#30 tag 24jam
MWC Shanghai 2026: Cina dan Asia Pasifik Pimpin Pasar Monetisasi AI Telco Global
MWC Shanghai 2026 menyoroti Cina dan Asia Pasifik sebagai pemimpin dalam monetisasi AI di sektor telekomunikasi, dengan fokus pada pertumbuhan pendapatan dan inovasi bisnis. [1,088] url asal
#ai-telco #monetisasi-ai #ai-asia-pasifik #ai-cina #ai-telekomunikasi #ai-5g #ai-cloud #ai-b2b #ai-infrastruktur #ai-pendapatan #ai-efisiensi #ai-operator-seluler #ai-ekosistem #ai-inovasi #ai-token
(Bisnis.Com - Teknologi) 25/06/26 05:13
v/259060/
Bisnis.com, Shanghai — Kawasan Asia Pasifik dan Cina berada di garda terdepan dalam adopsi teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) global.
Bagi industri telekomunikasi (telco), implementasi AI tidak lagi sebatas instrumen untuk menekan biaya operasional atau efisiensi, melainkan telah bertransformasi menjadi mesin pertumbuhan baru penyumbang pundi-pundi pendapatan dan inovasi bisnis yang konkret.
Riset terbaru dari GSMA Intelligence menunjukkan pergeseran paradigma yang signifikan dalam pemanfaatan AI oleh operator seluler di seluruh dunia, khususnya di regional Asia Pasifik (APAC).
Integrasi infrastruktur telekomunikasi pintar, perluasan jaringan 5G Standalone (5G SA), hingga komersialisasi kemampuan komputasi berbasis awan (cloud) membuka ruang monetisasi segmen Business-to-Business (B2B) yang jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Head of Research and Commercial Content Strategy GSMA Intelligence, Pablo Lacopino, menjelaskan korporasi skala besar di wilayah Asia Pasifik memiliki kecepatan adopsi teknologi yang luar biasa tinggi pada teknologi AI. Dinamika ini memberikan peluang strategis bagi para penyedia layanan konektivitas untuk masuk ke dalam ekosistem operasional enterprise.
Sekitar 85% perusahaan jumbo di Cina dan Asia Pasifik telah menggunakan AI dalam bisnis mereka. Lebih tinggi dari perusahaan besar di Eropa (74%) dan rata-rata global 82%.
“Apa yang kami lihat adalah Cina dan Asia Pasifik memimpin menggunakan penggunaan AI. daerah Asia Pasifik menunjukkan kemajuan yang lebih cepat dalam implementasi AI,” kata Pablo dalam MWC 2026 yang digelar di Shanghai, Kamis (26/6/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat pergeseran orientasi proyek AI yang cukup tajam dari kuartal II/2025 menuju kuartal I/2026. Jika pada masa awal pengembangan teknologi ini industri telekomunikasi lebih fokus pada aspek cost savings (penghematan biaya), kini sebagian besar inisiatif baru sengaja dirancang untuk mendongkrak pendapatan direct (revenue generation).
Di regional Asia Pasifik dan Cina, persentase inisiatif operator yang membidik pertumbuhan pendapatan tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Pada kuartal II/2025, perusahaan telekomunikasi global sebagian besar (84%) menggunakan AI untuk efisiensi dan 16% untuk pendapatan. Namun, pada kuartal I/2026 angkanya bergeser di mana porsi pendapatan meningkat menjadi 38% dan porsi efisiensi 62%.
Hal yang mengejutkan adalah di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, dan Cina AI memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap pendapatan telekomunikasi kawasan tersebut dibandingkan dengan Global.
Sebanyak 45% perusahaan telekomunikasi di Asia Pasifik dan Cina menggunakan AI untuk memacu pendapatan. Sementara 55% sisanya masih menggunakan AI untuk efisiensi.

Pablo Lacopino menambahkan transisi ini dimungkinkan oleh kesiapan infrastruktur generasi kelima (5G) yang semakin matang di berbagai negara, sehingga implementasi kecerdasan buatan dapat berjalan beriringan dengan pemrosesan data berkecepatan tinggi.
“Bagi Telco, AI tidak lagi hanya alat efisiensi, tetapi menjadi pengembara peningkatan uang dan inovasi,” kata Pablo.
Hingga saat ini, penetrasi jaringan masa depan terus meluas secara masif. Berdasarkan pemantauan GSMA Intelligence, terdapat 19 operator seluler yang telah menggelar jaringan 5G Advanced di 14 negara, di mana pasar Cina bertindak sebagai salah satu motor penggerak paling krusial. Secara keseluruhan, ada 74 operator di 43 negara yang terus mendorong 5G Advanced menjadi realitas komersial global. Kombinasi murni antara AI, 5G, Cloud, dan teknologi Edge inilah yang mendasari pembentukan infrastruktur digital pintar bagi lanskap bisnis modern.
Dalam konteks monetisasi segmen B2B, kata Pablo, operator tidak lagi bisa menawarkan layanan konektivitas tradisional secara terpisah. Kebutuhan industri horizontal mengharuskan operator seluler menyajikan paket solusi terintegrasi yang menggabungkan Internet of Things (IoT), cloud, keamanan siber (security), dan AI sebagai komponen utamanya.
Upaya ini membuahkan hasil positif, di mana kontribusi pendapatan dari sektor B2B terhadap total pendapatan operator utama di global menyentuh angka 30% pada 2024 atau meningkat 400 basis points (bps) dari posisi 2017 yang sebesar 26%. Peningkatan ini diproyeksi akan terus terjadi ke depan didorong oleh inovasi yang dihadirkan oleh operator seluler.
Data internal GSMA Intelligence mengidentifikasi tiga sektor terbesar di wilayah Asia Pasifik dan Cina yang paling aktif berkolaborasi dengan operator seluler dalam memanfaatkan teknologi AI. Sektor-sektor penggerak utama tersebut adalah Sektor Publik (26%), Layanan Kesehatan (26%), dan Pertanian (30%). Sementara itu sektor Media dan hiburan (13%), logistik dan transportasi (16%), dan energi & utilisasi menjadi 3 sektor dengan kontribusi terendah.
Lebih lanjut sekitar 20% dari korporasi di sektor-sektor ini tercatat telah menjalin kemitraan strategis bersama operator telco untuk membangun solusi berbasis AI.
Langkah taktis memonetisasi pasar B2B ini dirangkum oleh GSMA Intelligence ke dalam 8 skenarios komersial yang tidak saling eksklusif, melainkan dapat dikombinasikan. Beberapa di antaranya meliputi penyediaan layanan Inference Service, pengembangan Sovereign AI, hingga pemanfaatan Foundation Model.
Melalui kombinasi skenario tersebut, operator telekomunikasi dapat menciptakan hubungan komersial jangka panjang yang bernilai tinggi dengan penyedia teknologi (vendor) maupun pelanggan korporat.
Bukti nyata keberhasilan monetisasi AI ini sudah mulai terlihat pada beberapa operator pionir di Asia Timur. China Mobile dan SK Telecom (Korea Selatan) tercatat sebagai perusahaan telekomunikasi dengan kontribusi AI terhadap total pendapatan terbesar pada 2025 jika dibandingkan dengan capaian pada tahun 2024.
Pada 2025, total kontribusi AI terhadap pendapatan China Mobile mencapai 9% atau naik 100 bps dibandingkan dengan 2024. Pengelolaan algoritma data, layanan AI untuk e-commerce, layanan AI pada industri digital, hingga pemanfaatan AI untuk hal-hal berbau budaya menjadi beberapa kasus pemanfaatan (use case) AI yang berdampak pada pendapatan operator seluler.
Sementara itu AI di SK Telecom telah memberi kontribusi pendapatan yang lebih kecil yaitu 4% pada 2025. Meski demikian angkanya naik 100 bps dalam setahun, di mana pada 2024 berada pada posisi 3%.
SK Telecom tidak spesifik menjelaskan layanan yang diberikan, tetapi sektor manufaktur, iklan, dan sektor publik menjadi kontributor utama yang disumbangkan oleh bisnis AI mereka.
“Jadi, kemungkinan AI adalah nyata di beberapa pasar dan operator-operator yang benar-benar menghasilkan penjualan nilai. Operator-operator telah memulai menghubungkan ekonomi token AI. Dan Cina menetapkan jalan untuk hal ini,” papar Pablo.

Di Cina, tiga operator telekomunikasi terbesar negara tersebut bahkan telah mengambil langkah visioner dengan menjadi entitas pertama di dunia yang merilis rencana layanan AI berbasis token (token-based AI plans).
Skema pengisian tarif kuota AI ini dijalankan dengan mekanisme komersial yang sangat mirip dengan model bisnis penjualan kuota data tradisional.
Kehadiran inovasi komersial bernama ekonomi token AI ini secara cerdas mampu menjembatani serta menghubungkan secara langsung antara permintaan riil terhadap aplikasi cerdas dengan besarnya investasi infrastruktur komputasi yang telah dikucurkan oleh pihak operator. Layanan ini menyasar segmen korporasi (B2B) sekaligus konsumen retail (B2C).
GSMA Intelligence meyakini tren digitalisasi progresif yang dipelopori oleh Cina dan Korea Selatan ini akan segera diikuti oleh operator-operator telekomunikasi di negara lain, termasuk Indonesia. Langkah komersialisasi kemampuan kecerdasan artifisial, komputasi, dan ekosistem awan dipandang menjadi keniscayaan mutlak bagi keberlanjutan industri telekomunikasi global di tengah tuntutan investasi teknologi yang sangat besar.
Deretan 8 Miliarder Baru yang Lahir dari AI sepanjang 2025
Forbes merilis 50 miliarder terbaru yang lahir dari AI, berikut 8 terkaya. [834] url asal
#ai-miliarder #miliarder-baru #ai-2025 #forbes-miliarder #ai-kekayaan #startup-ai #ai-perusahaan-rintisan #ai-pendiri #ai-valuasi #ai-pendapatan #ai-aplikasi #ai-investasi #ai-teknologi #ai-silicon-val
(Bisnis.Com - Entrepreneur) 31/12/25 17:07
v/89918/
Bisnis.com, JAKARTA — Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menjadi topik pembicaraan besar pada 2025, terutama karena kemampuannya melahirkan puluhan miliarder baru, dalam dolar AS.
Tahun ini, AI menjadi generator kekayaan besar bagi para pengusaha yang membangun model, infrastruktur, dan aplikasi yang dengan cepat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, membantu menciptakan lebih dari 50 miliarder baru.
Tak hanya perusahaan besar yang memanfaatkan AI, tapi juga beberapa perusahaan rintisan berhasil menembus valuasi besar hingga bisa turut menambah jumlah miliarder dunia.
Forbes merilis daftar beberapa pendiri startup AI terkenal yang menjadi miliarder tahun ini, diurutkan dari yang terkaya hingga "termiskin".
Berikut daftar 8 miliarder yang menjadi orang terkaya berkat AI:
1. Edwin Chen
- Kekayaan bersih: US$18 miliar
- Sumber kekayaan: Surge AI
- Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Dalam waktu kurang dari lima tahun, Chen membangun perusahaan pelabelan data Surge AI, menjadi raksasa yang menghasilkan pendapatan US$1,2 miliar pada tahun 2024, tanpa dukungan modal ventura.
Dengan pelanggan seperti Google, Meta, Microsoft, dan lab AI Anthropic dan Mistral, perusahaan ini diperkirakan bernilai US$24 miliar berdasarkan pendapatannya saja.
Dengan perkiraan kepemilikan saham CEO Chen sebesar 75% di perusahaan tersebut diperkirakan bernilai US$18 miliar dan menjadikannya pendatang baru terkaya dalam daftar Forbes 400 tahun ini tentang orang Amerika terkaya. Pada usia 37 tahun, ia juga merupakan anggota termuda dalam daftar tersebut.
2. Bret Taylor dan Clay Bavor
- Kekayaan bersih: US$2,5 miliar (masing-masing)
- Sumber kekayaan: Sierra
- Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Tokoh-tokoh terkemuka Silicon Valley, Taylor dan Bavor, menjadi miliarder pada bulan September ketika perusahaan rintisan mereka, Sierra, mengumpulkan dana sebesar US$350 juta dalam putaran pendanaan yang menilai perusahaan tersebut sebesar US$10 miliar.
Keduanya mendirikan perusahaan rintisan pada tahun 2023, yang menggantikan layanan pelanggan dengan agen AI untuk ratusan perusahaan besar, seperti The North Face dan produsen kendaraan listrik Rivian. Lebih dari setengah pelanggannya memiliki pendapatan di atas US$1 miliar, dan 20% di antaranya memiliki pendapatan lebih dari US$10 miliar, kata perusahaan tersebut.
Menurut perkiraan Forbes, Taylor dan Bavor masing-masing memiliki sekitar 25% saham perusahaan.
3. Brendan Foody, Adarsh Hiremath, dan Surya Midha
- Kekayaan bersih: US$2,2 miliar (masing-masing)
- Sumber kekayaan: Mercor
- Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Pada Oktober 2025, Foody, Hiremath, dan Midha menjadi miliarder mandiri termuda sepanjang masa pada usia 22 tahun ketika perusahaan rintisan mereka, Mercor, mengumpulkan dana sebesar US$350 juta, yang memberi nilai perusahaan sebesar US$10 miliar.
Mereka mengalahkan Mark Zuckerberg, yang menjadi miliarder hampir dua dekade lalu pada usia 23 tahun.
Mercor didirikan oleh trio ini pada 2023, untuk membantu laboratorium AI terbesar di Silicon Valley seperti OpenAI, Anthropic, dan Meta untuk melatih model mereka dengan merekrut para ahli dan PhD untuk mengevaluasi dan menyempurnakan data. Forbes memperkirakan setiap pendiri memiliki sekitar 22% saham di perusahaan tersebut.
4. Anton Osika dan Fabian Hedin
- Kekayaan bersih: US$1,6 miliar (masing-masing)
- Sumber kekayaan: Lovable
- Kewarganegaraan: Swedia
Dua pendiri startup 'Vibe coding' Lovable menjadi miliarder pada Desember setelah mengumpulkan dana sebesar US$330 juta dengan valuasi US$6,6 miliar.
Perusahaan ini menjadi perusahaan perangkat lunak dengan pertumbuhan tercepat sepanjang masa, setelah mencapai pendapatan tahunan lebih dari US$100 juta hanya dalam delapan bulan dengan memungkinkan pengguna, bahkan mereka yang tidak memiliki pengalaman coding, untuk membuat situs web dan aplikasi hanya dengan perintah tertulis.
Forbes memperkirakan bahwa pendiri Osika dan Hedin masing-masing memiliki sekitar 24% saham di perusahaan tersebut.
6. Lucy Guo
- Kekayaan bersih: US$1,4 miliar
- Sumber kekayaan: Scale AI
- Kewarganegaraan: Amerika Serikat
Guo yang berusia 31 tahun menggusur Taylor Swift sebagai miliarder wanita termuda di dunia yang sukses membangun kekayaannya sendiri ketika Meta membeli 49% saham di perusahaan pelabelan data Scale AI, yang dia dirikan bersama Alexandr Wang pada 2016.
Meskipun dia meninggalkan perusahaan dua tahun kemudian, tetapi dia tetap mempertahankan sahamnya, yang telah terdilusi menjadi sekitar 3%.
Ditambah dengan startup keduanya, Passes, sebuah aplikasi mirip Patreon untuk kreator konten, yang bernilai lebih dari US$150 juta, Forbes memperkirakan kekayaan bersihnya mencapai sekitar US$1,4 miliar.
7. Michael Truell, Aman Sanger, Sualeh Asif, dan Arvid Lunnemark
- Kekayaan bersih: US$1,3 miliar (masing-masing)
- Sumber kekayaan: Cursor
- Kewarganegaraan: Amerika Serikat, Pakistan, Swedia
Alat pengkodean AI Cursor mengumpulkan US$2,3 miliar pada November, yang memberi nilai perusahaan rintisan berusia tiga tahun ini sebesar US$29,3 miliar.
Perusahaan mengumumkan telah mencapai pendapatan tahunan lebih dari US$1 miliar dari pelanggan termasuk Nvidia, Adobe, Uber, Shopify, dan PayPal.
Forbes memperkirakan bahwa keempat pendiri masing-masing memegang 4% saham di perusahaan tersebut.
8. Mati Staniszewski dan Piotr Dabkowski
- Kekayaan bersih: US$1,1 miliar (masing-masing)
- Sumber kekayaan: ElevenLabs
- Kewarganegaraan: Polandia
Telah berhasil mengumpulkan total US$300 juta, ElevenLabs, yang menawarkan model AI yang menghasilkan suara seperti manusia, mencapai valuasi US$6,6 miliar pada Oktober, menjadikan para pendirinya miliarder.
Sebagai salah satu startup paling berharga di Eropa, perusahaan ini menghasilkan pendapatan hampir US$200 juta dalam 12 bulan terakhir.
Setengah dari pendapatan tersebut berasal dari perusahaan besar seperti Cisco dan Twilio, yang menggunakan alat ini untuk panggilan layanan pelanggan atau wawancara kerja. Setengah lainnya berasal dari YouTuber, podcaster, dan penulis, kata perusahaan tersebut.
Forbes memperkirakan bahwa setiap pendiri memiliki saham sebesar 17%.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56