Bisnis.com, JAKARTA — Apple Music dikabarkan menyiapkan kejutan berupa opsi layanan gratis dengan dukungan iklan atau paket berlangganan berbiaya murah, menyusul temuan rangkaian baris kode mencurigakan dalam pembaruan aplikasi versi Beta.
Perubahan model bisnis ini diduga demi mengejar ketertinggalan pangsa pasar dari Spotify dengan merangkul pelanggan baru.
Selama lebih dari satu dekade, Apple Music dikenal sebagai platform eksklusif yang mengharamkan layanan tanpa bayar. Sejak meluncur pada 2015, pengguna wajib merogoh kocek jika ingin menikmati jutaan lagu di dalamnya. Namun, dogma yang dipertahankan sekian lama tersebut tampaknya mulai goyah.
Sinyal perubahan haluan ini pertama kali diendus oleh Aaron Perris, seorang analis dari MacRumors. Dia mendapati rangkaian baris kode yang tidak normal dalam pembaruan Apple Music versi Beta. Di dalamnya ada tulisan pesan peringatan seperti "premium access required"(diperlukan akses premium) dan "can’t skip any more tracks" (tidak dapat melewati lagu lagi).
Kombinasi kedua pesan ini menimbulkan perdebatan, termasuk salah satunya dugaan bahwa Apple tengah merancang ruang bagi pengguna non-berlangganan. Opsi lainnya, Apple mungkin tidak merilisnya secara cuma-cuma, melainkan meluncurkan paket dengan harga jauh lebih murah daripada paket standar saat ini.
Menariknya, kode ini justru ditemukan pada aplikasi Apple Music versi Android. Meski begitu, sejumlah pakar meyakini jika fitur ini benar-benar dirilis, Apple dipastikan akan menggelontorkannya secara serentak, baik untuk pengguna iOS maupun Android.
Apple Music memiliki lebih dari 94 juta pelanggan berbayar secara global, menjadikannya layanan streaming musik terbesar kedua di dunia setelah Spotify.
Angka ini merupakan pertumbuhan yang stabil bagi ekosistem Apple yang menjangkau lebih dari 167 negara. Sementara itu di Indonesia, meskipun Spotify dan YouTube Music lebih mendominasi, Apple Music tetap memiliki pangsa pasar sekitar 17,8% di kalangan pendengar usia muda dan milenial pada 2025.