Bisnis.com, JAKARTA — Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit pada Mei 2026 sebesar US$1,61 miliar. Dengan realisasi tersebut, Indonesia mengakhiri tren surplus perdagangan yang tercatat sejak Mei 2020.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan Indonesia mencatatkan ekspor Mei 2026 mencapai US$23,20 miliar atau turun 5,73% jika dibandingkan Mei 2025 (year on year/YoY).
Nilai ekspor migas tercatat sebesar US$0,76 miliar atau turun 31,76%, sedangkan nilai ekspor nonmigas turun 4,50% dengan nilai pada Mei 2026 sebesar US$22,45 miliar.
Ateng menyebut penurunan nilai ekspor Mei 2026 terutama didorong oleh ekspor nonmigas dari beberapa komoditas yaitu logam mulia/perhiasan (HS71) turun 59,35%, biji logam/perak (HS26) turun 99,25%, besi/baja (HS72) turun 14,68%.
Adapun, nilai impor Mei 2026 mencapai US$24,81 miliar atau naik 22,16% dibandingkan Mei 2025 (year on year/yoy). Nilai impor migas Mei 2026 mencapai US$4,51 miliar atau naik 70,78% secara yoy, sedangkan nilai impor nonmigas Mei 2026 mencapai US$20,30 miliar atau naik 14,89% secara yoy.
Ateng menyebut peningkatan impor Mei 2026 ini didorong oleh impor nonmigas dengan andil 12,95%.
"Pada Mei 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar. Defisit pada bulan Mei 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas, defisitnya sebesar US$7,63 miliar dengan penyumbang defisitnya yaitu dari hasil minyak dan minyak mentah," kata Ateng pada Senin (4/5/2026).
Lebih lanjut, Ateng mengatakan pada saat yang sama neraca perdagangan komoditas nonmigas tercatat surplus US$2,15 miliar dengan komoditas penyumbang surplus utama bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewani nabati, serta besi dan baja.
Sebelumnya, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Sumual memperkirakan neraca perdagangan RI akan mencatatkan defisit, sekaligus mengakhiri rekor surplus 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Berdasarkan data performa neraca dagang beberapa bulan sebelumnya, tren penyempitan surplus diketahui terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Pada April 2026, neraca dagang kembali mencatatkan surplus ke-72 kalinya secara beruntun. Namun, nilainya mengecil bahkan sampai enam tahun terakhir yaitu US$89,1 juta.
David memprakirakan neraca dagang mencatatkan defisit sebesar US$1,04 miliar. Hal ini tidak lepas dari efek penurunan ekspor maupun impor secara bulanan karena hari kerja Mei yang lebih sedikit dari April 2026.
David mencatat bahwa harga komoditas ekspor unggulan Indonesia naik seperti batu bara dan logam, sedangkan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) stagnan. Namun demikian, ekspor diprakirakan cenderung turun lebih dalam dibandingkan impor.
"Namun, indikasi awal dari data negara-negara lain yang menjadi importir utama produk-produk Indonesia, ekspor cenderung turun lebih dalam dibandingkan impor, terutama untuk ekspor ke Malaysia, Thailand, dan China," jelas David kepada Bisnis, Selasa (30/6/2026).
Dia memproyeksikan ekspor pada dua bulan lalu turun baik secara bulanan maupun tahunan yakni 15,44% (MoM) dan 13,07% (YoY). Sementara itu, impor secara tahunan naik 10,50% (YoY) meski turun 10,98% (MoM).
Berbeda dengan David, Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Myrdal Gunarto memproyeksikan neraca dagang Indonesia masih akan membukukan surplus, bahkan meningkat pesat dari bulan sebelumnya ke US$2,19 miliar.
Di sisi lain, Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk. Hosianna Evalita Situmorang memproyeksikan kenaikan surplus yang lebih moderat dibandingkan April 2026, yakni ke US$738 juta atau US$0,74 miliar.
"Kondisi ini menunjukkan resiliensi eksternal yang kuat, di mana performa volume ekspor mampu meredam dampak melambatnya pertumbuhan ekspor ke level 20,54% (YoY) akibat mulainya tren normalisasi atau koreksi harga komoditas unggulan seperti CPO dan batubara di pasar global. Sementara kenaikan impor diperkirakan mencapai 34,91% (YoY)," terangnya kepada Bisnis.