Sempat Koreksi ke Level 7.000-an, IHSG Diperkirakan Masih Bullish
IHSG diprediksi tetap bullish meski sempat koreksi ke level 7.000-an akibat tekanan global. Peluang rebound ada jika kondisi global membaik dan rupiah menguat.
(Bisnis.Com) 15/10/25 19:50 4747
Bisnis.com, Jakarta — Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai hanya bersifat sementara di tengah meningkatnya tekanan global akibat tensi perang dagang dan arus keluar dana asing yang masih berlanjut.
Analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menjelaskan bahwa tren keluarnya dana asing bukanlah fenomena baru, melainkan kelanjutan dari pola yang telah terjadi sejak awal tahun. Hingga saat ini, investor asing tercatat membukukan net sell lebih dari Rp50 triliun di pasar saham domestik.
“Faktor utama keluarnya dana asing bukan karena valuasi pasar yang terlalu tinggi melainkan akibat ketidakpastian global, mulai dari eskalasi geopolitik, perang dagang Amerika Serikat [AS]–China, hingga pelemahan rupiah,” ucap Ekky saat dihubungi Bisnis pada Rabu (15/10/2025).
Menurutnya, investor asing saat ini cenderung bersikap hati-hati dan menahan diri di tengah kondisi global yang tidak stabil, pertumbuhan ekonomi yang melemah, serta nilai tukar rupiah yang dinilai masih tertekan.
Meski demikian, Ekky menilai bahwa peluang masuknya kembali dana asing masih terbuka lebar apabila kondisi global mulai membaik, pertumbuhan ekonomi kembali solid, dan rupiah menunjukkan penguatan.
Secara teknikal, IHSG saat ini dinilai tengah menguji area support di level 8.000 yang masih tampak kuat setelah dua kali uji ulang (retest).
Namun demikian, Ekky menyatakan bahwa apabila tekanan global berlanjut, terutama dari eskalasi perang dagang AS–China, indeks berpotensi terkoreksi ke kisaran 7.850–7.900, bahkan hingga 7.600–7.650 dalam skenario terburuk.
“Pelemahan IHSG saat ini saya lihat bersifat sementara. Jika tensi global mulai mereda, peluang rebound jangka pendek akan cukup besar,” katanya.
Analis Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, juga menilai IHSG masih berpeluang menguji kembali area 8.000 dengan kisaran support di 7.855 dan resistance di 8.150. Secara teknikal, indikator MACD menunjukkan pelebaran slope negatif, sedangkan stochastic RSI bergerak di area pivot.
“Meskipun masih di bawah MA5 dan MA20, IHSG tetap mampu bertahan di atas level psikologis 8.000. Selama mampu ditutup di atas area tersebut, peluang rebound masih terbuka,” ujar Alrich dalam keterangannya.
Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai bahwa pelemahan indeks komposit disebabkan oleh koreksi pada saham-saham konglomerasi dan perbankan berkapitalisasi besar.
Menurutnya, aksi ambil untung masih berlanjut di tengah penguatan bursa global serta apresiasi tipis nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Seperti diketahui, Indeks komposit diketahui ditutup melemah 0,19% ke level 8.051,17 pada perdagangan Rabu (15/10/2025). Sebanyak 232 saham mencatat kenaikan, 449 saham menurun, dan 122 saham jalan di tempat.
“Investor juga masih mencermati meningkatnya tensi perang dagang antara AS dan China yang kembali memanas,” pungkas Herditya.
Herditya memperkirakan IHSG berpeluang menguat dengan level support di 8.020 dan resistance di 8.087 pada perdagangan besok, Kamis (16/10/2025). Pergerakan indeks juga diperkirakan akan dipengaruhi oleh pernyataan The Fed yang condong pada kebijakan pemangkasan suku bunga ke depan.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#ihsg #ihsg-bullish #ihsg-koreksi #ihsg-support #ihsg-resistance #dana-asing #net-sell #perang-dagang #rupiah-melemah #investor-asing #pasar-saham #tekanan-global #rebound-ihsg #saham-konglomerasi #sah