Bisnis.com, PADANG - Pemerintah Kota Padang, Sumatra Barat, mencatat hujan yang turun dengan intensitas tinggi sejak Sabtu (22/11) lalu telah menyebabkan dampak yang cukup buruk, baik itu dari infrastruktur maupun bangunan rumah warga.
Kalaksa BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton mengatakan curah hujan yang cukup tinggi sejak beberapa hari ini mengakibatkan banjir di sejumlah tempat di Kota Padang, dan terdapat 27.433 warga yang terdampak.
“Kecamatan Koto Tangah yang terparah, di sana ada 20.983 warga yang terdampak banjir,” katanya, Rabu (26/11/2025).
Dia menyampaikan selain di Kecamatan Koto Tangah yang cukup banyak masyarakat terdampak, BPBD juga mencatat di Kecamatan Nanggalo terdapat 2.232 warga yang juga ikut terdampak. Termasuk di Kecamatan Padang Utara sebanyak 1.486 warga.
Kemudian daerah lain yang ikut terdampak banjir, yakni Lubuk Begalung sebanyak 893 jiwa, di Kecamatan Pauh sebanyak 741 jiwa, serta di Kecamatan Kuranji sebanyak 601 jiwa.
Selanjutnya warga terdampak juga terdapat di Padang Barat sebanyak 321 jiwa. Di Kecamatan Padang Timur sebanyak 150 jiwa, dan di Bungus Teluk Kabung sebanyak 26 jiwa.
“Jadi korban terdampak banjir ada di sembilan kecamatan di Kota Padang,” ungkap Hendri.
Dikatakannya, akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Kota Padang dan sekitarnya ini, sejumlah infrastruktur dan rumah warga menjadi rusak. Tercatat, dua rumah hanyut, 61 rumah rusak sedang, 17 rumah rusak ringan, satu unit rumah ibadah rusak ringan, dua lokasi jalan longsor, serta dua petak sawah rusak berat.
"Data tersebut masih bersifat sementara, dan kami akan terus update data terkait kondisi terkini banjir, longsor dan bencana lain di Kota Padang," tutupnya.
Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Sumbar agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi pada 21 hingga 27 November 2025.
Peringatan ini tidak muncul tiba-tiba, melainkan karena dinamika atmosfer yang menunjukkan penguatan signifikan Monsun Asia, membawa massa udara lembab dari Samudra Hindia menuju wilayah barat Indonesia.
Dalam siaran pers resminya, BMKG menjelaskan bahwa periode 21–27 November berada di bawah pengaruh sejumlah fenomena atmosfer yang saling memperkuat.
Selain Monsun Asia, terdapat kondisi IOD negatif yang meningkatkan curah hujan di Indonesia bagian barat, aktivitas gelombang Rossby Ekuatorial, serta anomali suhu muka laut yang memicu pertumbuhan awan konvektif. Ketika massa udara lembab tersebut bergerak dan bertemu dengan topografi Bukit Barisan, terjadi proses pengangkatan udara atau orographic lifting which menyebabkan awan hujan terbentuk dalam jumlah besar.
Peningkatan awan hujan inilah yang membuat peluang terjadinya cuaca ekstrem meningkat, terutama di wilayah pesisir dan perbukitan. BMKG menyebut sedikitnya 13 daerah di Sumbar perlu meningkatkan kewaspadaan, yakni Padang Pariaman, Pariaman, Padang, Pesisir Selatan, Sijunjung, Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Solok, Dharmasraya, Solok Selatan, dan Lima Puluh Kota.
BMKG menyampaikan semua daerah ini berada pada lintasan angin baratan yang kaya uap air, sehingga rawan banjir, longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang maupun petir.