Bisnis.com, BANDA ACEH — Pemerintah Aceh menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi dan menginstruksikan posko siaga aktif 24 jam hingga 20 April 2026 menyusul potensi cuaca ekstrem di wilayah tersebut.
Penetapan status siaga ini dilakukan berdasarkan peringatan dini BMKG terkait potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir dalam beberapa hari ke depan. Kondisi atmosfer yang dipengaruhi pola siklonik, shearline, dan konvergensi diperkirakan memicu hujan intensitas sedang hingga lebat di hampir seluruh wilayah Aceh pada periode 11–20 April 2026.
“Kami meminta BPBD di kabupaten/kota untuk melakukan aktivasi posko dan memantau perkembangan cuaca secara real-time bersama BMKG dan BPBA. Periode siaga ini sangat krusial guna meminimalisir dampak risiko,” ujar Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir, dalam keterangannya, Kamis (16/4/2026).
Potensi cuaca ekstrem tersebut dinilai dapat memicu berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga angin kencang di sejumlah wilayah rawan. Karena itu, pemerintah daerah diminta tidak menunda langkah mitigasi dan segera memperkuat kesiapsiagaan di lapangan.
Dalam arahannya, M. Nasir menegaskan pentingnya normalisasi infrastruktur air melalui pembersihan drainase, sungai, serta pengerukan sedimentasi guna mencegah terjadinya luapan air. Selain itu, pemangkasan pohon rawan tumbang serta pengamanan baliho dan utilitas berisiko tinggi juga menjadi prioritas.
Petugas di lapangan diminta meningkatkan patroli rutin di kawasan rawan banjir, tanah longsor, serta daerah aliran sungai (DAS) yang kritis. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan deteksi dini serta respons cepat jika terjadi bencana.
Pemerintah Aceh menginstruksikan mobilisasi Tim Reaksi Cepat (TRC) serta penempatan alat berat di titik-titik strategis. Seluruh sarana pendukung seperti perahu motor, kendaraan evakuasi, logistik darurat, hingga tenda pengungsian harus dipastikan dalam kondisi siap pakai.
Selain itu, jalur evakuasi dan lokasi pengungsian diminta untuk diverifikasi ulang guna memastikan keamanan masyarakat apabila terjadi kondisi darurat. Hal ini penting untuk meminimalisir risiko korban jiwa saat proses evakuasi berlangsung.
Pemerintah Aceh juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam penanganan bencana. Koordinasi intensif harus dilakukan dengan TNI/Polri serta instansi vertikal seperti BPJN, BWSS, SAR, PLN, dan Telkom agar komunikasi dan respons berjalan optimal.
Optimalisasi sistem peringatan dini (early warning system) menjadi salah satu fokus utama dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Camat, keuchik, dan perangkat desa diminta aktif menyebarkan informasi cuaca kepada masyarakat melalui berbagai kanal komunikasi, termasuk media lokal dan grup digital.
“Jangan ada informasi yang terputus. Serangkaian langkah preventif ini diharapkan mampu meminimalisir risiko dampak cuaca ekstrem selama periode siaga yang berlangsung hingga 20 April 2026,” tegas M. Nasir.
Di tingkat daerah, Bupati Aceh Barat Daya Safaruddin juga mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi warga yang tinggal di kawasan rawan bencana.
“Mengingat kondisi seperti ini, saya mengimbau kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Seluruh OPD juga harus menyiapkan kesiapsiagaan,” ujarnya.
Safaruddin menegaskan pentingnya kesiapan personel dan peralatan di tingkat BPBK, serta perlunya pemantauan intensif di wilayah rawan. Dia juga mengingatkan masyarakat untuk terus mengikuti informasi cuaca dan menghindari aktivitas di daerah berisiko tinggi.
“Masyarakat juga kita imbau agar memantau informasi cuaca secara berkala dan menghindari aktivitas di daerah-daerah rawan bencana saat terjadinya angin dan hujan lebat,” katanya.
Selain itu, pemerintah gampong diminta memastikan seluruh saluran air dalam kondisi bersih guna mencegah penyumbatan yang dapat memicu banjir.
“Deteksi dini dan persiapan itu penting untuk meminimalisir dampak bencana. Maka, seluruh saluran di gampong-gampong harus dibersihkan,” ujar Safaruddin.
Dia juga berharap seluruh unsur Forkopimda dapat bekerja sama dalam menghadapi potensi bencana tersebut. “Insya Allah dengan kerja sama semua pihak, kita dapat meminimalisir dampak bencana jika itu terjadi,” pungkasnya.