Bisnis.com, JAKARTA - Perkembangan kecerdasan buatan kini memasuki babak baru melalui kehadiran Agentic AI, teknologi yang tidak lagi sekadar merespons perintah, tetapi mampu mengambil keputusan dan menjalankan tugas secara mandiri.
Jika sebelumnya AI dikenal sebagai alat bantu untuk menjawab pertanyaan atau mengolah data, Agentic AI hadir dengan kemampuan memahami tujuan, menyusun langkah kerja, hingga mengeksekusi berbagai proses secara otomatis.
Kemunculan teknologi ini mulai mengubah cara manusia bekerja di berbagai sektor. Dari industri kreatif, layanan pelanggan, hingga operasional bisnis, Agentic AI memungkinkan pekerjaan dilakukan lebih cepat, efisien, dan minim intervensi manual.
Lead Solution Architect Alibaba Cloud Indonesia, Ananda Budi, mengatakan perkembangan teknologi agentic AI berlangsung sangat pesat. Ia mencontohkan model AI Qwen yang pertama kali diluncurkan pada 2023 dan terus mengalami peningkatan signifikan. Pada akhir Maret 2026 agentic AI ini telah berada di versi 3.6, tetapi Mei 2026 telah memasuki versi terbaru, yakni Qwen 3.7.
"Dulu rilis model mungkin hitungannya tahunan, lalu menjadi bulanan, mingguan, hingga sekarang hampir harian. Jadi perkembangan teknologinya memang sangat cepat," katanya.
Ananda mengatakan Agentic AI dirancang sebagai rekan kerja otonom atau copilot bagi manusia dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan digital. Teknologi ini tidak hanya mampu memberikan respons atas perintah pengguna, tetapi juga dapat menyusun langkah kerja, memanfaatkan beragam tools, serta menjalankan tugas kompleks lintas aplikasi secara mandiri untuk mencapai target tertentu.
Salah satu contoh penerapan agentic AI dapat dilihat pada platform pemrograman berbasis AI seperti Qoder yang hadir dalam bentuk IDE, CLI, dan plugin. Platform semacam ini, katanya, dirancang untuk membantu proses pengembangan perangkat lunak dengan memanfaatkan kombinasi beberapa model AI melalui mekanisme intelligent scheduling agar mampu menyesuaikan kebutuhan tugas secara lebih efisien.
Agentic AI dalam bidang pemrograman juga memungkinkan hadirnya multi-agent expert system, yakni sistem yang membuat aplikasi mampu menjalankan berbagai fungsi berbeda dalam satu alur kerja AI terpadu. Melalui pendekatan ini, setiap AI agent dapat mengambil peran layaknya product manager, project manager, QA engineer, hingga software engineer yang saling terhubung, berkomunikasi, dan berkolaborasi untuk menyelesaikan pekerjaan secara lebih terintegrasi.
Menurut Ananda, pendekatan serupa kini juga mulai diterapkan pada AI assistant berbasis desktop untuk mendukung produktivitas harian di lingkungan kerja. Teknologi ini dimanfaatkan untuk membantu berbagai aktivitas, mulai dari pengelolaan pekerjaan hingga otomatisasi tugas rutin.
Dia mencontohkan penggunaan AI dalam proses penyusunan laporan. Alih-alih membaca banyak dokumen satu per satu, pengguna cukup menempatkan seluruh file dalam satu folder lalu meminta AI merangkum keseluruhan isi dokumen menjadi versi yang lebih ringkas. Setelah rangkuman selesai dibuat, pengguna tinggal melakukan peninjauan dan pengecekan akhir sebelum laporan digunakan.
Meski demikian, Ananda menegaskan bahwa kehadiran Agentic AI bukan ditujukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan mengubah cara manusia bekerja dengan memanfaatkan teknologi sebagai pendukung dalam menyelesaikan berbagai tugas secara lebih efisien. "Agentic AI itu hanya alat sebenarnya, untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi," imbuhnya.