Khalida Safira, seorang Gen Z, sukses mengubah hobi memasak menjadi bisnis dessert "Meals by Fira" yang populer di media sosial, dengan omzet hingga Rp25 juta per bulan. [772] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Hobi yang selama ini hanya dijalankan sebagai kegiatan pengisi waktu luang sejatinya bisa berkembang menjadi sumber penghasilan.
Dengan dukungan media sosial dan perubahan pola konsumsi masyarakat, berbagai aktivitas kreatif dapat diolah menjadi peluang bisnis yang menjanjikan.
Salah satu yang dapat menangkap peluang ini adalah Khalida Safira. Gen Z berusia 27 tahun ini sukses mengubah kesukaannya membuat kue menjadi bisnis yang kini dikenal dengan berbagai produk dessert bercita rasa rumahan namun dikemas secara kreatif.
Perjalanan bisnisnya bermula dari situasi yang tidak direncanakan. Fira, panggilannya, sejatinya tidak memiliki latar belakang pendidikan kuliner. Saat kuliah, ia justru mengambil jurusan teknik setelah mengikuti saran orang tua agar memiliki prospek kerja yang dianggap lebih pasti.
Kendati demikian, usai lulus, pandemi Covid-19 ternyata membuat situasi pencarian kerja menjadi jauh lebih sulit. Sebagai lulusan pandemi Covid-19 yang menunggu panggilan kerja, Fira mencoba mengisi waktu luang dengan hobi memasaknya.
Seiring itu, ia melihat peluang di tengah gencarnya penjualan online. Memanfaatkan kesempatan dari hobi, Fira tertarik dengan mencoba menjual salmon mentai yang kala itu tengah populer di kalangan konsumen muda. Bahkan ia sempat mengikuti kelas memasak untuk mempelajari resep tersebut sebelum mulai menjualnya secara daring melalui media sosial.
Respons dari teman-temannya cukup positif. Pesanan pun mulai berdatangan setelah Fira mengunggah salmon mentai buatannya di Instagram.
Melihat permintaan yang meningkat, Fira kemudian mencoba memperluas kanal penjualan dengan memanfaatkan layanan pesan-antar makanan.
“Dari situ jadi rame, jadinya nggak ke-handle. Jadi itu awal, dulunya itu aku jual salmon mentai,” ujarnya saat berbincang dengan Bisnis, beberapa waktu lalu.
Meski sempat menikmati lonjakan pesanan, Fira menyadari bahwa tren kuliner bisa berubah cepat. Setelah sekitar satu tahun, minat terhadap salmon mentai mulai menurun. Ia pun kembali mencari produk baru yang memiliki potensi pasar.
Pilihan akhirnya jatuh pada chiffon cake, jenis kue yang saat itu mulai banyak diminati. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini, Fira belajar secara otodidak melalui berbagai tutorial di internet, mengingat biaya les baking yang cukup mahal.
Prosesnya tidak selalu mulus. Ia harus melalui berbagai percobaan resep sebelum mendapatkan formula yang menurutnya layak dijual. “Banyak trial and error sampai aku percaya diri untuk desain konsepnya, baru aku coba jualan,” sebut Fira.
Produk chiffon cake dalam balutan merek “Meals by Fira” tersebut kemudian dipromosikan melalui media sosial, terutama melalui konten video yang menampilkan aktivitas kesehariannya dalam menjalankan usaha. Konten sederhana seperti proses membuat kue, mengemas pesanan, hingga keseharian di dapur justru menarik perhatian warganet.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Kontennya sempat viral dan mendongkrak pesanan chiffon cake dalam jumlah besar.
Dalam mengembangkan produk, Fira mengaku selalu memperhatikan tren kuliner yang sedang berkembang. Setelah chiffon cake mulai jenuh di pasar, ia kemudian memperkenalkan produk lain seperti kue ulang tahun mini bergaya Korea hingga madeleine berbentuk teddy bear yang saat ini sedang ia kembangkan.
Produk-produk tersebut biasanya menjadi favorit saat periode tertentu seperti Natal, Imlek, atau Lebaran.
Salah satu strategi utama Fira adalah menciptakan produk yang menarik secara visual. Dia banyak mengambil inspirasi desain dari berbagai platform digital, kemudian mengembangkannya menjadi konsep baru.
Kue-kue yang dia buat dikenal dengan tampilan yang imut dan warna-warni. Menurutnya, visual yang menarik dapat menjadi faktor penting dalam menarik perhatian konsumen, terutama di media sosial.
Selain produk, dia juga memperhatikan aspek kemasan. Baginya, pengalaman pelanggan tidak hanya berhenti pada rasa, tetapi juga bagaimana produk tersebut terlihat saat diterima.
“Jadi, dari makanan yang lucu, nah branding-nya pun packaging-nya juga harus lucu. Orang-orang jadi lebih tertarik gitu,” sebutnya.
Dari sisi bisnis, dari modal Fira menyebut omzet bulanannya pada kondisi normal berada di kisaran Rp8 juta hingga Rp10 juta. Namun saat memasuki periode permintaan tinggi, omzet tersebut bisa meningkat hingga sekitar Rp20 juta hingga Rp25 juta.
Omzet yang diterimanya kini terbilang sudah menutupi modal awal pengembangan bisnis sekitar Rp80 juta, yang di dalamnya termasuk menyewa studio hingga membeli peralatan memasak yang lengkap.
Meski usahanya sudah berjalan hampir lima tahun, Fira hingga kini masih menjalankan sebagian besar operasional bisnisnya sendiri. Mulai dari menerima pesanan, memproduksi kue, mengemas produk, hingga membuat konten pemasaran.
Dia mengakui bahwa model kerja tersebut memiliki keterbatasan, terutama ketika pesanan meningkat. Namun di sisi lain, Fira merasa lebih percaya diri ketika seluruh proses masih berada dalam kendalinya.
Dalam menghadapi persaingan bisnis kue yang semakin ramai, Fira memilih mengandalkan pendekatan storytelling di media sosial. Ia kerap membagikan cerita di balik proses produksi maupun pengalaman melayani pelanggan.
Pendekatan tersebut menurutnya efektif untuk membangun kedekatan dengan konsumen sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap brand yang ia bangun.
Bagi Fira, menjalankan bisnis berbasis hobi membuatnya lebih menikmati setiap proses yang dijalani. Ia tidak selalu mematok target tinggi setiap saat. Ketika pesanan ramai, ia bersyukur. Namun ketika permintaan menurun, ia menganggapnya sebagai waktu untuk beristirahat atau mengembangkan ide baru.
Jakarta: Di tengah tekanan ekonomi yang terus berubah, semakin banyak perempuan mengambil peran penting dalam menopang keuangan keluarga. Salah satu cara yang banyak ditempuh adalah membangun usaha sendiri dari rumah, sambil tetap menjalankan peran sebagai ibu.
Kini, kemajuan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), membuka peluang lebih luas bagi pelaku UMKM perempuan untuk mengembangkan bisnis.
Tak lagi terbatas pada penjualan offline, mereka bisa menjangkau pasar yang lebih luas dan mengelola usaha secara lebih efisien melalui platform digital.
Kisah ini tercermin dari perjalanan dua pelaku UMKM perempuan, yakni Efa Fauziah dengan usaha Mie Aceh 769 Pijay dan Rohani Sembiring dengan Risoles Mbak Any.
Bangkit dari krisis, usaha Mie Aceh tumbuh pesat
Perjalanan Efa Fauziah tidak dimulai dari kondisi yang mudah. Ia sempat terdampak gempa Pidie Jaya di Aceh pada 2016, yang kemudian diikuti kondisi ekonomi yang sulit. Pada 2019, ia bersama keluarga memutuskan merantau ke Bogor demi memulai hidup baru.
Berbekal keahlian memasak, Efa mulai merintis usaha Mie Aceh dari sebuah ruko kecil bersama suaminya.
“Awalnya kami menjalankan usaha ini hanya berdua saja. Suami memasak dan saya membantu di depan. Semua dikerjakan sendiri tanpa karyawan. Perjalanan usaha kami tidak selalu berjalan mulus. Pada 2020, saya dan keluarga memutuskan pindah ke Jakarta untuk mencari peluang baru. Saat itu, suami kembali memulai dari awal dengan bekerja sebagai juru masak di sebuah warung Aceh di kawasan Pasar Minggu, sebelum akhirnya aktivitas usaha tersebut harus terhenti akibat kebakaran,” cerita Efa dikutip dari keterangan tertulis, Selasa, 31 Maret 2026.
Meski sempat menghadapi berbagai rintangan, Efa tidak menyerah. Ia kembali merintis usaha dari nol hingga akhirnya bisnisnya berkembang pesat.
Sejak bergabung dengan platform digital, penjualannya melonjak drastis. Dari yang awalnya hanya 10-15 porsi per hari, kini meningkat hingga sekitar 150 porsi harian. Bahkan, sekitar 80 persen penjualan berasal dari pesanan online.
Saat ini, usaha Mie Aceh 769 Pijay telah memiliki dua cabang dengan menu andalan seperti Mie Aceh Daging Full dan Mie Aceh Extreme.
Peran AI dalam mengembangkan bisnis
Bagi Efa, teknologi bukan hanya alat jualan, tetapi juga menjadi “asisten bisnis” yang membantu mengambil keputusan.
“Dengan GrabMerchant AI Assistant rasanya seperti punya teman diskusi dalam menjalankan bisnis. Saya bisa bertanya menu mana yang sebaiknya dipromosikan atau kapan waktu terbaik untuk menjalankan promo,” ujarnya.
Melalui fitur berbasis AI tersebut, pelaku usaha bisa membaca tren penjualan, mengetahui menu favorit pelanggan, hingga mendapatkan rekomendasi strategi promosi.
Selain memanfaatkan fitur digital di GrabMerchant, Efa juga aktif di Komunitas SERABI (Sekumpulan Perempuan Bisa) Grab. Lewat komunitas ini, ia tidak hanya belajar dari sesama merchant, tetapi juga berbagi pengalaman tentang pengelolaan usaha, fitur di aplikasi, hingga cara menangani pelanggan.
Bagi Efa, komunitas tersebut menjadi ruang belajar yang memperkuat keyakinannya bahwa pelaku usaha perempuan bisa tumbuh bersama, saling membantu, dan terus beradaptasi di tengah perubahan.
Dari jualan rumahan, kini punya cabang kedua
Cerita serupa juga datang dari Rohani Sembiring atau yang dikenal sebagai Mbak Any. Ia merintis usaha risoles dari rumah kontrakan di Jakarta saat kondisi ekonomi keluarga sedang sulit, terutama di masa pandemi.
Awalnya, ia hanya melayani pesanan kecil melalui sistem pre-order kepada tetangga sekitar. Namun, perlahan usahanya berkembang setelah masuk ke platform digital.
“Kadang ada banyak risoles yang tidak habis terjual. Biasanya saya bagikan ke orang sekitar atau ke masjid,” kenangnya.
Meski begitu, semangatnya tidak padam. “Hal yang membuat saya tetap bertahan itu anak-anak serta dukungan dari suami,” ujarnya.
Kini, setelah sekitar enam tahun, usaha Risoles Mbak Any telah berkembang hingga memiliki cabang kedua dan mempekerjakan karyawan. Bahkan, anaknya juga ikut membantu setelah pulang sekolah.
Perkembangan usaha Mbak Any juga terlihat dari peningkatan jumlah pesanan. Pada momen tertentu seperti Ramadan, pesanan bisa meningkat lebih dari dua kali lipat.
Saat ini, sekitar 90 persen penjualannya berasal dari pesanan online, sementara sisanya dari pembelian langsung di toko. Ia pun mulai memanfaatkan teknologi AI untuk membantu strategi bisnis.
“Sekarang saya seperti punya teman untuk berdiskusi soal bisnis. Kalau penjualan menurun, saya bisa mencari tahu strategi apa yang bisa dilakukan,” kata Mbak Any.
Teknologi jadi kunci UMKM naik kelas
Penggunaan teknologi seperti AI kini menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan UMKM. Melalui fitur seperti GrabMerchant AI Assistant, pelaku usaha dapat memahami data bisnis secara lebih mendalam dan mengambil keputusan yang lebih tepat.
“Teknologi merupakan salah satu kunci untuk membuka potensi tak terbatas bagi UMKM. Kami percaya bahwa dengan merangkul inovasi seperti GrabMerchant AI Assistant, pelaku usaha dapat mengeksplor data dan mengubahnya menjadi strategi nyata, membantu merchant memahami dinamika bisnis dan pengambilan keputusan dengan lebih terukur.” ujar Melinda Savitri, Country Marketing & Communications Head, Grab Indonesia.
(ANN)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56