan pembuatan kerajinan ecoprint dari daun, hingga pelatihan packaging dan pemasaran produk.
Selain peningkatan keterampilan, program BRInita juga memberikan dukungan sarana dan prasarana. Mulai dari renovasi ruang anggur, pembaruan pintu masuk dan plang kawasan, pemberian benih ikan nila, set benih serta media tanam, hingga kemasan produk untuk hasil pelatihan.
Bagi Ina dan para anggota kelompok, salah satu manfaat terbesar dari program ini adalah keberadaan greenhouse yang membantu meningkatkan kualitas hasil panen. Lebih dari sekadar kegiatan bertani, urban farming ini juga menjadi ruang aktivitas sosial bagi para anggotanya, yang sebagian besar merupakan pensiunan.
"Kalau sisi positif yang benar-benar dirasakan, kebanyakan anggota kita kan pensiunan, jadi bisa menyalurkan hobi. Kita bisa lebih produktif mengisi waktu kosong, hasilnya juga benar-benar bermanfaat. Kita juga lebih sehat karena pagi-pagi sudah melihat yang hijau-hijau dan berkegiatan di lahan," ungkap Ina.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI melalui aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli mengambil bagian dalam mendukung peran perempuan melalui berbagai program pemberdayaan yang secara nyata mampu mendorong kesejahteraan perempuan Indonesia melalui Program BRInita (BRI Bertani di Kota).
Dalam program ini, BRI Peduli menyalurkan bantuan berupa pembangunan infrastruktur fisik seperti rumah tanaman atau greenhouse yang dapat diaplikasikan dalam tiga model urban farming seperti metode vertikultur, metode hidroponik, dan metode wall gardening.
Tidak hanya itu, BRI Peduli juga melakukan pembinaan bagi anggota kelompok berupa pelatihan pengelolaan urban farming dengan menggandeng tenaga ahli/instansi terkait serta melakukan monitoring kegiatan dan pengembangan hasil sehingga mampu menambah nilai ekonomi.
"Program ini diharapkan dapat mendorong kaum perempuan untuk mengambil peran lebih besar tidak hanya di lingkungan keluarga, tetapi juga berkarya di lingkungan sosial dan masyarakat luas sesuai dengan semangat Kartini yaitu semangat untuk terus maju, mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, dan menjadikan perempuan sebagai pusat dari perubahan yang bermakna," ujar Dhanny.
Sejak diluncurkan pada 2022, program BRInita telah memberdayakan 40 kelompok di 40 titik ruang terbuka hijau dan melibatkan 1.351 jiwa. Program ini secara nyata berkontribusi 47% dalam peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya perempuan.
Selain itu, program ini juga telah berkontribusi bagi lingkungan dengan menghasilkan 25.828 tanaman sayuran, 12.120 liter pupuk organik cair, 2.315 liter enzim ramah lingkungan, 70 produk olahan pupuk, 100 kg maggot BSF, dan 645,7 kg CO2-eq yang berkontribusi bagi efisiensi emisi gas rumah kaca dari penanaman sayuran hidroponik.
BRI Raih Dua Penghargaan CSR Internasional, Komitmen Berdayakan Rakyat
BRI raih dua penghargaan internasional untuk program keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat yang mendukung pembangunan sosial-ekonomi. [395] url asal
#bri #csr #penghargaan-internasional #program-brinita #desa-brilian #bank-rakyat-indonesia #dhanny #cita #london #farming #pemerintah #the-grand-hotel-taipei #asta #taiwan #international-csr-excell
(CNN Indonesia - Ekonomi) 28/11/25 12:32
v/53664/
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali memperoleh pengakuan global atas pelaksanaan program keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Pada 2025, BRI meraih dua penghargaan internasional, yakni Global Corporate Sustainability Awards (GCSA) dan International CSR Excellence Awards, yang menilai efektivitas kontribusi sosial, lingkungan, dan ekonomi perusahaan.
Pada ajang GCSA 2025 yang diselenggarakan di The Grand Hotel Taipei, Taiwan, Selasa (26/11), BRI meraih kategori Excellence untuk dua program, yaitu BRInita (BRI Bertani di Kota) dan Desa BRILiaN. Penghargaan ini diberikan kepada organisasi yang dinilai mampu menjalankan inisiatif keberlanjutan dengan dampak yang terukur dan berkelanjutan.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyampaikan bahwa pengakuan internasional tersebut memperlihatkan peran BRI dalam pembangunan sosial-ekonomi Indonesia, selain menjalankan fungsi bisnis perbankan.
"Penghargaan ini menunjukkan bahwa BRI tidak hanya fokus pada bisnis perbankan semata, tetapi juga secara nyata mendukung pembangunan sosial-ekonomi berbasis komunitas melalui program-program pemberdayaan seperti urban farming (BRINita) dan pengembangan desa/UMKM (Desa BRILiaN)," ujar Dhanny.
Sebagai informasi, Program BRInita merupakan kegiatan urban farming yang memanfaatkan ruang terbatas di kawasan perkotaan, seperti halaman sempit, gang, hingga atap rumah. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan literasi lingkungan, serta membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat, terutama kelompok perempuan.
Adapun Desa BRILiaN merupakan program inkubasi desa yang bertujuan memperkuat kemandirian desa melalui pendampingan intensif. Melalui program ini, BRI mendukung pengembangan potensi lokal, UMKM, serta pemanfaatan layanan keuangan dan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas ekonomi desa.
Selain capaian tersebut, BRI juga memperoleh penghargaan pada International CSR Excellence Awards 2025 yang digelar di St Paul's Cathedral, London, pada 30 Juni 2025. BRI meraih Gold Category untuk program Ini Sekolahku, BRInita, dan AURA (Aspire to Uplift, Revive and Achieve). Sementara itu, Silver Category diberikan untuk program Cegah Stunting Itu Penting dan Klaster Unggulan.
Penilaian pada ajang ini mencakup aspek efektivitas, inovasi, kesinambungan, serta dampak sosial dan lingkungan dari program-program yang berada di bawah payung BRI Peduli, sebagai bagian dari pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan.
Dhanny menambahkan, program seperti BRInita dan Desa BRILiaN berkontribusi pada isu strategis, mulai dari ketahanan pangan perkotaan, pemberdayaan perempuan, inklusi keuangan, hingga penguatan ekonomi desa. Program-program tersebut juga berkaitan dengan upaya pemerintah dalam mencapai target pembangunan nasional (Asta Cita).
"Berbagai penghargaan internasional yang diterima BRI menjadi bukti bahwa pendekatan perusahaan terhadap keberlanjutan, baik dari sisi sosial, lingkungan, maupun ekonomi telah diakui dunia sebagai model yang inovatif, berdampak dan dapat direplikasi," pungkas dia.
BRI Peduli Gelar Panen Raya BRInita di Hari Pangan Sedunia
PT BRI meluncurkan Program BRInita untuk memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming, Kegiatan ini mendukung keberlanjutan dan edukasi masyarakat. [674] url asal
#bri #bbri #bri-peduli #urban-farming #hari-pangan-sedunia #kebun-agro-wisata-kampung-berkebun-pajajaran #jawa-barat #bandung #panen-raya-brinita #sustainable-development-goals #pemerintah #hari-pa
(CNN Indonesia - Ekonomi) 20/10/25 11:47
v/9401/
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus menggencarkan upaya memperkuat ketahanan pangan di wilayah perkotaan melalui Program BRInita (BRI Bertani di Kota). Program ini memanfaatkan lahan sempit di kawasan padat pemukiman untuk kegiatan pertanian warga sebagai bagian dari konsep urban farming.
Urban farming dinilai menjadi inovasi penting dalam mengoptimalkan lahan tidak terpakai di perkotaan. Dengan memanfaatkan ruang terbatas, masyarakat dapat bertani dan berkebun sekaligus berkontribusi menjaga ketersediaan pangan.
Sebagai payung program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), BRI Peduli menegaskan kembali komitmennya mendorong perbaikan ekosistem lingkungan dan ketahanan pangan melalui BRInita.
Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2025, BRI Peduli melaksanakan kegiatan Panen Raya BRInita yang dilaksanakan di Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran, Bandung, Jawa Barat.
Kegiatan ini melibatkan Kelompok Karang Taruna, anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta warga masyarakat setempat.
Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran merupakan salah satu lokasi penyaluran program BRInita dari BRI Peduli.
Tidak hanya penyaluran bantuan infrastruktur berupa rumah tanaman (green house) dan bibit tanaman urban farming, BRI juga memberikan pelatihan pemberdayaan masyarakat agar bisa mengelola lahan urban farming-nya sendiri.
Berbagai macam aktivitas dilaksanakan dalam kegiatan Panen Raya BRInita antara lain kegiatan sosialisasi program BRInita yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya bercocok tanam dan menfaatkan lahan di sekitar.
Selain itu terdapat juga kegiatan edukasi budidaya buah-buahan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam membudidayakan buah-buahan secara tepat, agar mampu menghasilkan produk pertanian yang berkualitas, bernilai gizi, dan bernilai ekonomi.
Tidak luput juga dilakukan kegiatan Panen Raya yang tidak hanya untuk merayakan keberhasilan hasil pertanian masyarakat, tetapi juga untuk mempererat kebersamaan, menumbuhkan semangat gotong royong, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ketahanan pangan lokal.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan bahwa peringatan Hari Raya Pangan Sedunia tidak hanya menjadi momentum bagi BRI untuk terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya inovasi dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, terutama di tengah laju pertumbuhan kota yang pesat.
"Melalui kegiatan ini, masyarakat ikut langsung panen sehingga merasa memiliki hasilnya. Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi," ujarnya.
Kegiatan urban farming yang diinisiasi oleh BRI Peduli ini juga diharapkan dapat mereduksi polusi lingkungan, menambah keasrian, serta mengurangi sampah rumah tangga. Di sisi lain, sekaligus menjadi perwujudan kontribusi positif masyarakat bagi keseimbangan lingkungan.
Dhanny juga menegaskan bahwa urban farming diharapkan dapat menjadi pilar penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan. Pelaksanakan BRInita ini juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
"Di Hari Pangan Sedunia 2025 ini, mari kita dukung dan kembangkan urban farming sebagai bagian dari solusi modern menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim. Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," imbuhnya.
Di lain pihak, Ketua Kelompok Wanita (KWT) Buruan Sae Pajajarah Hegar, Neni mengungkapkan bahwa Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran merupakan salah satu wadah urban farming yang dimanfaatkan oleh anggota kelompok untuk kegiatan positif sekaligus sebagai sebagai solusi ketersedian pangan bagi anggota kelompok.
"Tadinya kami tidak punya lokasi untuk menaman, sekarang sudah ada wadahnya. Kami sangat gembira tentunya, bisa menikmati hasil panen bersama", ungkapnya.
Sebagai informasi, sejak diluncurkan pada 2022, program BRINita telah dilaksanakan di 31 titik dan telah memberikan manfaat bagi 1.160 jiwa. Program ini juga telah berkontribusi bagi 86,48% Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara umum serta 20,16% IPM Perempuan.
Selain itu, program ini juga secara nyata telah menghasilkan 9.544,33 Kg tanaman sayuran hasil panen, 112 tanaman obat-obatan keluarga (Toga) dan berkontribusi 11,27% terhadap penurunan stunting.
Program ini juga telah berkontribusi bagi lingkungan dengan menghasilkan 3.982 kg pupuk organik cair, 2.218 liter eco enzim, 64 produk olahan pupuk, 80 kg maggot BSF dan 238,61 kg C02-eq yang berkontribusi bagi efisiensi emisi gas rumah kaca dari penanaman sayuran hidroponik.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56