Bisnis.com, SEMARANG — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan telah mengkoordinasikan transit 26 kapal melalui Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir.
Hal ini menandai peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan tingkat pelayaran di Selat Hormuz sejak dimulainya agresi Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran pada akhir Februari, yang mendorong Iran untuk memberlakukan pembatasan terhadap pelayaran melalui jalur strategis ini.
“Dalam 24 jam terakhir Departemen Hubungan Masyarakat Angkatan Laut IRGC melaporkan bahwa 26 kapal yang terdiri dari kapal tanker minyak, kapal kontainer, dan kapal komersial lainnya berhasil melintasi Selat Hormuz dengan koordinasi dan perlindungan dari Angkatan Laut IRGC,” tulis IRGC dalam pernyataan rilisnya, dikutip dari IRNA, Sabtu (23/5/2026).
Dalam pernyataan tersebut, IRGC tampak menekankan bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz hanya akan dilakukan setelah kapal-kapal mendapatkan izin dan telah berkoordinasi dengan Angkatan Laut IRGC.
Lebih lanjut, mengutip dari Al Jazeera, pada hari Rabu (20/5/2026), Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) telah menerbitkan peta baru Selat Hormuz melalui media sosial X, dengan menandai zona maritim terkontrol yang tidak dapat dilintasi oleh kapal tanpa izin mereka.
Pihak berwenang menyebut bahwa zona tersebut membentang dari Kuh-e Mubarak di Iran hingga selatan Fujairah, di Uni Emirat Arab, di pintu masuk timur selat, dan ujung Pulau Qeshm hingga Umm al-Quwain di pintu masuk barat.
Di sisi lain, pada hari Rabu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump angkat bicara terkait kemajuan yang dicapai dalam negosiasi dengan Iran. Namun, Donald Trump juga mengancam akan melanjutkan aksi militer jika Iran tidak menyetujui kesepakatan.
Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa kembalinya perang akan menghadirkan lebih banyak kejutan. Tak hanya itu, IRGC juga turut berkomentar bahwa jika Iran diserang lagi, hal itu akan memperluas konflik dengan memperpanjang pertempuran kali ini di luar wilayah tersebut.
Harga minyak dunia terpantau melemah pada perdagangan Selasa (20/5/2026) setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencana serangan militer terhadap Iran, meredakan kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan.
Berdasarkan data Tradingview, harga minyak jenis Brent untuk pengiriman Juli turun 2,13% dan diperdagangkan di level US$109,71 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun 1,16% ke level US$107,40 per barel.
Trump pada Senin (19/5/2026) waktu setempat mengatakan, dirinya menangguhkan rencana serangan terjadwal terhadap Iran setelah menerima permintaan dari para pemimpin Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Sebelum pernyataan Trump di platform Truth Social, belum ada indikasi kuat di ruang publik bahwa Washington tengah mempersiapkan aksi militer dalam waktu dekat terhadap Iran. Serangan tersebut berpotensi mengakhiri gencatan senjata rapuh yang tercapai pada 8 April lalu.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump mengatakan kepada New York Post bahwa Iran mengetahui “apa yang akan segera terjadi,” tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Laporan Axios menyebut Trump sempat mempertimbangkan kembali opsi serangan militer setelah proposal terbaru Teheran dalam perundingan untuk mengakhiri konflik dinilai belum memenuhi harapan.
Dalam acara di Gedung Putih pada Senin waktu setempat, Trump mengatakan bahwa pemerintah AS bersiap melakukan serangan besar besok. “Saya menundanya untuk sementara waktu, mudah-mudahan selamanya, tetapi mungkin hanya sementara,” ujar Trump.
Menurutnya, keputusan itu diambil karena telah terjadi pembicaraan yang sangat besar dengan Iran.
Lembaga keuangan ING menyebut pasar minyak masih memperhitungkan potensi gangguan pasokan berkepanjangan di Timur Tengah. ING juga menilai harapan bahwa China dapat membantu mendorong kemajuan diplomatik dalam pembicaraan terbaru antara Trump dan Presiden China Xi Jinping belum terwujud.