Pengamat Sarankan Empat Cara Ini untuk Industri Asuransi Umum Hadapi Tantangan 2026

Pengamat Sarankan Empat Cara Ini untuk Industri Asuransi Umum Hadapi Tantangan 2026

Industri asuransi umum dihadapkan pada tantangan 2026. Pengamat menyarankan literasi pasar, digitalisasi, inovasi produk, dan manajemen risiko yang kuat.

(Bisnis.Com) 23/12/25 20:49 83220

Bisnis.com, JAKARTA — Industri asuransi umum pada 2026 diproyeksikan masih berada di jalur positif, meski pertumbuhan mungkin moderat dan sangat dipengaruhi kondisi ekonomi makro.

Ketua Umum Komunitas Penulis Asuransi Indonesia (Kupasi) Azuarini Diah Parwati menyarankan empat cara yang bisa dilakukan perusahaan asuransi umum dalam menghadapi tantangan 2026.

Cara pertama yang dia sarankan adalah perusahaan asuransi umum didorong untuk memperkuat literasi dan edukasi pasar. Hal ini bisa dilakukan melalui program edukasi, kampanye digital, dan kolaborasi dengan regulator serta media.

Kemudian, digitalisasi proses bisnis dengan mengoptimalkan adopsi teknologi untuk distribusi produk, underwriting berbasis data, proses klaim yang cepat dan transparan, serta integrasi dengan platform digital,” sebutnya kepada Bisnis, Senin (22/12/2025) malam.

Ketiga, pengamat asuransi ini menyarankan agar perusahaan asuransi umum menginovasikan produk dengan berbasis pada kebutuhan nyata.

“Misalnya, menawarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan segmen tertentu seperti UMKM, properti komersial, pertanian, nat-cat, termasuk asuransi parametrik atau pay-per-use untuk menarik basis pelanggan baru,” ucap Azuarini.

Adapun, saran terakhirnya yakni perusahaan harus memiliki manajemen risiko yang kuat. Hal ini bisa dilakukan dengan meningkatkan kemampuan aktuaria dan manajemen risiko untuk menghadapi volatilitas klaim, termasuk risiko iklim dan menjaga kesehatan portofolio underwriting.

Lebih lanjut, Azuarini membeberkan tantangan yang akan dihadapi industri asuransi umum tahun depan. Pertama, regulasi dan kepatuhan permodalan akan menuntut perusahaan memperkuat struktur modal dan tata kelola. Bagi perusahaan yang tidak siap, maka akan mengalami tekanan likuiditas atau keuangan.

Kedua, penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah. Ketiga, kompetisi dalam produk asuransi umu, terutama di lini motor atau komersial, bisa menekan margin karena perang harga dan biaya klaim yang meningkat.

“Ini juga terlihat dalam pasar global, seperti di pasar kendaraan bermotor di UK yang menghadapi tekanan klaim vs premi di 2026,” sebutnya.

Terakhir, dia menyebut risiko perubahan iklim yang semakin sering terjadi menyebabkan volatilitas klaim lebih tinggi, terutama untuk produk properti dan nat-cat. Sebab itu, menurutnya penetapan kenaikan premi yang tepat tanpa kehilangan daya saing tetap menjadi tantangan.

Di lain sisi, Azuarini memandang ada tiga produk asuransi umum yang diperkirakan tumbuh cepat di 2026. Pertama, asuransi properti dan bencana (nat-cat), karena permintaan ini diperkuat oleh meningkatnya kesadaran risiko dan kebutuhan proteksi aset.

Kedua, asuransi untuk UMKM karena segmen ini semakin sadar akan perlindungan aset dan risiko bisnis mereka, serta didukung oleh program pemerintah dan akses digital yang semakin luas. Ketiga, asuransi digital dan embedded insurance berpotensi tumbuh lebih cepat karena kemudahan akses dan relevansi dengan gaya hidup konsumen masa kini.

“Semua segmen tersebut didorong oleh kombinasi kesadaran risiko yang meningkat, kemudahan akses melalui digital, serta kebutuhan proteksi aset dan usaha yang nyata di tengah volatilitas ekonomi dan iklim. Pasar Indonesia yang masih memiliki penetrasi rendah juga membuka ruang besar bagi pertumbuhan produk-produk ini,” pungkasnya.

#asuransi-umum #tantangan-2026 #literasi-pasar-asuransi #digitalisasi-asuransi #inovasi-produk-asuransi #manajemen-risiko-asuransi #regulasi-asuransi #penetrasi-asuransi-indonesia #kompetisi-asuransi-u

https://finansial.bisnis.com/read/20251223/215/1939085/pengamat-sarankan-empat-cara-ini-untuk-industri-asuransi-umum-hadapi-tantangan-2026