Emas Digital Menembus Pelosok Negeri
Ketersediaan ekosistem digital di industri emas ikut memberikan keamanan dan kemudahan akses investasi logam mulia tersebut hingga ke pelosok negeri.
(Bisnis.Com) 15/10/25 21:39 4864
Bisnis.com, JAKARTA - Di kaki Gunung Delleng Sikambing, suasana sejuk Desa Sionom Hudon Runggu, Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, sudah menjadi teman bagi Izzi al Muzakkir selama setahun belakangan.
Desa yang berjarak sekitar 2,5 jam perjalanan dari Dolok Sanggul, Ibu Kota Kabupaten Humbang Hasundutan dan 8 jam dari Kota Medan itu telah menjadi ladang nafkah bagi pria 26 tahun tersebut.
Di desa ini, Izzi merupakan satu dari puluhan pekerja proyek pembangkit listrik tenaga mini hidro alias PLTMH. Setrum dari energi terbarukan ini dibangun untuk mendukung kelistrikan di wilayah itu.
Meski berada jauh dari hiruk pikuk perkotaan, Izzi sudah tidak asing dengan kebiasaan menabung. Tiap kocek yang diterimanya saban bulan, sebagian disisihkan untuk kebutuhan masa depannya.
Dari beberapa instrumen investasi yang ada, emas adalah pilihan utamanya. Bahkan seluruh tabungan logam mulia yang dimiliki tidak berbentuk fisik, melainkan digital.
Kebiasaan ini sudah dimulainya sejak mengenal tabungan emas PT Pegadaian pada 2019. Saat itu, Izzi masih mengejar gelar strata satu di Jurusan Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.
"Awalnya saya beli iseng. Sekarang setiap bulan selalu saya usahakan bisa menabung setara 1 gram emas di aplikasi Pegadaian," ceritanya kepada Bisnis belum lama ini.
Setelah 6 tahun menimbun gram demi gram emas, mudah saja baginya untuk terus melanjutkan kebiasaan itu. Belum lagi, Izzi telah merasakan langsung kenaikan nilai asetnya yang nyaris tiga kali lipat dalam periode tersebut.
Bila dulu memperoleh 1 gram emas hanya membutuhkan uang Rp700.000 - Rp800.000, kini harga emas telah melompat sampai Rp2,2 juta per gram. Selain itu, instrumen ini dipilih untuk menjaga nilai uang yang dimilikinya.
Untuk menggambarkan lindung nilai yang dimaksud, Izzi menganalogikan emas dengan harga seekor kambing. "Dari dulu sampai sekarang, 1 gram emas tetap dapat 1 ekor kambing," selorohnya.
Bagi Izzi, investasi emas di Pegadaian Digital yang kini menjadi Tring!, adalah cara yang paling aman untuk menabung emas.
Belum lagi, daerah tinggal yang jauh dari perkotaan memudahkan pria itu untuk terus mengoleksi logam mulia tanpa harus membeli fisik di ibu kota.

Direktur Utama Pegadaian Damar Latri Setiawan dalam acara peluncurkan aplikasi Tring! di The Gade Tower Jakarta, Rabu (8/10/2025)/BISNIS-Annisa Nurul Amara
"Bagi saya, menabung emas seperti ini menjadi lebih aman, lebih mudah. Alhamdulillah sampai saat ini belum pernah saya cairkan, haha," akunya.
Untuk sebagian kalangan, emas dijadikan sebagai aset investasi jangka panjang. Akan tetapi, ada pula yang menjadikan aset safe haven ini sebagai dana cadangan untuk keperluan darurat.
Seperti yang dialami oleh Hasanah (32 tahun) beberapa tahun silam. Dia berkisah, emas adalah penolong saat keluarganya membutuhkan biaya tambahan untuk pindah rumah dari Jakarta ke Tangerang.
Setelah dihitung, keluarganya memerlukan kocek belasan juta sebagai ongkos pindah barang ke rumah baru sekaligus untuk membeli kebutuhan lainnya.
Alih-alih menjual, Hasanah lebih memilih untuk menggadaikan 7 gram cincin emas simpanannya untuk memperoleh pinjaman dari Unit Pelayanan Cabang Pegadaian di Jakarta Selatan. Logam mulia itu ditebus lunas dua bulan kemudian.
"Saya tidak mau jual saat itu. Kalau dijual pasti akan sulit membeli lagi. Apalagi dengan harga sekarang ini. Syukur saya pilih gadai, pasti ditebus lagi," katanya.
Cerita Hasanah dan Izzi hanya dua dari lebih dari 28 juta nasabah perusahaan gadai terbesar di Indonesia itu. Kini, minat masyarakat untuk berinvestasi emas terus meningkat setelah rekor harga yang terus menerus berlangsung sepanjang tahun ini.
Kepala Divisi Bisnis Bullion PT Pegadaian Kadek Eva Suputra menuturkan bahwa tren minat masyarakat terhadap investasi emas, baik fisik maupun digital terus meningkat.
Kondisi ini didukung oleh sejumlah faktor, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global, tingginya kesadaran masyarakat pada perencanaan keuangan hingga kemudahan akses teknologi. Alhasil, emas semakin diminati sebagai instrumen investasi yang relatif stabil nilainya dan mudah dicairkan.
"Ini terlihat dari pertumbuhan omzet Cicil Emas mencapai 182,3% year-on-year [YoY] dan omzet Tabungan Emas 218% YoY per akhir September 2025," katanya kepada Bisnis.
Minat tinggi tersebut kemudian dijawab oleh perusahaan pelat merah ini dengan menyediakan layanan emas terintegrasi digital untuk memudahkan masyarakat bertransaksi.
Pada instrumen Tabung Emas misalnya, nasabah diberi kemudahan dengan pembelian mulai dari 0,01 gram. Kemudian pada layanan Cicil Emas, nasabah dapat membeli secara cicilan dengan harga tetap.
Seiring dengan Pegadaian yang telah resmi menjadi Bullion Bank, perusahaan turut memiliki layanan Deposito Emas untuk nasabah yang ingin mendapatkan imbal hasil dari tabungan emasnya.
Kemudian, ada pula layanan bank emas lainnya seperti perdagangan emas, pinjaman modal kerja emas hingga titipan emas korporasi. Berbagai instrumen ini diperkenalkan kepada publik melalui berbagai program literasi keuangan.
"Dengan strategi ini, Pegadaian tidak hanya memenuhi kebutuhan investasi emas masyarakat saat ini, tetapi juga mempersiapkan ekosistem emas yang berkelanjutan untuk masa depan," tuturnya.
Generasi Muda
Di tengah tren investasi emas yang terus tumbuh, kalangan generasi milenial dan Gen Z telah menjadi salah satu kontributor terbesar dalam pertumbuhan layanan emas digital perusahaan.
Sebagai contoh pada nasabah Tabungan Emas, 60% dari total nasabah merupakan generasi milenial dan Gen Z. Jenis layanan ini juga yang paling banyak diminati oleh generasi muda.
Kadek mengemukakan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh kecenderungan Milenial dan Gen Z yang menyukai instrumen investasi bersifat mudah diakses, transparan, fleksibel, dan terjangkau.
"Tabungan Emas juga dapat diakses melalui aplikasi Pegadaian Digital [Tring! by Pegadaian], mobile banking, dan aplikasi e-commerce lainnya sehingga transaksinya berbasis digital dan praktis," ujarnya.
Di luar itu, perusahaan turut menggalakkan literasi keuangan bagi masyarakat melalui berbagai saluran baik luring maupun daring. Ikhtiar ini dimaksud agar pemahaman tentang investasi dapat tertanam ke berbagai generasi demi #mengEMASkan Indonesia.
Hasil literasi keuangan ini juga tercermin dari pengalaman Izzi dan Hasanah dalam berinvestasi emas dan mengelola asetnya dengan bijak.
Tahun ini, Pegadaian telah menargetkan laba bersih senilai Rp6,58 triliun. Angka tersebut tumbuh sekitar 13,25% dibandingkan laba bersih pada 2024 yakni sebesar Rp5,81 triliun. Selain tabungan emas dan cicil emas, kontribusi pertumbuhan juga didukung oleh deposito emas.
Direktur Utama Pegadaian Damar Latri Setiawan mengatakan bahwa sampai Agustus 2025, nilai deposito emas perusahaan telah mencapai Rp2,45 triliun dengan volume 1,4 ton. Perusahaan membidik nilai deposito emas dapat tumbuh sekitar Rp3 triliun.
"Semakin orang tahu harga emas mahal, semakin besar pula keinginan untuk membeli daripada dijual, digadai," katanya.
#emas-digital #investasi-emas #tabungan-emas #pegadaian-digital #investasi-jangka-panjang #harga-emas #emas-sebagai-aset #emas-safe-haven #cicil-emas #deposito-emas #generasi-milenial #gen-z-investasi #n-a
https://finansial.bisnis.com/read/20251015/89/1920677/emas-digital-menembus-pelosok-negeri