Alasan Prabowo Dorong Papua Ditanami Sawit

Alasan Prabowo Dorong Papua Ditanami Sawit

"Kita berharap di daerah Papua harus ditanam kelapa sawit supaya menghasilkan BBM dari kelapa sawit, juga tebu menghasilkan etanol," kata Prabowo.

(Bisnis Tempo) 17/12/25 11:27 75541

PRESIDEN Prabowo Subianto membeberkan alasannya mendorong agar Papua ditanami sawit. Hal ini tak lepas dari target pemerintah agar Indonesia tidak lagi mengimpor bensin.

Menurut Prabowo, target nihil impor bahan bakar minyak (BBM) itu sangat mungkin diwujudkan karena Indonesia memiliki potensi sumber energi baru terbarukan (EBT) di berbagai daerah, termasuk Papua. Pemerintah pun telah menyiapkan kebijakan agar daerah penghasil energi dapat menikmati langsung manfaat dari energi yang diproduksi di wilayahnya sendiri.

"Nanti, daerah-daerah yang sulit, kita harus menggunakan tenaga surya atau tenaga air. Teknologi tenaga surya sekarang sudah semakin murah, dan ini bisa untuk mencapai daerah-daerah yang terpencil, juga tenaga hidro," kata Prabowo, di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa, 16 Desember 2025, seperti dikutip dari Antara. "Ada hidro-hidro yang mini, yang bisa juga dipakai di daerah-daerah yang terpencil."

Selain EBT, Prabowo juga mendorong pemanfaatan energi berbasis bioenergi melalui pengembangan kelapa sawit, tebu, dan singkong sebagai bahan baku biodiesel dan bioetanol. Langkah ini dapat mengurangi kebutuhan impor BBM sekaligus memperkuat kemandirian energi daerah.

"Ini semua adalah supaya ada kemandirian tiap daerah. Kalau ada tenaga surya dan tenaga air, tidak perlu kirim-kirim BBM mahal-mahal dari daerah-daerah," ucap Prabowo. "Dan juga nanti kita berharap di daerah Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit, juga tebu menghasilkan etanol."

Lebih jauh, Kepala Negara menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mewujudkan swasembada energi nasional guna mengurangi ketergantungan impor BBM dan berpotensi menghemat ratusan triliun rupiah setiap tahun dari anggaran subsidi.

Dalam arahannya kepada kepala daerah se-Papua dan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (KEPP-OKP) kemarin di istana, Prabowo mengungkapkan impor BBM Indonesia saat ini mencapai Rp 520 triliun per tahun. Jika ketergantungan impor bisa dikurangi setengahnya, maka negara berpotensi menghemat Rp 250 triliun.

"Tahun ini, tiap tahun kita mengeluarkan ratusan triliun untuk impor BBM. Kalau kita bisa tanam kelapa sawit, tanam singkong, tanam tebu, pakai tenaga surya dan tenaga air, bayangkan berapa ratus triliun kita bisa hemat tiap tahun," ujar Prabowo.

Pemerintah, kata Prabowo, mulai mengambil langkah konkret dengan menargetkan tidak lagi melakukan impor solar pada 2026. Pemerintah juga menargetkan Indonesia tidak lagi impor bensin. Ia yakin target itu dapat tercapai karena Indonesia memiliki potensi sumber EBT di berbagai daerah, termasuk Papua.

Pernyataan terkait dengan pemanfaatan sawit tersebut kembali disampaikan Prabowo setelah perkebunan sawit dianggap menjadi penyebab banjir di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terjadi pada akhir November lalu. Sebelumnya, di puncak Hari Ulang Tahun Partai Golkar ke-61 di Jakarta, 5 Desember 2025, ia malah menyebut kelapa sawit sebagai solusi.

Saat itu, ia menyebut krisis di Selat Hormuz dan Yaman akan menghentikan pasokan BBM, sehingga Indonesia harus swasembada energi dan BBM. “Tapi kita diberi karunia oleh Yang Mahakuasa kita punya kelapa sawit, kelapa sawit bisa jadi BBM, bisa Jadi solar, bisa jadi bensin juga. Kita punya teknologinya,” kata Prabowo.

Ia malah menyebutkan Indonesia akan merasakan krisis energi apabila tidak memiliki teknologi dan pabrik pengolahannya tidak siap. “Sekarang dengan bencana di Sumatera saja, bagaimana repotnya kita mengantar BBM ke daerah-daerah bencana. Jembatan putus, BBM harus kita naikin pesawat, sebagian lewat kapal,” kata dia.

Tahun lalu, Prabowo juga menyatakan bahwa kelapa sawit merupakan aset negara. Dia memerintahkan kepada jajarannya untuk memperketat penjagaan terhadap komoditas ini dari negara lain.

Selain itu, kata Kepala Negara, pemerintah harus menambah dan memperluas penanaman kelapa sawit. "Enggak usah takut membahayakan deforestasi," kata Prabowo saat berpidato di Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029, dipantau daring melalui YouTube Sekretariat Presiden, Senin, 30 Desember 2024.

Menurut Prabowo, komoditas ini merupakan pohon lantaran memiliki daun sehingga menyerap karbondioksida. Prabowo juga menyinggung negara-negara di benua Eropa yang mau membatasi impor kelapa sawit dari Indonesia.

Prabowo berujar tak ambil pusing terhadap langkah negara luar tersebut. Menurut dia, pembatasan impor sawit Indonesia oleh Eropa justru membuat sektor industri di negara luar menjadi kacau. "Oh, terima kasih, kami enggak jual ke Anda (negara di Eropa). Mereka panik sendiri. Nanti semua industri cokelat mereka kacau, detergen, kosmetik. Bingung sendiri mereka, (Indonesia) enggak apa-apa," ucapnya.

#prabowo #sawit #papua #banjir-sumatera #deforestasi

https://tempo.co/ekonomi/alasan-prabowo-dorong-papua-ditanami-sawit-2099746