Pabrik BioCNG Komersial Ketiga di Sumut Selesai Dibangun

Pabrik BioCNG Komersial Ketiga di Sumut Selesai Dibangun

Pabrik BioCNG komersial yang dibangun Knowledge Integration Services (KIS) Sustainability2 dan Socit Internationale de Plantations et de Finance (SIPEF) Group, resmi produksi.

(Bisnis Tempo) 10/12/25 15:45 67852

PABRIK BioCNG (Compressed Natural Gas) komersial yang dibangun Knowledge Integration Services (KIS) Sustainability2 dan Société Internationale de Plantations et de Finance (SIPEF) Group, resmi produksi. Pabrik itu dibangun di areal seluas 120 meter persegi, di areal pabrik kelapa sawit PT Tolan Tiga Indonesia, Kebun Perlabian, Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Labusel), Sumatera Utara.

Bagi SIPEF, ini pabrik pertama yang mereka miliki. Kapasitas produksi 109.620 MMBtu BioCNG per tahun, setara dengan pengurangan impor bahan bakar fosil dalam jumlah yang sama. Melalui teknologi methane capture, pabrik mampu mengurangi 54.810 ton CO2e per tahun, menjadikannya salah satu proyek pengurangan emisi berbasis limbah terbesar di Indonesia.

"Investasinya Rp 59,4 miliar. Unilever Oleochemical Indonesia menjadi pembeli utama. Pabrik ini menunjukkan teknologi modern dapat mengubah limbah menjadi energi bersih yang memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” kata CEO KIS Group KR.Raghunath, Senin, 8 Desember 2025.

Raghunath bangga bisa bekerja sama dengan SIPEF Group yang berpengalaman dalam industri kelapa sawit. Selama ini, mereka mengolah secara mandiri limbah sawitnya menjadi biogas.

Ada tiga pabrik komersil BioCNG yang dibangun KIS Group di Sumut, dengan total investasi Rp 187,8 miliar, menciptakan 60 lapangan kerja hijau, mengurangi 165 ribu ton emisi CO2, dan mengurangi impor bahan bakar fosil melalui produksi BioMethane sebanyak 315.000 MMBtu per tahun.

Managing Director SIPEF Petra Meekers mengatakan, pembangunan pabrik menjadi bukti komitmen perusahaannya mengelola produk sampingan yang bertanggung jawab, mengurangi jejak karbon dengan menangkap metana dari limbah cair pabrik kelapa sawit, dan mengubahnya menjadi BioCNG.

"Kami mengonversi produk sampingan menjadi sumber energi terbarukan yang bernilai, menciptakan nilai sirkular bagi operasional dan komunitas di wilayah kami beroperasi," kata Petra Meekers.

Presiden Direktur SIPEF Group Peter Bayliss menambahkan, proyek ini, dalam rangka mengembangkan teknologi pengolahan limbah. Kebun sawit seluas 8.000 hektar milik PT Tolan Tiga Indonesia mampu memproduksi 55 ton tandan buah segar (TBS) setiap jam. Menghasilkan sekitar 33 ton limbah setiap jam atau sekitar 1.200 ton per hari.

"Selama ini, limbah sawit diproduksi kembali menjadi gas sebanyak 30 ribu liter kubik. Dengan adanya pabrik, 60 persen dari produksi gas di-upgrade menjadi BioCNG dan dijual. Tidak hanya membantu keberlangsungan pabrik, juga membantu masyarakat. Sejalan dengan tujuan Indonesia untuk beralih ke sumber energi berkelanjutan dan terbarukan," ujar Peter.

Wakil Bupati Labusel Syahdian Purba Siboro bilang, kehadiran pabrik BioCNG menjadi kebanggaan daerahnya dan menjadi langkah penting mendukung agenda nasional terkait transisi energi bersih, pengurangan emisi dan pembangunan berkelanjutan.

Menurutnya, BioCNG Plant menjadi peluang energi hijau yang memperkuat ketahanan energi daerah, menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pihaknya menyambut baik kemitraan PT Tolan Tiga Indonesia sebagai penyedia bahan baku, KIS Sustainability2 sebagai penyedia teknologi dan PT Unilever sebagai pembeli. Tiga pihak ini menjadi bukti keberlanjutan dapat terwujud ketika sektor swasta, pemerintah dan masyarakat bergerak dalam satu visi yang sama.

"Kami melihat peluang yang lebih luas untuk pengembangan energi bersih lain seperti biomassa, biofuel, pemanfaatan limbah perkebunan hingga inisiatif sirkular ekonomi. Labuhanbatu Selatan memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi pusat industri berkelanjutan di Sumut," kata Syahdian.

Indonesia menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca secara signifikan pada 2030 sebesar 31,9 persen dengan upaya sendiri dan 43,2 persen dengan dukungan internasional. Menetapkan capaian net zero emission pada 2060, didukung Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) 19 persen hingga 23 persen pada 2030.

Presiden Prabowo Subianto menekankan percepatan transisi energi menuju energi baru terbarukan yang berkeadilan dan berkelanjutan serta memperkuat ketahanan pangan, air, energi nasional demi kejahteraan rakyat. Misi ini mencerminkan semangat pembangunan yang menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi, kelestarian lingkungan, dan kejateraan masyarakat luas dengan mitigasi bencana yang sebaik mungkin.

"Kami sangat menanti proyek ini. Indonesia memiliki potensi bioenergi yang masif dan tersebar luas mulai dari limbah kelapa sawit, limbah pertanian hingga kotoran ternak. Kementerian ESDM mengundang seluruh pelaku usaha, investor domestik maupun internasional, serta pihak-pihak terkait untuk berpartisipasi secara intensif dalam pengembangan industri biometana," kata Pelaksana tugas Koordinator Bidang Investasi dan Kerja Sama Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Unsaini Sabrina Taqfir.

Peresmian pabrik BioCNG komersial ketiga menjadi momentum penting yang perlu diapresiasi. Upaya yang dilakukan KIS Group tidak dapat terwujud tanpa dukungan segala pihak. Unsaini berharap pembangunan pabrik menginspirasi badan usaha dan pemangku kepentingan untuk mengembangkan sektor bioenergi.

Ia menghimbau agar inovasi transisi energi di Indonesia termasuk untuk sektor bioenergi memperhatikan indikator-indikator keberlanjutan termasuk aspek sosial dan lingkungan sehingga kejadian banjir bandang yang merugikan tidak terulang kembali.

"Kami yakin dengan kemitraan yang solid, komitmen berkesinambungan dan semangat untuk terus belajar mempercepat transisi energi menuju pemenuhan energi yang lebih bersih, mandiri dan berkelanjutan," kata Unsaini.

#pabrik #sumut #kelapa-sawit #cng #produksi

https://tempo.co/ekonomi/pabrik-biocng-komersial-ketiga-di-sumut-selesai-dibangun-2097682