Bisnis.com, JAKARTA — Uni Eropa (UE) mengesahkan paket sanksi terbaru yang menargetkan infrastruktur energi Rusia, menyusul langkah Amerika Serikat (AS) yang bertujuan untuk melemahkan kemampuan Moskow melanjutkan perang terhadap Ukraina.
Mengutip pernyataan Denmark selaku pemegang presidensi bergilir UE, paket sanksi ke-19 tersebut mencakup larangan impor gas alam cair (LNG) asal Rusia mulai 2027.
Selain itu, UE juga memperketat larangan transaksi dengan dua perusahaan minyak besar Rusia dan menjatuhkan sanksi terhadap tambahan 117 kapal “shadow fleet” yang digunakan Moskow untuk menghindari sanksi sebelumnya.
“Mekanisme sanksi ini memberikan dampak nyata dan menekan ekonomi Rusia. Mereka semakin kesulitan membiayai perang ilegal terhadap Ukraina,” ujar Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen dalam pernyataannya sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Kamis (23/10/2025). “
Paket sanksi ini sempat tertunda selama beberapa pekan akibat keberatan dari Austria, Hungaria, dan Slovakia.
Selain sektor energi, paket sanksi baru UE juga menyasar 45 entitas yang membantu Rusia menghindari sanksi, termasuk 12 perusahaan di China dan Hong Kong.
Uni Eropa juga melarang reasuransi untuk pesawat dan kapal bekas asal Rusia, serta memberlakukan larangan penuh terhadap transaksi dengan lima bank Rusia.
Paket ini turut memperluas larangan transaksi ke sistem pembayaran elektronik Rusia serta bank-bank di Belarus dan Kazakhstan. Selain itu, UE juga menutup akses layanan aset kripto bagi warga negara, penduduk, dan entitas asal Rusia.
Langkah tersebut memperkuat dorongan sekutu Barat dalam meningkatkan tekanan terhadap Moskow. Sehari sebelumnya, AS menjatuhkan sanksi terhadap dua raksasa minyak Rusia, Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC, setelah rencana pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dibatalkan.
Selain itu, Inggris juga telah menjatuhkan sanksi serupa sepekan sebelumnya.
“Paket sanksi ke-19 ini sangat penting. Namun, sanksi dari Amerika juga sangat penting. Ini menjadi sinyal kuat bagi negara lain untuk ikut memperketat tekanan terhadap Rusia," ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy sebelum menghadiri KTT UE di Brussel.
Rencana pertemuan Trump–Putin sebelumnya sempat menimbulkan kekhawatiran di Eropa, di tengah dugaan perubahan sikap Trump yang dinilai lebih lunak terhadap Moskow, meski sebelumnya dia sempat mengancam Rusia dengan sanksi dan mendukung permintaan tambahan senjata untuk Ukraina.
Meski begitu, pertemuan Trump dan Zelenskiy pekan lalu tidak menghasilkan komitmen baru terkait pengiriman rudal jarak jauh. Trump justru mendorong kedua pihak untuk segera memberlakukan gencatan senjata dan memulai negosiasi damai.
Zelenskiy menyatakan keterbukaan terhadap gagasan tersebut dan menandatangani pernyataan bersama dengan para pemimpin Eropa yang mendukung seruan gencatan senjata itu.
“Gencatan senjata tentu mungkin, dan kita semua menginginkannya. Namun, tekanan terhadap Rusia harus terus ditingkatkan agar gencatan senjata itu benar-benar terjadi," ujarnya.