PT PLN (Persero) menyatakan siap untuk menyuplai listrik guna mendukung industri data center, salah satunya melalui kerja sama strategis dengan PT Starone ... [459] url asal
Pertumbuhan industri data center di Indonesia, khususnya yang berbasis AI, membutuhkan dukungan listrik yang tidak hanya besar secara kapasitas, tetapi juga andal dan stabil
Jakarta (ANTARA) - PT PLN (Persero) menyatakan siap untuk menyuplai listrik guna mendukung industri data center, salah satunya melalui kerja sama strategis dengan PT Starone Mitra Telekomunikasi (BDx Data Centers).
“Pertumbuhan industri data center di Indonesia, khususnya yang berbasis AI, membutuhkan dukungan listrik yang tidak hanya besar secara kapasitas, tetapi juga andal dan stabil,” ujar Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto dalam keterangan resminya yang dikonfirmasi ANTARA dari Jakarta, Selasa.
Kerja sama strategis antara PLN dengan BDx Data Centers mencakup pengembangan infrastruktur kelistrikan berkapasitas total 1,2 gigawatt (GW) untuk kawasan pusat data (data center) berbasis akal imitasi (AI) dan layanan digital di Indonesia.
PLN akan memasok listrik sebesar 788 MVA untuk site CGK4 di Jatiluhur, Jawa Barat pada tahap awal, kemudian dilanjutkan dengan penguatan kapasitas kelistrikan sebesar 60 MVA untuk site CGK3A di Jakarta Selatan dan pengembangan jaringan tegangan tinggi sebesar 385 MVA untuk site CGK5 di Suryacipta, Jawa Barat.
“Kami memahami bahwa kepastian energi adalah jantung dari infrastruktur digital ini. Karena itu, PLN siap memastikan BDx Indonesia dapat berekspansi secara optimal,” ucap Adi.
Penyaluran daya untuk site CGK4 direncanakan dilakukan secara bertahap dalam tiga fase, yakni Tahap I sebesar 2 x 150 MVA, Tahap II meningkat menjadi 2 x 265 MVA, hingga mencapai kapasitas akhir Tahap III sebesar 2 x 380 MVA.
Untuk mendukung keandalan pasokan, PLN juga membangun Gardu Induk (GI) 150 kilovolt (kV) Jatiluhur Baru yang akan memasok listrik ke kawasan data center BDx.
“PLN juga telah menyiapkan dua line bay khusus pada Gardu Induk tersebut untuk melayani kebutuhan kelistrikan Site CGK4 secara optimal,” kata Adi.
Lebih lanjut, Adi menjelaskan bahwa sinergi antara PLN dan BDx Indonesia merupakan kemitraan jangka panjang yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Tidak hanya Site CGK4, dalam kesepakatan ini PLN juga telah dipercaya mengamankan pasokan daya untuk fasilitas utama BDx Indonesia lainnya, yakni Site CGK3A di Cilandak, Jakarta Selatan, serta Site CGK5 di kawasan industri Suryacipta.
“Sinergi ini bukan sekadar jual beli listrik, melainkan kolaborasi strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui investasi di sektor teknologi tinggi. PLN terus bertransformasi menjadi mitra andal bagi seluruh investor digital di tanah air,” kata Adi.
CEO BDx Indonesia Agus Hartono Wijaya menyampaikan apresiasi kepada PLN atas pelayanan yang optimal dalam mendukung operasional infrastruktur pusat data yang identik dengan komputasi berperforma tinggi.
“Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada PLN yang selama ini telah menjadi mitra strategis dalam mendukung keandalan operasional fasilitas data center milik BDx Indonesia,” ujar Agus.
Menurut dia, keandalan sistem kelistrikan dan kesiapan infrastruktur PLN memberikan kepastian bagi BDx dalam menjalankan pengembangan kapasitas pusat data secara berkelanjutan di Indonesia.
BDx Data Centers mengamankan pasokan listrik 1,2 GW untuk ekspansi hyperscale di Indonesia, mendukung AI dan infrastruktur digital dengan investasi besar. [611] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— Perusahaan infrastruktur digital dan pengelola pusat data, BDx Data Centers, menegaskan komitmennya untuk melakukan ekspansi signifikan dan berkelanjutan di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
President Director & CEO BDx Indonesia Agus Hartono Wijaya mengatakan, melalui usaha patungan dengan Indosat Ooredoo Hutchison dan Lintasarta di mana BDx memegang saham mayoritas, perusahaan kini menjadi operator pusat data netral operator terbesar di Indonesia.
“Kami telah mengamankan pasokan listrik sebesar 1,2 gigawatt, setara dengan sekitar 850 megawatt kapasitas IT yang dapat digunakan, dan terus berinvestasi di kampus-kampus hyperscale AI inti serta jaringan edge nasional kami,” kata Agus kepada Bisnis, Kamis (23/4/2026).
Dalam jangka pendek, Agus menjelaskan fasilitas senilai US$320 juta atau sekitar Rp5,53 triliun yang ditutup pada April 2026 digunakan untuk mengembangkan CGK3, meningkatkan infrastruktur daya di CGK4 dan CGK5, serta mendukung penerapan AI berdensitas tinggi dengan pendingin cair lebih lanjut.
Agus menambahkan, CGK4 telah beroperasi dengan kapasitas AI yang didukung energi terbarukan. Sementara itu, CGK3A di Jakarta Selatan telah beroperasi dan dirancang khusus untuk inferensi AI, dilengkapi dengan pendinginan cairan langsung ke chip.
“Tahap-tahap tambahan di CGK5 berjalan sesuai rencana,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, Agus menyebut perkembangan ini mendukung ambisi perusahaan untuk berkontribusi signifikan terhadap target kapasitas IT regional BDx sebesar 1 gigawatt, dengan sebagian besar pertumbuhan jangka pendek terkonsentrasi di Indonesia.
Lebih lanjut, Agus mengungkapkan sejumlah keunggulan Indonesia dibandingkan negara lain di kawasan dalam menarik investasi pusat data. Menurutnya, Indonesia menawarkan kombinasi faktor yang sulit ditandingi dalam skala besar.
Pertama, dari sisi permintaan. Dengan populasi terbesar keempat di dunia yang didominasi generasi muda dan digital native, Indonesia memiliki permintaan domestik yang kuat terhadap layanan cloud, AI, dan digital. Kedua, ketersediaan daya. Di tengah keterbatasan listrik di banyak pasar regional, Indonesia dinilai masih memiliki kapasitas jaringan yang memadai, termasuk dukungan energi terbarukan seperti kesepakatan pembangkit listrik tenaga air untuk CGK4.
“Hal ini memberikan fondasi yang kuat untuk beban kerja AI berdensitas tinggi,” kata Agus.
Ketiga, dukungan pemerintah terhadap kedaulatan data serta keselarasan dengan visi “Golden Indonesia 2045”, yang sejalan dengan tren global menuju strategi AI berdaulat. Agus menambahkan, pelanggan kini semakin menginginkan infrastruktur yang menjaga data, komputasi, dan penciptaan nilai tetap berada di dalam negeri.
Selain itu, jaringan nasional BDx yang saling terhubung menggabungkan kampus AI berskala besar dengan lebih dari 50 lokasi edge yang mencakup sekitar >95% populasi memungkinkan perusahaan mendukung pelatihan AI skala besar sekaligus inferensi berlatensi sangat rendah di seluruh Indonesia.
“Secara keseluruhan, faktor-faktor ini menjadikan Indonesia sangat menarik untuk investasi berkelanjutan dan jangka panjang,” kata Agus.
Pekerja memeriksa ruang server
Tantangan Talenta
Meski demikian, Agus mengakui sejumlah tantangan tetap ada. Dari sisi regulasi, perusahaan terus bekerja sama dengan otoritas untuk memastikan kepatuhan terhadap persyaratan lokalisasi data dan keberlanjutan, serta mendorong dialog konstruktif terkait kerangka seperti perjanjian pembelian tenaga listrik lintas batas.
Ketersediaan energi yang sebelumnya menjadi kendala potensial kini dinilai telah berkurang, seiring pengamanan kapasitas jaringan 1,2 gigawatt dan inisiatif pengadaan energi terbarukan.
“Fokus kami saat ini adalah secara bertahap meningkatkan porsi energi terbarukan dalam kerangka regulasi yang ada,” kata Agus.
Agus juga menyoroti penguatan infrastruktur pendukung, terutama interkoneksi dan konektivitas last-mile, yang didukung pusat data netral operator, kehadiran di internet exchange, serta jaringan edge nasional perusahaan.
Adapun tantangan paling signifikan yang masih berlangsung, baik di Indonesia maupun kawasan, adalah ketersediaan talenta. Menurutnya, tenaga profesional terampil di bidang operasi pusat data dan infrastruktur AI masih terbatas.
“Kami menangani hal ini secara proaktif melalui inisiatif seperti nota kesepahaman kami dengan Institute of Technical Education Singapura, serta investasi berkelanjutan dalam pengembangan kapasitas lokal,” kata Agus.
Secara keseluruhan, Agus menegaskan tantangan-tantangan tersebut tidak menghambat momentum perusahaan. Dengan eksekusi yang terfokus, Indonesia tetap menjadi salah satu pasar pertumbuhan terkuat dan paling strategis bagi BDx.
BDx Data Centers mengamankan pinjaman Rp5,4 triliun dari BCA-Permata untuk memperkuat infrastruktur AI di Indonesia, mengembangkan CGK3 dengan teknologi pendingin cair. [491] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan infrastruktur digital dan pengelola pusat data, BDx Data Centers, tancap gas memperkuat ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Asia, khususnya Indonesia.
Langkah ini dilakukan usai perusahaan mengamankan fasilitas pinjaman senilai US$320 juta atau setara dengan Rp5,4 triliun.
Suntikan dana segar yang dipimpin oleh konsorsium perbankan kakap—Bank Permata, BCA, dan KB Bank—menjadi sinyal kuat kepercayaan sektor finansial terhadap prospek data center di Tanah Air.
Bagi BDx, pendanaan ini bukan sekadar tambahan likuiditas, melainkan bahan bakar untuk mentransformasi fasilitas konvensional menjadi ‘AI Factories’.
Melalui dana segar tersebut, perusahaan akan melanjutkan pengembangan CGK3. Adapun CGK3 bukan sekadar deretan peladen (server) biasa.
Terletak strategis di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta, CGK3 merupakan kompleks pusat data yang dirancang khusus untuk menangani beban kerja AI berkepadatan tinggi (high-density computing).
Keunggulan utama CGK3 terletak pada adopsi teknologi liquid cooling atau pendingin cair. Teknologi ini menjadi pembeda signifikan di pasar Jakarta, mengingat beban kerja AI canggih menghasilkan panas yang jauh lebih tinggi dibandingkan komputasi awan (cloud) tradisional.
Dengan infrastruktur ini, CGK3 mampu mendukung kebutuhan penyedia layanan hyperscale dan korporasi yang mulai mengintegrasikan unit pemrosesan grafis (GPU) dalam skala besar.
CEO BDx Data Centers, Mayank Srivastava, menyampaikan investasi pada infrastruktur pendingin cair merupakan langkah antisipatif untuk membangun infrastruktur generasi berikutnya. Perusahaan terus berinvestasi pada infrastruktur pendingin cair yang dioptimalkan untuk AI, platform daya tegangan tinggi, dan fasilitas kampus yang terus berkembang.
“Kami tengah membangun infrastruktur generasi berikutnya untuk ‘AI Factories’ yang mendukung beban kerja GPU berkepadatan sangat tinggi,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (1/4/2026).
Langkah agresif BDx ini sejalan dengan peta jalan digital Indonesia yang menempatkan Tanah Air sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan paling dinamis di Asia Tenggara. Kebutuhan kapasitas data center di Indonesia terus meroket seiring dengan penetrasi AI dan transisi digital di berbagai sektor.
Data pasar menunjukkan bahwa permintaan tidak lagi hanya datang dari pemain lokal, tetapi didominasi oleh hyperscaler asal Amerika Serikat dan pemain regional. Hal inilah yang mendasari strategi BDx untuk meningkatkan kapasitas jaringan tegangan tinggi di kampus Jatiluhur (CGK4) dan Suryacipta (CGK5) hingga mencapai 1,2 GVA.
Dibandingkan dengan pusat data konvensional yang rata-rata memiliki kepadatan daya rendah, pengembangan kampus di Jatiluhur dan Suryacipta ini diarahkan untuk memenuhi standar global yang hemat energi namun memiliki ketahanan jangka panjang.
Integrasi antara lokasi yang strategis dan kapasitas daya yang masif memposisikan Indonesia sebagai hub data center utama di kawasan, bersaing ketat dengan Singapura dan Johor.
Selain ekspansi fisik, BDx juga memanfaatkan fasilitas pinjaman ini untuk melakukan refinancing. Langkah ini bertujuan untuk mendapatkan persyaratan pinjaman yang lebih menguntungkan, sehingga struktur modal perusahaan menjadi lebih efisien di tengah tren suku bunga yang kompetitif.
Dengan operasional CGK3 yang sudah berjalan sejak September 2025 dan rencana peningkatan kapasitas di lokasi lain, BDx kini berada di jalur cepat untuk mendominasi pasar infrastruktur digital yang dioptimalkan untuk AI. Dukungan perbankan lokal dalam pendanaan lintas negara ini sekaligus membuktikan bahwa ekosistem keuangan Indonesia siap menopang proyek teknologi berskala global.
BDx Data Centers mengamankan pinjaman Rp5,4 triliun dari BCA-Permata untuk memperkuat infrastruktur AI di Indonesia, mengembangkan CGK3 dengan teknologi pendingin cair. [491] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan infrastruktur digital dan pengelola pusat data, BDx Data Centers, tancap gas memperkuat ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Asia, khususnya Indonesia.
Langkah ini dilakukan usai perusahaan mengamankan fasilitas pinjaman senilai US$320 juta atau setara dengan Rp5,4 triliun.
Suntikan dana segar yang dipimpin oleh konsorsium perbankan kakap—Bank Permata, BCA, dan KB Bank—menjadi sinyal kuat kepercayaan sektor finansial terhadap prospek data center di Tanah Air.
Bagi BDx, pendanaan ini bukan sekadar tambahan likuiditas, melainkan bahan bakar untuk mentransformasi fasilitas konvensional menjadi ‘AI Factories’.
Melalui dana segar tersebut, perusahaan akan melanjutkan pengembangan CGK3. Adapun CGK3 bukan sekadar deretan peladen (server) biasa.
Terletak strategis di kawasan pusat bisnis (CBD) Jakarta, CGK3 merupakan kompleks pusat data yang dirancang khusus untuk menangani beban kerja AI berkepadatan tinggi (high-density computing).
Keunggulan utama CGK3 terletak pada adopsi teknologi liquid cooling atau pendingin cair. Teknologi ini menjadi pembeda signifikan di pasar Jakarta, mengingat beban kerja AI canggih menghasilkan panas yang jauh lebih tinggi dibandingkan komputasi awan (cloud) tradisional.
Dengan infrastruktur ini, CGK3 mampu mendukung kebutuhan penyedia layanan hyperscale dan korporasi yang mulai mengintegrasikan unit pemrosesan grafis (GPU) dalam skala besar.
CEO BDx Data Centers, Mayank Srivastava, menyampaikan investasi pada infrastruktur pendingin cair merupakan langkah antisipatif untuk membangun infrastruktur generasi berikutnya. Perusahaan terus berinvestasi pada infrastruktur pendingin cair yang dioptimalkan untuk AI, platform daya tegangan tinggi, dan fasilitas kampus yang terus berkembang.
“Kami tengah membangun infrastruktur generasi berikutnya untuk ‘AI Factories’ yang mendukung beban kerja GPU berkepadatan sangat tinggi,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (1/4/2026).
Langkah agresif BDx ini sejalan dengan peta jalan digital Indonesia yang menempatkan Tanah Air sebagai salah satu pasar dengan pertumbuhan paling dinamis di Asia Tenggara. Kebutuhan kapasitas data center di Indonesia terus meroket seiring dengan penetrasi AI dan transisi digital di berbagai sektor.
Data pasar menunjukkan bahwa permintaan tidak lagi hanya datang dari pemain lokal, tetapi didominasi oleh hyperscaler asal Amerika Serikat dan pemain regional. Hal inilah yang mendasari strategi BDx untuk meningkatkan kapasitas jaringan tegangan tinggi di kampus Jatiluhur (CGK4) dan Suryacipta (CGK5) hingga mencapai 1,2 GVA.
Dibandingkan dengan pusat data konvensional yang rata-rata memiliki kepadatan daya rendah, pengembangan kampus di Jatiluhur dan Suryacipta ini diarahkan untuk memenuhi standar global yang hemat energi namun memiliki ketahanan jangka panjang.
Integrasi antara lokasi yang strategis dan kapasitas daya yang masif memposisikan Indonesia sebagai hub data center utama di kawasan, bersaing ketat dengan Singapura dan Johor.
Selain ekspansi fisik, BDx juga memanfaatkan fasilitas pinjaman ini untuk melakukan refinancing. Langkah ini bertujuan untuk mendapatkan persyaratan pinjaman yang lebih menguntungkan, sehingga struktur modal perusahaan menjadi lebih efisien di tengah tren suku bunga yang kompetitif.
Dengan operasional CGK3 yang sudah berjalan sejak September 2025 dan rencana peningkatan kapasitas di lokasi lain, BDx kini berada di jalur cepat untuk mendominasi pasar infrastruktur digital yang dioptimalkan untuk AI. Dukungan perbankan lokal dalam pendanaan lintas negara ini sekaligus membuktikan bahwa ekosistem keuangan Indonesia siap menopang proyek teknologi berskala global.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56