Bulog Mau Bangun 100 Gudang Biaya Rp5 Triliun, Celios: Terlalu Mahal
Bulog berencana membangun 100 gudang senilai Rp5 triliun mulai 2026, tetapi Celios mengkritik biaya yang dianggap terlalu mahal.
(Bisnis.Com) 12/11/25 09:51 35955
Bisnis.com, JAKARTA — Center of Economics and Law Studies (Celios) mengkritik rencana pembangunan 100 gudang Perum Bulog dengan dana senilai Rp5 triliun. Adapun, pembangunan tersebut dimulai Januari 2026.
Rencananya, setiap gudang Bulog memiliki kapasitas beragam dari 1.000–7.000 ton, tergantung dari luas sawah yang dimiliki setiap daerah.
Direktur Celios Bhima Yudhistira Adhinegara menilai jika dihitung secara rata-rata, anggaran Bulog terlalu mahal jika hanya membangun 100 gudang tanpa dilengkapi mesin penggilingan padi (rice milling unit/RMU).
“Angka Rp50 miliar [secara rata-rata] per gudang sebenarnya relatif tinggi ya, relatif mahal. Apalagi kalau tidak dilengkapi oleh rice mill,” kata Bhima, Rabu (12/11/2025).
Bhima menilai, meski di daerah yang tidak ada produksi beras, keberadaan mesin penggilingan padi tetaplah penting. Sebab, sambung dia, daerah tersebut bisa menyerap gabah dari daerah lain.
“Itu kan jauh lebih murah, sehingga pada saat terjadi lonjakan kebutuhan, gabahnya bisa dikonversi menjadi beras,” ujarnya.
Menurutnya, dengan anggaran jumbo Rp5 triliun tersebut Bulog setidaknya bisa membangun 130 gudang lengkap dengan mesin penggilingan padi. Namun, lanjut Bhima, itu juga tergantung dari kapasitas gudang.
Celios juga mengkritik ihwal pembangunan gudang yang hanya melibatkan BUMN Karya, yang semestinya bisa diikutsertakan pelaku usaha lokal atau sekitar daerah untuk menggerakkan ekonomi.
“Kalau dikerjakan oleh badan usaha milik desa misalnya, dikerjakan oleh pelaku usaha swasta, yang penting spesifikasinya tetap sesuai dengan kebutuhan Bulog,” terangnya.
Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan Presiden Prabowo telah memerintahkan agar Bulog segera membangun 100 gudang untuk menyimpan beras dan jagung.
Rizal menuturkan, sejumlah gudang tersebut diprioritaskan sesuai dengan arahan Presiden Prabowo di kabupaten dan kota yang belum memiliki gudang untuk mengefisiensi dan mengoptimalkan agar gudang tersebut lebih dekat sehingga ongkos menjadi lebih murah.
Selain itu, Bulog juga akan memprioritaskan pembangunan gudang di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), seperti di Nias Selatan dan Morotai.
“Kenapa? Kalau begitu musim pasang airnya tinggi atau musim barat, itu kapal nggak bisa berlayar ke sana, sehingga perlu mengandalkan gudang tersebut. Sedangkan di sana belum ada gudang. Nah ini prioritasnya seperti itu,” kata Rizal saat ditemui di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Namun, tidak semua gudang dilengkapi dengan mesin penggiling padi (RMU) maupun dryer, alias hanya gudang. Rizal menjelaskan, untuk lokasi daerah yang tidak sentra produksi pangan, Bulog hanya akan membangun gudang.
“Namun kalau yang wilayahnya punya sentra produksi pangan, itu dilengkapi dengan RMU, dryer, dan lain sebagainya,” terangnya.
Ke depan, Bulog akan melakukan sinkronisasi data dengan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mengetahui daerah mana saja yang menjadi sentra produksi, infrastruktur, SDM, hingga teknologi.
Nantinya, Bulog akan memprioritaskan BUMN Karya untuk membangun 100 gudang Bulog. Namun, hingga saat ini Bulog belum memutuskan siapa BUMN Karya yang akan membangun gudang tersebut.
Meski begitu, Bulog menargetkan 100 gudang tersebut akan rampung pada tahun ini.
“Kita penginnya sih 100 [gudang] itu setahun jadi. Penginnya. Tapi kan kita nggak tahu, kaitannya masalah material, alam, cuaca, dan sebagainya itu kan kami tidak bisa prediksikan,” pungkasnya.
#bulog-gudang #pembangunan-gudang-bulog #biaya-gudang-bulog #celios-kritik-bulog #gudang-bulog-2026 #kapasitas-gudang-bulog #mesin-penggilingan-padi #rice-milling-unit #anggaran-bulog #bumn-karya-bulog