Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah perlu menjaga momentum perbaikan konsumsi masyarakat untuk memastikan target pertumbuhan ekonomi 2026 terealisasi. Namun demikian, tekanan inflasi serta sikap masyarakat dan pelaku usaha yang masih wait and see menjadi tantangan besar bagi resiliensi ekonomi pada tahun ini.
Sejauh ini konsumsi masyarakat memang masih relatif terjaga, penjualan eceran tetap tumbuh, meskipun pada sisi tertentu ada gejala anomali dalam perilaku konsumen pada akhir tahun lalu.
Survei Bank Indonesia (BI) setidaknya menunjukkan penjualan eceran tumbuh sebesar 1,5% secara bulanan (month to month/MtM) pada November 2025 atau menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Angka itu lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 0,6% MtM.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa perkembangan itu tercermin dari hasil survei penjualan eceran (SPE). Mayoritas kelompok tercatat alami peningkatan penjualan, terutama Peralatan Informasi dan Komunikasi (5,5% MtM), Suku Cadang dan Aksesori (4,2% MtM), Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (2,8%), serta Makanan, Minuman, dan Tembakau (1,2% MtM).
"Seiring meningkatnya permintaan masyarakat menjelang periode perayaan HBKN [hari besar keagamaan nasional] Natal dan Tahun Baru," ujar Denny dalam keterangannya, Senin (12/1/2026).
Sementara secara tahunan (year on year/YoY), penjualan eceran mengalami pertumbuhan sebesar 6,3%, lebih tinggi dibandingkan 4,3% YoY pada Oktober 2025.
Berdasarkan kelompoknya, terjadi kenaikan penjualan terutama di Kelompok Suku Cadang dan Aksesori (17,7% YoY); serta Makanan, Minuman, dan Tembakau (8,5% YoY); Barang Budaya dan Rekreasi (8,1% YoY); serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (0,8% YoY).
Sementara pada bulan selanjutnya atau Desember 2025, BI memproyeksikan kinerja penjualan eceran meningkat. Indeks Penjualan Riil (IPR) akhir 2025 diprakirakan tumbuh sebesar 4,4% YoY, lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,3% YoY.
"Kinerja penjualan eceran tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Makanan, Minuman, dan Tembakau, Barang Budaya dan Rekreasi, serta Bahan Bakar Kendaraan Bermotor," ujar Denny.
Perubahan Perilaku Konsumen
Kendati tren penjualan eceran masih menumbuhkan optimisme mengenai kinerja konsumsi pemerintah, pergeseran perilaku konsumsi rumah tangga pada pengujung 2025 dinilai menjadi sinyal awal risiko perekonomian pada 2026.
Masyarakat terindikasi kian defensif dengan menahan belanja dan memilih mempertebal tabungan akibat tekanan biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan.
Dalam Survei Konsumen Bank Indonesia (BI), porsi pendapatan responden yang dialokasikan untuk konsumsi (average propensity to consume) pada Desember 2025 tercatat sebesar 74,3%.
Angka tersebut lebih rendah atau menurun dibandingkan dengan posisi November (74,6%), Oktober (74,7%), dan September (75,1%).
Artinya, terjadi penurunan daya beli dalam tiga bulan terakhir 2025. Padahal, periode akhir tahun jelang momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru) identik dengan konsumsi yang meningkat.
Sebaliknya, masyarakat terlihat lebih agresif dalam mempertebal bantalan likuiditas. Survei BI mencatat porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan (savings to income ratio) merangkak naik jelang akhir 2025.
Pada Desember 2025, porsi pendapatan yang ditabung berada pada level 14,87%, naik dari posisi November sebesar 14,44% dan posisi Oktober 2025 sebesar 14,32%. Singkatnya, masyarakat banyak menabung uangnya daripada membelanjakannya dalam dua bulan terakhir 2025.
Sejalan dengan itu, Indeks Penjualan Riil (IPR) dari BI juga memproyeksikan kinerja penjualan eceran tumbuh sebesar 4,4% secara tahunan (year on year/YoY). Meski tumbuh, namun lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang mencapai 6,3% YoY.
Dengan demikian, penjualan eceran pada akhir 2025 diperkirakan melemah dibandingkan realisasi pada akhir 2024.
Waspadai Pelemahan Daya Beli
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman mewanti-wanti bahwa fenomena pelemahan daya beli pada akhir tahun lalu bukan sekadar fluktuasi musiman biasa, melainkan cermin dari rasionalitas rumah tangga yang makin terjepit.
“Pelemahan sinyal daya beli di akhir 2025 adalah pergeseran perilaku konsumsi. Meski penjualan ritel masih tumbuh positif, perlambatan IPR [Indeks Penjualan Riil] pada Desember menunjukkan momentum Nataru tidak lagi bekerja sekuat tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (12/1/2026).
Menurut Rizal, perkembangan perilaku konsumen pada akhir tahun tersebut mengonfirmasi bahwa masyarakat mulai mengerem belanja pada pos-pos diskresioner (kebutuhan sekunder/tersier) dan hanya fokus pada kebutuhan esensial.
“Ini mencerminkan tekanan daya beli riil yang belum pulih sepenuhnya, khususnya akibat inflasi jasa dan pangan tertentu, serta meningkatnya kehati-hatian akibat ketidakpastian pendapatan dan prospek ekonomi ke depan,” jelasnya.
Rizal menilai kondisi ini membawa risiko penurunan kualitas pertumbuhan ekonomi, meskipun target pertumbuhan 2025 secara angka mungkin masih terjaga. Dia mengingatkan bahwa ketergantungan ekonomi RI pada konsumsi rumah tangga menjadi kian rapuh jika dorongan belanja hanya bersifat temporer tanpa perbaikan fundamental seperti upah riil dan kepastian kerja.
Lebih lanjut, kenaikan rasio tabungan di akhir 2025 memang memberikan bantalan likuiditas memasuki 2026. Hanya saja, Rizal menekankan hal itu tidak otomatis menjadi mesin pendorong konsumsi.
“Jika ketidakpastian berlanjut, dana cenderung ‘parkir’ di tabungan alih-alih berputar di sektor riil,” tuturnya.
Untuk itu, Indef menyarankan agar pemerintah merumuskan kebijakan yang lebih presisi pada 2026. Fokus utamanya adalah menurunkan tekanan biaya hidup dan mengarahkan stimulus fiskal agar efektif mendongkrak daya beli riil kelompok menengah-bawah.
“Tanpa koreksi struktural ini, konsumsi berisiko tetap tumbuh, tetapi dengan daya dorong yang semakin terbatas,” pungkas Rizal.
Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede memproyeksikan konsumsi tetap tumbuh pada 2026, namun tidak akan agresif apabila masyarakat terus memprioritaskan tabungan seperti akhir 2025.
Dia pun menyarankan agar pemerintah fokus meningkatkan daya beli masyarakat pada 2026, salah satu caranya dengan mengendalikan inflasi.
"Implikasi kebijakan yang paling relevan adalah memastikan stabilitas harga pangan agar daya beli riil tidak cepat terkikis, serta menajamkan desain insentif agar lebih cepat tersalur pada kelompok dengan kecenderungan belanja tinggi," tutup Josua kepada Bisnis, dikutip Senin (12/1/2026).
Penurunan ekspektasi penjualan ini terutama disebabkan oleh faktor musiman, yakni jumlah hari yang lebih sedikit pada bulan Februari, meskipun survei mencatat angka ini masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya karena mulai masuknya momentum pra-Ramadan.