Rapor Kinerja Keuangan Bank Syariah Kuartal III/2025, Ada BSI hingga Muamalat
Bank Syariah Indonesia (BRIS) mencatat laba tertinggi Rp5,56 triliun pada Q3 2025, tumbuh 9,04% YoY. Pertumbuhan didorong oleh pembiayaan UMKM dan efisiensi biaya.
(Bisnis.Com) 06/11/25 15:40 29873
Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) telah merilis laporan kinerja keuangan pada kuartal III/2025. Jika melihat laba bersih tahun berjalan, bank syariah di Tanah Air membukukan kinerja yang beragam.
Di antara sejumlah bank syariah yang telah merilis kinerja keuangannya, laba bersih tahun berjalan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) menjadi yang terbesar dengan perolehan laba sebesar Rp5,56 triliun hingga September 2025.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan, capaian tersebut tumbuh 9,04% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan kuartal III/2024 yang sebesar Rp5,10 triliun.
Urutan kedua ditempati oleh UUS PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) dengan raihan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp1,03 triliun pada kuartal III/2025, menyusut 36,20% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp1,62 triliun.
UUS PT Maybank Indonesia Tbk. (BNII) berada di urutan selanjutnya, dengan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp1,02 triliun. Angka itu tumbuh 68,71% YoY dibandingkan perolehan laba pada kuartal III/2024 yang mencapai Rp605,74 miliar.
Laba bersih tahun berjalan konsolidasi PT Bank BTPN Syariah Tbk. (BTPS) tercatat tumbuh 22,68% YoY menjadi Rp945,42 miliar hingga September 2025. Pada periode yang sama tahun lalu, BTPS membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp770,62 miliar.
Kemudian ada UUS PT Bank Permata Tbk. (BNLI) yang meraih laba bersih tahun berjalan sebesar Rp748,01 miliar. Angka itu tumbuh 68,71% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp605,74 miliar.
Posisi selanjutnya ada UUS PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) yang membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp591,68 miliar pada kuartal III/2025. UUS yang tengah dalam proses spin off ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,37% YoY dibanding kuartal III/2024 yang mencapai Rp545,96 miliar.
Bank milik konglomerat Chairul Tanjung turut membukukan pertumbuhan laba pada kuartal III/2025. Hingga September 2025, PT Bank Mega Syariah mencatatkan laba sebesar Rp140,24 miliar, tumbuh 3,00% YoY dibanding periode yang sama tahun lalu Rp136,16 miliar.
Sementara itu, PT Bank Aladin Syariah meraup laba bersih senilai Rp128,15 miliar pada kuartal III/2025 setelah sebelumnya mencatatkan rugi sebesar Rp79,00 miliar pada kuartal III/2024.
PT Panin Dubai Syariah Tbk. (PNBS) meraup laba bersih sebesar Rp43,22 miliar. Realisasi itu menyusut 53,67% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp93,29 miliar.
Sementara itu, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. menjadi bank syariah dengan laba terkecil di antara bank-bank syariah lain yang telah merilis laporan keuangannya.
Pada kuartal III/2025, bank syariah pertama di Indonesia itu mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp9,23 miliar. Angka itu tumbuh 8,15% YoY dibanding kuartal III/2024 sebesar Rp8,54% YoY.
Pendorong Pertumbuhan Laba
Chief Economist PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede memandang, pendorong utama pertumbuhan laba bersih tahun berjalan sejumlah bank syariah sama-sama bertumpu pada empat mesin laba bank: volume pembiayaan yang tumbuh, margin yang lebih baik, fee yang makin tebal, dan biaya yang lebih efisien.
Pada kelompok yang tumbuh, kata Josua, dorongan terbesar datang dari ekspansi ke segmen ritel-UMKM, termasuk aliran pembiayaan program pemerintah, yang memperluas basis aset produktif sekaligus menumbuhkan fee dari layanan transaksi dan penjaminan.
Dia mengatakan, pangsa besar perbankan syariah dalam pembiayaan UMKM, termasuk KUR syariah, menjadi pendukung yang menjaga pertumbuhan volume dan fee sepanjang tahun.
“Pasalnya, sekitar 70% penyaluran UMKM syariah datang dari bank syariah, hal ini menopang profit melalui skala dan efisiensi penyaluran di segmen padat transaksi,” kata Josua kepada Bisnis, Kamis (6/11/2025).
Selain itu, Josua menambahkan bahwa perbankan syariah menikmati penopang yang khas dari ekosistem emas seperti gadai dan pengelolaan bullion, yang menambah pendapatan berbasis komisi sekaligus menjaga imbal hasil aset.
Di sisi biaya, Josua menyebut bahwa dorongan kebijakan yang sejak awal mendongkrak digitalisasi perbankan serta penguatan identitas dan ekosistem syariah membantu menurunkan rasio biaya terhadap pendapatan dan memperluas sumber fee (bancatakaful, transaksi digital), sehingga laba bersih bergerak lebih kencang.
Proyeksi Kinerja Bank Syariah pada Kuartal IV/2025
Josua mengatakan basis musiman alias kuartal IV/2025 biasanya menguntungkan. Pasalnya, penyerapan belanja akhir tahun meningkatkan transaksi ritel dan kebutuhan modal kerja, sementara target penyaluran pembiayaan UMKM, termasuk KUR syariah, mendorong akselerasi akhir tahun, sehingga probabilitas pertumbuhan laba berlanjut relatif tinggi bagi bank syariah dan UUS.
Dia menuturkan, komposisi penyalur aktif KUR syariah menunjukkan pembiayaan yang tetap terjaga hingga kuartal akhir, yang pada gilirannya memperbesar peluang pertumbuhan pendapatan bunga dan fee.
Momentum ini, kata dia, juga mendapat angin kebijakan dari agenda 2025–2029 yang menekankan pendalaman pasar keuangan syariah, penguatan industri halal, dan peningkatan literasi, sehingga permintaan produk syariah (pembiayaan, transaksi, dan investasi) cenderung tetap solid hingga penutupan tahun.
“Bisnis emas/pegadaian lazimnya aktif menjelang akhir tahun dan tetap menyumbang fee; kombinasi volume ritel-UMKM dan fee non-bunga ini biasanya menjaga pertumbuhan laba tetap positif,” tutur Josua.
Kendati begitu ada sejumlah catatan yang perlu diwaspadai, di antaranya kompetisi dana menjelang akhir tahun bisa menekan margin, sehingga bank yang paling disiplin pada biaya dana dan efisiensi operasional akan memetik hasil terbaik.
“Di sinilah transformasi digital serta perluasan ekosistem layanan syariah memberi diferensiasi,” ujarnya.
Di sisi lain, Josua memperkirakan beberapa kinerja keuangan UUS yang sempat turun secara tahunan pada kuartal III/2025 memiliki peluang membaik pada kuartal IV/2025, meski basisnya lebih pada normalisasi biaya kredit, perbaikan campuran pendanaan, dan fokus ke segmen ritel-UMKM serta transaksi yang berfee.
Menurutnya, dorongan strategi nasional 2025-2029 -pendalaman pasar keuangan syariah dan perluasan rantai nilai halal- berpotensi menambah transaksi (trade finance syariah, payroll syariah, wealth/emas) yang memperbaiki pendapatan non-bunga dan utilisasi aset, terutama bagi UUS yang kuat sinerginya dengan induk korporasi.
Kendati begitu, Josua menyebut bahwa BUS atau UUS yang beban perbaikan kualitas asetnya lebih berat—laju pemulihan laba pada kuartal IV/2025 cenderung bertahap dan sangat ditentukan oleh keberhasilan menurunkan biaya dana serta menjaga biaya kredit; kebijakan yang mendukung digitalisasi dan penguatan tata kelola di industri juga membantu memperbaiki efisiensi dan daya saing produk, sehingga ada ruang perbaikan berkelanjutan ke depan.
Rekomendasi Saham
Secara umum kinerja sektor perbankan syariah hingga kuartal III/2025 masih sejalan dengan ekspektasi pasar. Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan mengatakan mayoritas BUS dan UUS mencatat pertumbuhan laba bersih yang solid, terutama didorong oleh peningkatan pembiayaan konsumtif, ekspansi digital, serta dukungan dana murah yang semakin kuat.
Dia menyebut, bank-bank besar seperti BSI, BTPN Syariah, dan BTN Syariah menjadi penopang utama dengan pertumbuhan laba yang berkelanjutan dan efisiensi biaya yang terjaga, sementara beberapa bank seperti CIMB Niaga Syariah dan Panin Dubai Syariah masih menghadapi tekanan margin dan peningkatan biaya pencadangan.
Dari sisi saham, Ekky mengatakan bahwa BRIS masih menjadi pilihan paling menarik untuk jangka menengah karena posisinya sebagai bank syariah terbesar di Indonesia dengan basis CASA kuat, jaringan digital luas, dan rasio pembiayaan bermasalah yang relatif rendah.
“BTPS juga layak diperhatikan karena memiliki model bisnis mikro yang defensif dan margin bagi hasil tinggi, meski volatilitas NPF perlu tetap diwaspadai,” kata Ekky kepada Bisnis.
Sementara itu, BANK masih menarik dari sisi valuasi dan prospek pertumbuhan, sedangkan PNBS lebih bersifat spekulatif karena masih dalam proses pemulihan kinerja.
Menjelang akhir tahun, Ekky menyebut bahwa pergerakan saham-saham bank syariah berpotensi diuntungkan oleh meningkatnya permintaan pembiayaan konsumtif dan ritel, stabilitas dan penurunan suku bunga, serta sentimen positif terhadap ekonomi syariah nasional seiring dengan dukungan pemerintah terhadap ekosistem halal dan perluasan instrumen keuangan syariah.
Namun, Ekky mengingatkan investor agar tetap perlu mencermati potensi tekanan pada margin akibat biaya dana yang masih tinggi, risiko perlambatan daya beli, serta kemungkinan kenaikan rasio pembiayaan bermasalah di segmen mikro dan UMKM jika kondisi ekonomi melemah.
Secara keseluruhan, prospek sektor perbankan syariah masih positif dengan arah pertumbuhan yang stabil. Saham-saham seperti BRIS dan BTPS dinilai paling menarik untuk dikoleksi dalam jangka menengah hingga panjang karena memiliki fundamental yang solid, efisiensi yang baik, dan momentum pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah meningkatnya inklusi keuangan syariah di Indonesia.
#bank-syariah #kinerja-keuangan #laba-bersih #bank-syariah-indonesia #cimb-niaga-syariah #maybank-indonesia #btpn-syariah #bank-permata-syariah #bank-tabungan-negara-syariah #bank-mega-syariah #bank-al