Implementasi AI kompleks butuh investasi berkelanjutan di infrastruktur 5G untuk mendukung ekonomi digital. Transformasi digital Indonesia perlu integrasi infrastruktur, platform, dan talenta. [441] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan teknologi asal Swedia, Ericsson, menyampaikan implementasi kecerdasan buatan (AI) yang lebih kompleks menuntut komitmen investasi berkelanjutan pada infrastruktur teknologi informasi, khususnya 5G, agar laju ekonomi digital dapat tereskalasi secara maksimal.
President Director Ericsson Indonesia Nora Wahby mengatakan integrasi AI dalam pengoperasian jaringan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan elemen kunci. Analisis dan otomatisasi berbasis AI memungkinkan operator memprediksi pola lalu lintas data, mendeteksi anomali, hingga melakukan pemulihan mandiri (self-healing) pada jaringan sebelum gangguan dirasakan pelanggan.
"Aplikasi AI mendorong kebutuhan akan jaringan dengan performa lebih tinggi. Sebaliknya, jaringan yang semakin canggih memungkinkan penerapan AI yang lebih kompleks dan dapat diskalakan," ujar Nora, dikutip Kamis (9/4/2026).
Sebelumnya, studi terbaru Ericsson ConsumerLab 2026 menyebut porsi pengguna Indonesia yang memanfaatkan AI multimodal—yakni penggunaan AI lintas format seperti teks, suara, dan visual—diproyeksikan akan meningkat dua kali lipat dalam periode yang sama.
Pada 2025, hanya 21% pengguna yang menggunakan AI di multimodal. Namun ketika 2030, angkanya akan meningkat menjadi 41%.
Kemudian, dari sisi perilaku penggunaan, sekitar 46% waktu penggunaan AI diperkirakan akan terjadi di luar rumah pada 2030. Masyarakat tidak hanya bergantung pada konektivitas Wi-Fi di kantor atau di rumah untuk menggunakan AI.
Tren ini menandakan ke depan beban trafik data ke depan, sebagian dipikul oleh jaringan seluler baik 4G maupun 5G.
Secara komparatif, jaringan telekomunikasi di Indonesia sedang mengalami pergeseran paradigma. Jika sebelumnya jaringan hanya dipandang sebagai infrastruktur statis untuk konektivitas dasar, kini evolusi core berbasis cloud-native dan implementasi Far Edge mengubahnya menjadi platform dinamis yang dapat diprogram.
Investasi pada infrastruktur nasional yang krusial ini memerlukan dukungan kerangka kebijakan jangka panjang dan koordinasi lintas sektor.
Nora menilai cakupan 5G mid-band yang luas menjadi sangat krusial untuk menghadirkan pengalaman konsumen yang unggul serta mempercepat digitalisasi sektor korporasi (enterprise).
Nora juga mengatakan investasi fisik saja tidak cukup. Indonesia menghadapi tantangan besar dalam memanfaatkan bonus demografi yang diprediksi mencapai puncaknya pada 2045, di mana 65% populasi berada pada usia produktif. Guna mendukung target nasional mencetak 9 juta talenta digital pada 2030, pengembangan kapasitas tenaga kerja harus berjalan beriringan dengan pembangunan hardware.
Ericsson, melalui kolaborasi dengan pemerintah dan pemimpin teknologi seperti Qualcomm, aktif mendorong inisiatif hackathon 5G + AI. Langkah ini bertujuan memberikan pengalaman langsung bagi mahasiswa dan profesional muda dalam mengelola ekosistem digital yang kompleks.
Nora menegaskan keputusan yang diambil hari ini mengenai pembangunan, pengamanan, dan pengembangan jaringan akan menentukan seberapa cepat Indonesia melangkah menuju 2045. Transformasi digital Indonesia bukan sekadar soal pemutakhiran teknologi, melainkan upaya membangun bangsa digital yang mengintegrasikan infrastruktur, platform, manusia, dan kemitraan secara harmonis.
“Transformasi digital Indonesia berarti membangun bangsa digital yang memungkinkan infrastruktur, platform, manusia, dan kemitraan saling menguatkan satu sama lain,” kata Nora.
Bisnis.com, JAKARTA — Operator seluler menghadapi lonjakan trafik internet yang makin besar seiring dengan adopsi kecerdasan buatan (AI) yang makin pesat di masyarakat. Dalam 5 tahun ke depan diprediksi lonjakan trafik naik hingga dua kali lipat didorong oleh makin banyaknya perangkat yang terhubung ke AI dan penggunaan dari beragam modul.
Studi terbaru Ericsson ConsumerLab 2026 mengungkap penggunaan AI di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Sekitar satu dari tiga pengguna memperkirakan akan menggunakan AI di berbagai perangkat secara bersamaan pada 2030.
Selain itu, porsi pengguna yang memanfaatkan AI multimodal—yakni penggunaan AI lintas format seperti teks, suara, dan visual—diproyeksikan akan meningkat dua kali lipat dalam periode yang sama. Pada 2025, hanya 21% pengguna yang menggunakan AI di multimodal. Namun ketika 2030, angkanya akan meningkat menjadi 41%.
Hal ini mencerminkan kebutuhan akan konektivitas yang semakin kompleks dan interaktif.
Dari sisi perilaku penggunaan, sekitar 46% waktu penggunaan AI diperkirakan akan terjadi di luar rumah pada 2030. Masyarakat tidak hanya bergantung pada konektivitas Wi-Fi di kantor atau di rumah untuk menggunakan AI. Tren ini menunjukkan bahwa mobilitas tinggi akan menjadi faktor utama dalam pengembangan layanan berbasis AI ke depan.
Director and Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, dengan meningkatnya penggunaan AI di berbagai aktivitas sehari-hari, kebutuhan terhadap jaringan yang stabil dan responsif menjadi semakin krusial. Operator telekomunikasi dituntut untuk tidak hanya meningkatkan kapasitas jaringan, tetapi juga memastikan latensi rendah untuk mendukung performa AI secara optimal.
“Jaringan 5G dengan latensi yang lebih rendah dari 4G dapat mengakomodir hal ini,” kata Ronni.
Secara keseluruhan, kata Ronni, studi ini menegaskan bahwa era konektivitas kini memasuki fase baru, di mana pengalaman berbasis AI menjadi pusat perhatian.
Indonesia sebagai salah satu pasar berkembang dinilai memiliki potensi besar dalam mengadopsi teknologi ini secara luas, seiring meningkatnya kebutuhan akan layanan digital yang lebih cerdas dan adaptif.
Ilustrasi kecerdasan buatan
Citra Operator di Tangan AI
Studi Ericsson juga menunjukkan bahwa responsivitas kecerdasan buatan (AI) kini menjadi faktor kunci dalam menilai kepuasan pengguna terhadap kualitas jaringan operator seluler.
Dalam laporan tersebut, pengguna smartphone berbasis AI menempatkan kecepatan respons AI sebagai salah satu indikator penting. Semakin cepat sistem AI merespons, semakin tinggi tingkat kepuasan pengguna terhadap jaringan operator seluler.
Director and Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, mengatakan AI membuat preferensi masyarakat dalam menggunakan jaringan seluler bergeser dari sekadar kecepatan internet menuju pengalaman berbasis AI yang lebih responsif. Faktor lain seperti kecepatan unduh, konsistensi jaringan, hingga pengalaman video call tetap relevan, namun mulai diimbangi oleh performa AI.
Dahulu, sebelum ada AI, untuk mengukur kualitas suatu jaringan pelanggan melihat dari seberapa lancar mereka memutar video atau seberapa mulus mereka bermain gim. Saat ini ada parameter baru yaitu seberapa cepat resposn AI yang mereka gunakan.
“Faktor waktu respons terhadap AI hanya tertinggal dari faktor kepuasan pelanggan terhadap kecepatan unduh dan konsistensi jaringan,” kata Ronni
Ericsson, lanjut Ronni, juga mencatat bahwa penggunaan AI di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Sekitar satu dari tiga pengguna memperkirakan akan menggunakan AI di berbagai perangkat secara bersamaan pada 2030.
Selain itu, porsi pengguna yang memanfaatkan AI multimodal—yakni penggunaan AI lintas format seperti teks, suara, dan visual—diproyeksikan akan meningkat dua kali lipat dalam periode yang sama. Pada 2025, hanya 21% pengguna yang menggunakan AI di multimodal. Namun ketika 2030, angkanya akan meningkat menjadi 41%.
Hal ini mencerminkan kebutuhan akan konektivitas yang semakin kompleks dan interaktif.
Dari sisi perilaku penggunaan, sekitar 46% waktu penggunaan AI diperkirakan akan terjadi di luar rumah pada 2030. Masyarakat tidak hanya bergantung pada konektivitas Wi-Fi di kantor atau di rumah untuk menggunakan AI. Tren ini menunjukkan bahwa mobilitas tinggi akan menjadi faktor utama dalam pengembangan layanan berbasis AI ke depan.
Langkah Operator Selamatkan Citra
Adapun operator seluler mengambil langkah seragam dalam menyikap hal itu. Telkomsel sebagai pemimpin pasar terus memperkuat posisi dengan mengintegrasikan kapabilitas AI ke dalam infrastruktur broadband-nya. Telkomsel fokus pada pengembangan teknologi 5G Standalone (SA) dan optimalisasi spektrum frekuensi untuk menjamin latency rendah—aspek krusial bagi aplikasi AI yang membutuhkan respons waktu nyata (real-time).
Orang berjalan di depan logo Telkomsel
Di sisi lain, XLSMART menitikberatkan pada otomatisasi jaringan melalui Zero Touch Operation. EXCL menggunakan teknologi AI di dalam internal mereka untuk memprediksi lonjakan trafik di suatu wilayah sebelum hal itu terjadi (predictive maintenance). Dengan memanfaatkan machine learning, EXCL mampu melakukan alokasi bandwidth secara dinamis.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56