Prediksi Nasib Ekonomi RI 2025 usai Ekspor Tertekan 2 Bulan Beruntun
Ekspor Indonesia turun dua bulan berturut-turut pada akhir 2025, dipicu oleh penurunan harga CPO dan batu bara.
(Bisnis.Com) 05/01/26 21:00 94221
Bisnis.com, JAKARTA — Penurunan ekspor Indonesia pada akhir 2025 dipicu utamanya oleh komoditas andalan seperti minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) hingga batu bara. Ada risiko pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan pemerintah 5,2% pada 2025.
Sebagai informasi, ekspor Indonesia sepanjang Oktober dan November 2025 mengalami pelemahan yang cukup tajam. Kontraksi yang terjadi di November 2025 semakin dalam yakni menjadi 6,6% secara tahunan atau year-on-year (YoY), dibandingkan pada Oktober 2025 lalu yakni 2,31% (YoY).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekspor Indonesia pada November 2025 senilai US$22,5 miliar. Nilai tersebut turun 6,6% secara tahunan atau (YoY) dari US$24,11 miliar pada November 2024.
Kontraksi juga terjadi secara bulanan atau month-on-month (MoM) lantaran ekspor Oktober 2025 saat itu mencapai US$24,23 miliar. Penurunan itu melanjutkan dari bulan September 2025 yakni US$24,67 miliar.
Menurut Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede, kontraksi ekspor dua bulan terakhir itu pada dasarnya mencerminkan kombinasi faktor harga dan permintaan, bukan semata-mata penurunan kapasitas produksi.
Josua melihat bahwa penurunan nilai ekspor pada November dari Oktober 2025 sebesar US$1,7 miliar terjadi terutama pada ekspor nonmigas yang ikut melemah, di tengah bertahannya surplus neraca dagang sampai 67 bulan berturut-turut.
"Pemicu terbesarnya ada di komoditas utama, terutama minyak kelapa sawit, batu bara, serta beberapa produk berbasis logam, yang nilainya sensitif terhadap pergerakan harga dunia dan perubahan permintaan dari mitra dagang besar seperti Tiongkok dan India," terang Josua kepada Bisnis, Senin (5/1/2025).
Josua mengatakan penurunan ekspor minyak kelapa sawit atau CPO terlihat jelas karena koreksi harga setelah periode permintaan musiman yang lebih tinggi. Akibatnya, nilai ekspornya turun tajam dibanding bulan sebelumnya.
Di samping itu, kenaikan nilai ekspor emas dan sebagian produk nikel dinilai membantu menahan penurunan, tetapi belum cukup untuk mengimbangi pelemahan komoditas lain.
Pada saat yang sama, lanjut Josua, tren normalisasi harga komoditas energi dan mineral membuat pelemahan ekspor secara tahunan masih terjadi, sehingga ketika masuk ke kuartal akhir, ekspor lebih mudah terkoreksi saat permintaan global belum benar-benar kuat dan industri dunia masih bergerak tidak merata.
Menurut ekonom lulusan Universitas Indonesia (UI) hingga University of Amsterdam itu, ada risiko penurunan ekspor belakangan ini terhadap target pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025. Namun, dia menilai dampaknya sangat tergantung apabila pelemahan ekspor bersifat sementara atau berlanjut beberapa kuartal.
"Jika ekspor melemah berkepanjangan sementara impor naik karena kebutuhan produksi dan investasi, maka kontribusi perdagangan luar negeri ke pertumbuhan bisa mengecil, bahkan berpotensi menahan laju pertumbuhan melalui kanal pendapatan sektor komoditas dan aktivitas industri terkait," terangnya.
Di sisi lain, Josua melihat masih ada sinyal penopang lain yaitu surplus dagang yang masih terjaga dan peningkatan impor barang modal. Hal ini biasanya mencerminkan investasi dan penambahan kapasitas produksi.
"Artinya, penurunan ekspor saat ini masih mungkin diimbangi oleh dorongan permintaan domestik dan investasi, sehingga target 5,2% tetap realistis selama penguatan konsumsi, percepatan belanja pemerintah, dan kelancaran proyek investasi berjalan konsisten, serta ekspor tidak jatuh lebih dalam karena guncangan harga komoditas atau perlambatan ekonomi mitra dagang," terangnya.
Sebagaimana diketahui, pertumbuhan PDB ekspor pada kuartal III/2025 lalu merupakan yang tertinggi yakni mencapai 9,91% (YoY). Saat itu, ekonomi Indonesia tumbuh 5,04% (YoY).
#ekspor-indonesia #penurunan-ekspor #ekspor-minyak-kelapa-sawit #ekspor-batu-bara #pertumbuhan-ekonomi-indonesia #target-ekonomi-2025 #kontraksi-ekspor #surplus-neraca-dagang #harga-komoditas-dunia #pe