Kemenperin: Investasi Kendaraan Rendah Emisi Capai Rp 22,37 Triliun
Kemenperin menyatakan, nilai investasi industri kendaraan rendah emisi sudah mencapai Rp 22,37 triliun.
(Kompas.com) 19/11/25 18:41 43685
JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut, nilai investasi industri kendaraan rendah emisi atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) saat ini sudah mencapai Rp 22,37 triliun.
Informasi itu diungkapkan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Dirjen Ilmate) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta dalam acara peletakan batu pertama produsen komponen otomotif asal Jerman, Bosch, di Cikarang, Jawa Barat.
Setia mengatakan, untuk mendorong program kendaraan ramah lingkungan, Kemenperin meluncurkan program LCEV melalui peraturan Menteri Perindustrian Nomor 36 Tahun 2021.
SHUTTERSTOCK/JASEN WRIGHT Ilustrasi manufaktur.“Menciptakan tambahan investasi sebesar Rp 22,37 triliun,” kata Setia di lokasi pabrik Bosch, Rabu (19/11/2025).
Menurut Setia, nilai investasi itu meliputi dari 15 perusahaan peserta (OEM), 274 perusahaan industri komponen lokal.
Subsektor industri tersebut, kata Setia, sejauh ini telah menyerap 182.000 karyawan.
"Secara kumulatif, total produksi kendaraan LCEV pada periode 2022 hingga September 2025 telah mencapai 878.000 unit dengan melibatkan 274 industri komponen lokal,” ujar Setia.
Oleh karena itu, Setia berharap kehadiran pabrik baru Bosch di Cikarang akan ikut berkontribusi signifikan dalam mendukung program LCEV.
Tidak hanya itu, proses produksi itu juga akan menyerap dan mengembangkan kompetensi lokal.
Pabrik yang didirikan di Cikarang itu, kata dia, akan memproduksi electronic control unit engine, electric cooling fan, wiper serta Battery Management System (BMS).
“(BMS) komponen dengan nilai tambah tinggi dan teknologi canggih yang berperan penting dalam mendukung pengembangan kendaraan berbasis elektrifikasi di Indonesia,” ujar Setia.
Sementara itu, pihak Bosch menyebut, pembangunan pabrik di Cikarang itu akan menggunakan investasi sekitar 25 juta Euro atau Rp 483.795.000.000 dengan luas sekitar 82 ribu meter persegi.
President of Bosch for Southeast Asia, Vijay Ratnaparkhe mengatakan, pabrik baru di Cikarang bakal dioperasikan oleh orang-orang yang telah terlatih di bidangnya.
Setelah pengembangan pabrik dinilai selesai, Bosch akan membangun kompetensi tenaga kerja lokal dan menyuplai kebutuhan produk dalam negeri.
Meski demikian, dia tidak mengungkapkan lebih jauh mengenai perkiraan tenaga kerja yang diserap maupun target ekspor.
“Kami juga bertujuan untuk membangun rantai pasokan lokal dengan meningkatkan manufaktur dan sumber daya lokal,” kata Ratnaparkhe.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang#bosch #kendaraan-ramah-lingkungan #kemenperin #kendaraan-rendah-emisi