Perum Bulog Cabang Batam, Kepulauan Riau (Kepri), merealisasikan penyaluran beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di wilayah Kota Batam ... [303] url asal
Untuk Oktober saja sampai tanggal 11 sudah mencapai lebih dari 100 ton
Batam (ANTARA) - Perum Bulog Cabang Batam, Kepulauan Riau (Kepri), merealisasikan penyaluran beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di wilayah Kota Batam dan Kabupaten Karimun sebanyak 101,1 ton dalam periode 1 hingga 11 Oktober 2025.
Kepala Perum Bulog Cabang Batam Guido XL Pereira mengatakan angka tersebut menjadi bagian dari total realisasi 543 ton yang tersalurkan sejak periode Juli hingga Oktober 2025.
“Untuk Oktober saja sampai tanggal 11 sudah mencapai lebih dari 100 ton. Kami terus memaksimalkan penjualan beras SPHP di pasar-pasar maupun melalui mitra resmi Bulog,” ujar Guido dihubungi di Batam, Ahad.
Ia menjelaskan target penyaluran beras SPHP untuk wilayah kerja Bulog Cabang Batam tahun ini mencapai 3.658 ton.
Pihaknya optimistis realisasi akan terus meningkat dengan permintaan masyarakat terhadap beras medium dengan harga terjangkau.
“Sekarang per bulan rata-rata penjualan beras SPHP di 200 ton di Agustus dan September,” kata dia.
Sementara itu, terkait serapan komoditas lain seperti gabah dan beras lokal, Guido menyebut hingga saat ini belum ada realisasi serapan di wilayah kerja Bulog Batam.
Hal tersebut karena wilayah sentra panen seperti di Tanjung Batu Karimun, Penyalai dan Kuala Kampar di Riau belum memasuki masa panen.
“Untuk jagung pipil, kami baru menyerap 3.300 kilogram, terdiri dari 2.700 kilogram di Bulog Batam dan 600 kilogram di Bulog Karimun. Minggu depan akan ada tambahan serapan sekitar 1.200 kilogram di Karimun,” kata Guido.
Meski stok jagung di gudang sudah mencapai 3,3 ton, Guido mengatakan belum ada instruksi dari Bulog pusat untuk melakukan penjualan.
Sementara itu, untuk penyaluran bantuan pangan berupa beras bagi masyarakat, Guido menyebutkan bahwa hingga saat ini kegiatan tersebut belum dimulai.
“Jika sudah ada jadwal peluncuran resmi dari Bulog pusat, akan segera kami informasikan,” katanya.
Direktur Eksekutif Next Indonesia Center Christiantoko menilai perlu perluasan jaringan gas (jargas) dan reformasi mekanisme subsidi untuk mengurangi beban ... [367] url asal
Memperluas jargas dan reformasi mekanisme subsidi lebih tepat sasaran merupakan langkah penting keluar dari jebakan ‘pukulan ganda’
Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Next Indonesia Center Christiantoko menilai perlu perluasan jaringan gas (jargas) dan reformasi mekanisme subsidi untuk mengurangi beban subsidi LPG.
“Memperluas jaringan gas serta mereformasi mekanisme subsidi menjadi lebih tepat sasaran merupakan langkah penting untuk keluar dari jebakan ‘pukulan ganda’,” ucap Christiantoko, dikonfirmasi ANTARA di Jakarta, Minggu.
Christiantoko menyampaikan Pemerintah Indonesia saat ini menderita pukulan ganda dalam upaya menyediakan LPG yang terjangkau untuk masyarakat.
Subsidi LPG 3 kg, tutur dia, terus naik dan sempat melampaui Rp100 triliun pada 2022, seiring dengan semakin banyaknya masyarakat yang membutuhkan LPG 3 kg. Sementara itu, biaya impor LPG 3 kg juga terus naik.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Next Indonesia Center melalui situs Kementerian Keuangan dan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai subsidi LPG 3 kg sebesar Rp32,8 triliun pada 2020; naik menjadi Rp67,6 triliun pada 2021; lalu meroket hingga Rp100,4 triliun pada 2022; turun ke angka Rp74,3 triliun pada 2023; sebelum naik lagi ke Rp80,2 triliun pada 2024.
Pukulan kedua datang dari nilai impor gas yang juga fluktuatif, yakni dari Rp37,6 triliun pada 2020; naik menjadi Rp58,6 triliun (2021); lalu Rp72,7 triliun (2022); turun menjadi Rp56,1 triliun (2023); dan kembali naik menjadi Rp60,3 triliun (2024).
Oleh karena itu, Christiantoko menyampaikan perlunya perluasan jaringan gas dan mereformasi mekanisme subsidi untuk mengurangi beban subsidi LPG.
Saat ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendapatkan tambahan anggaran sebesar Rp8,55 triliun untuk tambahan pembangunan jaringan gas rumah tangga hingga eksplorasi batu bara.
Di sisi lain, data penerima subsidi LPG masih dimatangkan. Pematangan data penerima subsidi itu sudah disiapkan sejak awal 2025. Pematangan data serupa juga berlaku untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Data penerima subsidi tersebut bersumber dari data Kementerian Sosial, PLN, Pertamina, dan pemangku kepentingan lainnya. Pemerintah memutuskan untuk menyatukan data tersebut melalui BPS.
Selain perluasan jargas dan reformasi mekanisme subsidi, Christiantoko juga mendorong investasi infrastruktur LPG dan peningkatan produksi domestik.
“Pemerintah juga perlu meningkatkan transparansi perdagangan gas agar selisih data impor/ekspor tidak menjadi celah bagi illicit financial flow,” kata dia.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga cabai rawit merah turun menjadi Rp44.652 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp45.745 per kg, begitu pun bawang ... [448] url asal
beras premium di tingkat pedagang eceran secara nasional di harga Rp15.923 per kg turun dari sebelumnya Rp15.924 per kg
Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga cabai rawit merah turun menjadi Rp44.652 per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp45.745 per kg, begitu pun bawang merah Rp38.408 per kg turun dari sebelumnya Rp38.539 per kg.
Berdasarkan data dari Panel Harga Bapanas di Jakarta, Minggu pukul 10.20 WIB harga pangan lainnya di tingkat pedagang eceran secara nasional beras premium di harga Rp15.923 per kg turun dari sebelumnya Rp15.924 per kg.
Kemudian beras medium turun menjadi Rp13.712 per kg turun dari sebelumnya Rp13.809 per kg, beras Stabilitas Pasokan Harga Pangan (SPHP) Rp12.495 per kg turun tipis dari sebelumnya Rp12.527 per kg.
Komoditas jagung Tk peternak tercatat Rp6.681 per kg turun dari sebelumnya Rp6.685 per kg; kedelai biji kering (impor) Rp10.603 per kg turun dari sebelumnya Rp10.697 per kg.
Berikutnya bawang putih bonggol di harga Rp36.689 per kg turun dari hari sebelumnya Rp37.060 per kg.
Selanjutnya, komoditas cabai merah keriting di harga Rp55.662 per kg turun dari sebelumnya Rp58.660 per kg; lalu cabai merah besar di harga Rp49.347 per kg turun dari sebelumnya Rp51.160 per kg.
Lalu daging sapi murni Rp134.996 per kg naik dari sebelumnya Rp135.059 per kg, daging ayam ras Rp38.217 per kg naik dari sebelumnya Rp37.841 per kg, lalu telur ayam ras Rp30.282 per kg turun dari sebelumnya Rp30.302 per kg.
Sementara itu, gula konsumsi di harga Rp17.964 per kg turun dari sebelumnya Rp18.019 per kg.
Kemudian, minyak goreng kemasan Rp20.893 per liter naik dari sebelumnya Rp20.892 per liter; minyak goreng curah Rp17.531 per liter naik dari sebelumnya Rp17.495 per liter; Minyakita Rp17.261 per liter turun dari sebelumnya Rp17.433 per liter.
Selanjutnya, tepung terigu curah Rp9.664 per kg turun dari sebelumnya Rp9.731 per kg; lalu tepung terigu kemasan Rp12.829 per kg turun dari sebelumnya Rp12.942 per kg.
Komoditas ikan kembung di harga Rp41.911 per kg naik dari sebelumnya Rp41.797 per kg; ikan tongkol Rp34.198 per kg turun dari sebelumnya Rp34.553 per kg; ikan bandeng Rp34.225 per kg turun dari sebelumnya Rp35.057 per kg.
Selanjutnya, garam konsumsi di harga Rp11.246 per kg turun dari hari sebelumnya Rp11.545 per kg.
Sementara itu, daging kerbau beku (impor) di harga Rp102.373 per kg turun dari sebelumnya Rp105.610 kg, daging kerbau segar lokal Rp139.423 per kg turun dari sebelumnya mencapai Rp140.778 per kg.
Berikut sejumlah pemberitaan sektor ekonomi pada Sabtu (11/10), yang menarik untuk dibaca kembali pada Minggu ini, mulai dari pembahasan kenaikan upah minimum ... [447] url asal
untuk sementara penyebab listrik padam diduga karena penurunan beban penyulang di terminal internasional Bandara Ngurah Rai
Jakarta (ANTARA) - Berikut sejumlah pemberitaan sektor ekonomi pada Sabtu (11/10), yang menarik untuk dibaca kembali pada Minggu ini, mulai dari pembahasan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) hingga imbauan untuk mewaspadai kepadatan lalu lintas imbas perbaikan di Tol Jakarta-Cikampek.
1. Menaker: Pembahasan kenaikan UMP masih dalam proses
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan pembahasan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) masih berada dalam proses oleh para pihak terkait.
“Ini (UMP) sedang proses, ditunggu saja. Prosesnya, kita sedang mengembangkan konsep. Ada kajian (terkait kenaikan UMP) ini, ya,” kata Menaker Yassierli saat dijumpai di sela-sela acara Indonesia International Sustainability Forum (IISF), Jakarta, Sabtu.
2. PLN ungkap penyebab listrik padam di Bandara Ngurah Rai Bali
PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali mengungkap penyebab padamnya listrik di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali pada Jumat (10/10), pukul 18.13 Wita sampai dengan 19.18 Wita.
General Manager PLN UID Bali Eric Rossi Priyo Nugroho dalam keterangannya di Denpasar, Sabtu, mengatakan untuk sementara penyebab listrik padam diduga karena adanya penurunan beban penyulang (feeder)di terminal internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
3. ASDP: Layanan penyeberangan aman di tengah erupsi Gunung Lewotobi
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memastikan seluruh layanan penyeberangan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap berjalan dengan aman dan terkendali, menyusul erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur.
"ASDP siap siaga memastikan layanan penyeberangan tetap berjalan aman dan efisien. Dalam situasi bencana sekalipun, kami tetap berkomitmen menjaga konektivitas dan memberikan layanan terbaik bagi masyarakat,” kata Direktur Utama ASDP Heru Widodo dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
4. Jasamarga rekayasa akses GT Padalarang Timur selama rekonstruksi tol
Jasamarga melakukan rekayasa lalu lintas di akses keluar Gerbang Tol (GT) Padalarang Timur selama beberapa hari untuk mendukung pekerjaan rekonstruksi perkerasan di ruas Tol Padaleunyi, tepatnya di akses keluar GT Padalarang Timur.
Senior Manager Representative Office 3 Jasamarga Metropolitan Tollroad Regional Division, Agni Mayvinna dalam keterangannya di Purwakarta, Jawa Barat, Sabtu, menyampaikan pihaknya memohon maaf atas ketidaknyamanan yang timbul akibat pekerjaan di ruas tol tersebut.
5. Jasamarga: Waspada kepadatan Tol Japek imbas perbaikan lima titik
PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) mengimbau pengendara untuk mewaspadai potensi kepadatan lalu lintas di Tol Jakarta-Cikampek imbas pekerjaan perbaikan pada lima titik ruas jalan tersebut dalam sepekan ke depan.
"Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin dirasakan pengguna jalan selama proses pekerjaan berlangsung," kata Vice President Corporate Secretary & Legal PT JTT Ria Marlinda Paallo di Bekasi, Sabtu.
Di balik nyala listrik yang stabil dan bersih dari PLTU Bengkayang, Kalimantan Barat, tersimpan kisah tentang tangan-tangan kecil yang bekerja dalam senyap. ... [1,557] url asal
Bengkayang (ANTARA) - Di balik nyala listrik yang stabil dan bersih dari PLTU Bengkayang, Kalimantan Barat, tersimpan kisah tentang tangan-tangan kecil yang bekerja dalam senyap. Mereka bukan teknisi, bukan insinyur, melainkan ibu rumah tangga.
Mereka adalah sosok-sosok tangguh yang mengumpulkan limbah serbuk gergaji, menopang program cofiring biomassa dari akar rumput menuju energi bersih yang jarang tersorot.
PLTU Bengkayang menerapkan teknologi cofiring, yaitu mencampurkan biomassa berupa sisa-sisa olahan kayu ke dalam pembakaran batubara, sejak Juli 2024.
Setiap pagi, sebelum matahari tinggi, Selawati, ibu muda berusia 21 tahun warga Desa Duri 2, kecamatan Sungai Kunyit Kabupaten Mempawah sudah bersiap. Dengan satu anak yang ditinggal sebentar di rumah, ia dan sang suami mulai memasukkan serbuk kayu sisa-sisa kayu yang digergaji dari tempat penggergajian kayu dekat rumahnya.
Kegiatan itu telah menjadi rutinitas harian, menggantikan pekerjaan lamanya yang jauh lebih berat dan berisiko.
"Dulu saya cari kayu cerocok ke hutan, satu jam naik perahu. Sekarang tinggal kumpulkan sawdust (serbuk kayu) depan rumah," ujar Selawati sambil tersenyum dan tangannya tetap sibuk memasukkan serbuk kayu ke karung.
Dalam sehari, mereka bisa mengumpulkan 50–60 karung. Setiap karung dihargai Rp4.000 oleh PT Senator Karya Manages (SKM), mitra PLN dalam penyediaan bahan cofiring untuk PLTU.
Selawati tinggal di sebuah desa yang letaknya strategis, tak jauh dari dua proyek raksasa negara: Smelter PT BAI dan Pelabuhan Internasional Kijing. Namun, meski berada di jantung pembangunan nasional, denyut kehidupan warga di sini tetap berpijak pada alam.
Desa Sungai Duri 2 merupakan desa mandiri, jalan-jalannya sudah mulus, memudahkan akses ke kota dan pelabuhan. Namun, sumber penghasilan utama warganya belum banyak berubah, sebagian warga bekerja sebagai pencari kayu di hutan, sebagai nelayan dan pedagang kecil.
Mereka tetap hidup bersahaja, menggantungkan harapan dari hutan dan laut, bahkan ketika proyek-proyek besar terus tumbuh di sekeliling mereka.
Bagi Selawati, keberadaan smelter dan pelabuhan internasional belum sepenuhnya mengubah kesehariannya. Dia bukan satu-satunya. Ada puluhan ibu rumah tangga di kampung itu yang kini menggantungkan hidup dari limbah serbuk kayu.
Satu demi satu karung yang dikumpulkan berarti satu demi satu kebutuhan rumah tangga yang terpenuhi. Di tengah keterbatasan, program ini menjelma jadi harapan.
Program cofiring biomassa tidak hanya mengubah arah pengelolaan energi nasional menuju energi bersih, tetapi juga membuka lapangan kerja informal bagi masyarakat sekitar, terutama kaum perempuan yang sebelumnya hanya menjadi buruh kasar atau pengangguran tak berpenghasilan.
Sementara itu, di sudut lain Kalimantan Barat, tepatnya di Desa Megatimur, Sungai Ambawang, Kubu Raya, seorang ibu rumah tangga lain turut merasakan dampak nyata program cofiring. Namanya Baiti (25), ibu dua anak yang kini bekerja di fasilitas produksi biomassa milik CV Rezeki Insan Lestari (RIL), mitra PLN yang menyuplai wood chip ke PLTU Bengkayang.
Setiap pagi, Baiti bersama rekan kerjanya, Apung, mendorong gerobak kecil berisi potongan kayu menuju mesin pencacah. Jaraknya hanya lima meter, namun langkah mereka membawa lebih dari sekadar kayu, mereka menggerakkan roda ekonomi rumah tangga mereka sendiri.
"Saya dibayar Rp75 ribu per hari. Dulu cuma dapat Rp50 ribu per hari sebagai buruh cuci," kenang Baiti.
Kini, ia bahkan bisa menabung dan ikut arisan mingguan. Penghasilan tetap yang sebelumnya hanya impian, kini jadi kenyataan.
Dengan jam kerja yang relatif manusiawi, pukul 08.00 hingga 11.00, istirahat, lalu lanjut pukul 13.00 sampai 17.00, Baiti bisa tetap mengurus rumah dan anak-anaknya. Program ini bukan hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga memberikan ruang bagi perempuan untuk tetap menjalankan peran ganda mereka tanpa terpinggirkan.
Program cofiring biomassa di PLTU Bengkayang nyatanya bukan sekadar inovasi energi. Ia adalah jembatan antara limbah dan keberdayaan, antara rumah tangga sederhana dan ekonomi sirkular. Dan di tengahnya berdiri para perempuan yang selama ini tak terlihat: ibu rumah tangga yang menjadi pahlawan energi.
Dalam tumpukan serbuk kayu dan kayu cacah, tersimpan kisah perjuangan. Kisah bahwa perubahan bisa dimulai dari rumah, dari dapur, dari tangan-tangan ibu yang penuh ketekunan.
Peluang ekonomi baru
Sejak pertengahan 2024, PT Senator Karya Manages (SKM) mulai mengembangkan biomassa berbasis limbah kayu di Kabupaten Bengkayang dan Mempawah, Kalimantan Barat. Mengandalkan bahan baku dari masyarakat lokal, perusahaan ini memproduksi woodchip dan sawdust (serbuk gergaji) untuk cofiring biomassa kebutuhan energi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Bengkayang.
PT SKM telah menjadi mitra strategis PLN dalam penyediaan bahan baku cofiring di PLTU Bengkayang. Program cofiring biomassa telah membawa dampak positif bagi warga Kalimantan Barat, terutama ibu rumah tangga yang bekerja sebagai pengumpul sawdust. Program ini telah memberikan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan keluarga.
Penanggung jawab PT SKM Nur Jaman mengatakan program energi terbarukan (EBT) melalui pemakaian biomassa untuk bahan bakar pencampur atau cofiring di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Bengkayang ditujukan agar mampu memberikan manfaat positif bagi masyarakat.
PT SKM berharap upaya itu dapat meningkatkan penghasilan masyarakat melalui pemanfaatan limbah sawmill berupa sawdust yang selama ini terabaikan.
"Selama ini sawdust itu dibiarkan begitu saja. Daripada terbengkalai, sekarang dimanfaatkan sehingga mampu membuka lapangan kerja baru dan pastinya menambah penghasilan bagi masyarakat," katanya.
Dia mengatakan rata-rata pengumpulan sawdust dari warga mencapai 790 ton per bulan. Pekerjanya kebanyakan ibu rumah tangga dan pemuda yang sebelumnya masih menganggur.
"Siapapun masyarakat bisa menjualnya ke kami, kami siap terima. Karena kebutuhan kami itu setiap bulannya mencapai 790 ton untuk menyuplai ke PLTU. Sawdust ini juga ada yang diambil dari luar lokasi perusahaan," ujarnya.
“Awalnya kami memanfaatkan sawdust yang sebelumnya tidak terpakai. Setelah itu kami mulai produksi woodchip. Setiap hari kami bisa hasilkan sekitar 20 ton woodchip, atau sekitar lima mobil pengangkut per hari,” kata dia.
Dalam prosesnya, perusahaan ini menyerap empat orang tenaga kerja lokal dengan gaji bulanan antara Rp3 juta untuk tenaga bantu dan Rp3,5juta-Rp4,5juta untuk operator mesin.
“Kami terbuka untuk siapa pun masyarakat yang ingin menjual kayunya, baik kayu karet, rambutan, maupun durian. Bahkan, kami beli per karung serbuk kayu seharga Rp4ribu, ujarnya.
PT SKM menyuplai biomassa woodchip untuk kebutuhan PLTU dengan kapasitas hingga 390 ton per bulan dan 790 ton untuk sawdust per bulan.
Tumpukan Woodchip milik PT SKM yang siap dikirim ke PLTU Bengkayang. ANTARA/Narwati/am.
Untuk menjamin keberlanjutan pasokan, SKM mulai merintis penanaman pohon jangka panjang di Mempawah dengan luas lahan sekitar 5 hektare, sekaligus melakukan pembibitan pohon penghasil kayu biomassa.
Meski memiliki potensi besar, Nur Jaman mengungkapkan bahwa operasional tidak lepas dari kendala.
“Bahan baku dari Bengkayang melimpah, tapi terkendala akses dari hulu yang jauh. Selain itu, kapasitas mesin produksi yang kecil seringkali mengganggu kelancaran suplai,” ujarnya.
Saat ini sistem kerja sama dengan penyedia bahan baku masih berbasis Memorandum of Understanding (MoU) dan belum memiliki regulasi khusus yang mengatur praktik pemanfaatan limbah kayu oleh masyarakat.
“Yang jelas, keberadaan kami memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat lewat penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan dari hasil menjual kayu,” ujarnya.
Dengan memasok limbah sawdust secara konsisten, PT SKM turut mendukung keberhasilan program cofiring yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Sementara itu, pemilik CV RIL, Supriyadi, memastikan seluruh tenaga kerja difasilitas produksinya berasal dari masyarakat lokal di sekitar lokasi. Langkah ini diambil sebagai bentuk kontribusi perusahaan dalam memberdayakan ekonomi warga setempat.
“Seluruh pekerja saya adalah warga sekitar. Saya senang karena keberadaan fasilitas ini bisa memberi manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Supriyadi.
Supriyadi menjelaskan bahwa upah pekerja yang ia berikan berkisar antara Rp75 ribu hingga Rp120 ribu per hari, tergantung beban kerja dan jam kerja. Jika terjadi lembur, upah pun ditambahkan.
Tak hanya menyerap tenaga kerja lokal, CV RIL juga memanfaatkan limbah kayu karet sebagai bahan baku utama produksi biomassa. Limbah tersebut umumnya berasal dari kebun-kebun karet milik warga yang kini mulai diganti dengan tanaman kelapa sawit.
“Banyak kebun karet yang ditinggalkan karena diganti sawit. Kayunya tidak dimanfaatkan, jadi kami olah jadi sesuatu yang bernilai,” ujarnya.
Menariknya, warga juga turut menyuplai kayu yang hanyut terbawa arus sungai. Limbah kayu yang dikumpulkan kemudian disetorkan ke fasilitas produksi CV RIL.
“Selain sungai jadi bersih, warga juga dapat penghasilan tambahan dari hasil mengumpulkan kayu limbah,” ujarnya.
Meski demikian, Supriyadi menyadari bahwa ketergantungan pada limbah kayu bukan solusi jangka panjang. Karena itu, ia mulai mempersiapkan langkah keberlanjutan dengan menyediakan bibit pohon akasia di depan fasilitas produksinya, yang bisa ditanam oleh warga yang berminat.
Dalam sehari, CV RIL mampu mengirimkan antara 20 hingga 25 ton biomassa ke PLTU Bengkayang. Ia berharap, program co-firing biomassa yang dijalankan PLN dapat terus berlanjut secara berkelanjutan.
Dorong keterlibatan masyarakat
PLN Energi Primer Indonesia (EPI) mencatat kebutuhan biomassa untuk mendukung program energi terbarukan di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Bengkayang masih terbuka lebar. Hingga kini, tercatat lebih dari 17 ribu ton biomassa telah dikirimkan ke PLTU Bengkayang melalui mitra PLN. Jumlah tersebut meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan Tahun 2024.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan bahwa peluang besar masih tersedia bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyediaan biomassa sebagai bagian dari komitmen terhadap energi berbasis kerakyatan.
“Kami harap lebih banyak lagi masyarakat yang dapat terlibat dalam ekosistem biomassa ini,” ujarnya.
PLTU Bengkayang telah menerapkan teknologi cofiring dengan mencampurkan biomassa sawdust sebagai substitusi batu bara sejak Juli 2024.
Sawdust yang digunakan berasal dari limbah kilang kayu (sawmill) yang sebelumnya menjadi ancaman pencemaran lingkungan dan berpotensi memicu kebakaran lahan. Kini, limbah tersebut justru menjadi sumber energi alternatif yang dimanfaatkan dengan komposisi hingga maksimal di 10 persen dari total bahan bakar harian.
Selain mendukung transisi energi, program cofiring ini juga berdampak pada ekonomi lokal. Pengusaha sawmill mendapat peluang usaha baru, sementara masyarakat sekitar memperoleh lapangan kerja.
“Adanya program cofiring di PLTU Bengkayang dirasa dapat memberikan nilai ekonomi, meningkatkan penghasilan, serta menyerap tenaga kerja baru,” katanya.
BUMN PT Pertamina Patra Niaga mengembangkan ekonomi sirkular melalui konsep inovasi waste to value yang mampu mengolah sampah menjadi berbagai produk bernilai ... [357] url asal
kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan seiring dengan peningkatan taraf hidup masyarakat
Jakarta (ANTARA) - BUMN PT Pertamina Patra Niaga mengembangkan ekonomi sirkular melalui konsep inovasi waste to value yang mampu mengolah sampah menjadi berbagai produk bernilai tambah dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun dalam keterangan diterima di Jakarta, Minggu, mengatakan konsep waste to value di Program Kampung Pangan Berseri dapat mengubah limbah menjadi sumber manfaat baru, seperti sampah organik yang diolah menjadi pupuk hingga, pemanfaatan air hujan.
“Lewat inovasi Waste to Value di Kampung Pangan Berseri, kami ingin membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa berjalan seiring dengan peningkatan taraf hidup masyarakat,” ujar Roberth.
Konsep Waste to Value itu dijalankan dalam Program Kampung Pangan Berseri oleh Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Integrated Terminal (IT) Balikpapan di Kampung Muara Rapak, Balikpapan, Kalimantan Timur.
Salah satu inovasi Waste to Value adalah adalah Enzymatic Microorganism Oil Catcher (EMO) atau teknologi berbasis bakteri Bacillus amyloliquefaciens yang bisa mengurai limbah minyak dan lemak.
Dengan begitu, air limbah menjadi jauh lebih jernih dengan tingkat kekeruhan yang turun dari 3,75 NTU ke 1,7 NTU dengan penurunan kadar bakteri. Selain lebih sehat, teknologi ini juga menghemat biaya perawatan pengolahan limbah hingga Rp16 juta setiap enam bulan.
Selain limbah cair, sampah organik juga diolah menjadi pupuk Ecomix dengan pengolahan 1,2 ton sampah organik setiap tahun. Hasil pengolahan sampah organik itu adalah pupuk yang digunakan untuk hidroponik dan pertanian pekarangan, sekaligus menekan biaya pupuk hingga Rp1,38 juta per tahun.
Masyarakat juga, menurut Roberth, dapat memanfaatkan air hujan melalui sistem Rainwater Harvesting yang mampu menghemat biaya air sampai Rp340 juta per tahun.
"Program ini berdampak pada penurunan emisi gas rumah kaca di mana berkurang 115,97 ton CO₂eq (ekuivalen karbon dioksida) per tahun, ada penyerapan karbon hingga 16,35 ton CO₂eq, dan omzet produk pertanian warga melonjak hingga Rp108,8 juta per tahun," ujarnya.
Menurut Pertamina Patra Niaga, program waste to value juga membuka peluang bagi lansia, ibu rumah tangga, penyandang disabilitas, dan masyarakat prasejahtera untuk ikut berkarya lewat kegiatan urban farming dan pengelolaan lingkungan.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Jawa Timur membentuk kluster pertanian cabai di beberapa kecamatan untuk menjaga pasokan dan menstabilkan harga pasar ... [350] url asal
Lumajang, Jawa Timur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang, Jawa Timur membentuk kluster pertanian cabai di beberapa kecamatan untuk menjaga pasokan dan menstabilkan harga pasar di kabupaten setempat.
"Untuk menstabilkan harga cabai yang sempat naik beberapa pekan terakhir, kami mengambil langkah strategis dengan membentuk kluster pertanian cabai," kata Kepala Bidang Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang Hendra Suwandaru dalam keterangannya di kabupaten setempat, Minggu.
Menurutnya program itu fokus pada produksi cabai rawit dan cabai merah besar di Kecamatan Sumbersuko, Pasrujambe, Senduro, Lumajang, dan Kunir, dengan tujuan menjaga pasokan dan kualitas hasil panen.
"Langkah itu sekaligus mempermudah pengawasan terhadap kualitas cabai dan penanganan hama secara terpadu," tuturnya.
Dengan adanya kluster, lanjut dia, produksi cabai lebih terkontrol sehingga harga di pasar tidak mudah naik tajam dan petani juga bisa berbagi praktik terbaik untuk hasil panen yang maksimal.
Ia mengatakan langkah itu sangat dibutuhkan karena harga cabai di Lumajang memang sempat berfluktuasi.
Data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur menunjukkan, per 1 Oktober 2025 harga rata-rata cabai di tingkat konsumen yakni cabai merah keriting Rp39.666/kg, cabai merah besar Rp50.000/kg, dan cabai rawit merah Rp45.000/kg.
Hingga 11 Oktober 2025, harga di pasar utama seperti Pasar Baru, Pasar Sukodono, dan Pasar Pasirian tercatat stabil yakni cabe merah keriting Rp40.000/kg, cabai merah besar Rp50.000/kg, dan cabe rawit merah Rp35.000/kg.
Menurut Hendra, ada beberapa penyebab fluktuasi harga sebelumnya, seperti stok cabai yang mulai menipis, cuaca yang tidak menentu sehingga cabai cepat busuk, serta serangan hama seperti petek, antraknosa, dan layu fusarium yang menurunkan hasil panen.
Salah satu kelompok tani (Poktan) yang sudah tergabung dalam kluster, Poktan Awan Gono diketuai Sulkhan Maarif, menyambut baik inisiatif tersebut.
"Kluster membuat kami bisa berbagi pengalaman dan menjaga kualitas panen. Hasilnya, harga di pasar pun lebih stabil,” katanya.
Program kluster cabai DKPP Lumajang menjadi contoh langkah solutif pemerintah daerah dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani lokal. Dengan koordinasi yang baik, diharapkan fluktuasi harga cabai dapat diminimalkan dan pasokan tetap aman untuk masyarakat.