SKK Migas Usul Pendanaan Eksplorasi dari Keuntungan Sektor Hulu
Kepala SKK Migas mengatakan kegiatan eksplorasi migas di Indonesia masih terkendala pendanaan. Bank ogah membiayai karena risikonya tinggi.
(Bisnis Tempo) 12/11/25 15:51 36475
SATUAN Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengusulkan agar kegiatan eksplorasi minyak dan gas di Indonesia dibiayai menggunakan sebagian keuntungan dari sektor hulu migas. Usulan ini disampaikan Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR tetang Rancangan Undang-Undang (RUU) Migas.
Menurut Djoko, peningkatan produksi migas nasional masih terhambat oleh minimnya kegiatan eksplorasi di berbagai cekungan potensial. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan anggaran. Saat ini, dana eksplorasi yang tersedia hanya sekitar US$1 miliar per tahun.
“Tidak ada satu pun bank dalam negeri yang mau membiayai eksplorasi karena risikonya tinggi,” ujarnya, Rabu, 12 November 2025.
Padahal, Djoko menyebut, tingkat keberhasilan eksplorasi di Indonesia sudah meningkat. Jika sebelumnya peluang penemuan cadangan baru hanya 1 banding 10, kini mencapai 30 persen. “Artinya, dari 10 pengeboran bisa ada tiga yang menghasilkan penemuan cadangan baru,” katanya.
Ia menilai, Indonesia perlu meniru model pembiayaan eksplorasi dari negara lain seperti Inggris dan Malaysia. Di kedua negara itu, sebagian pendapatan dari kegiatan hulu migas dialokasikan kembali untuk eksplorasi.
“Di Inggris, kebijakan itu membuat mereka menemukan ladang gas besar di Northeast, sehingga kini mereka punya pasokan gas berlebih. Malaysia juga melakukan hal yang sama lewat Petronas,” tutur Djoko.
Menurut Djoko, pendekatan serupa bisa membantu Indonesia kembali meningkatkan produksi minyak dan gas yang kini menurun. Beberapa dekade lalu, Indonesia sempat memproduksi 1,6-1,7 juta barel per hari dan menjadi anggota OPEC karena surplus pasokan. Kini, situasinya berbalik dengan ketergantungan tinggi pada impor minyak mentah, LPG, dan bensin.
“Untuk solar kita sudah bisa mandiri dengan program B30 dan B35, tapi untuk bensin masih perlu alternatif seperti bioetanol, biofuel, dan kendaraan listrik,” ujarnya.
Djoko menambahkan, Indonesia masih memiliki sekitar 65 cekungan hidrokarbon yang belum dieksplorasi dan berpotensi besar menghasilkan penemuan baru. Ia berharap pembahasan RUU Migas ke depan dapat mempertimbangkan skema pembiayaan eksplorasi yang lebih berkelanjutan dan tidak sepenuhnya bergantung pada investor swasta.
“Kalau kita bisa memanfaatkan potensi itu dengan dukungan pendanaan memadai, bukan tidak mungkin kita kembali mencapai swasembada energi,” katanya.
#skk-migas #eksplorasi-minyak-dan-gas #migas #energi #gas
https://tempo.co/ekonomi/skk-migas-usul-pendanaan-eksplorasi-dari-keuntungan-sektor-hulu-2088883