Ferrari dan BMW Ikuti Tesla Beralih dari Tembaga ke Aluminium yang Lebih Murah
Ferrari mengungkapkan, perusahaan mulai menggunakan kabel berbahan aluminium pada mobil sport hibrida 296 sejak tahun lalu.
(Kompas.com) 30/06/26 16:23 263930
KOMPAS.com — Produsen mobil premium Ferrari dan BMW mulai mempercepat penggunaan aluminium sebagai pengganti tembaga pada sistem kelistrikan kendaraan mereka.
Langkah ini mengikuti jejak Tesla dan sejumlah produsen kendaraan listrik (electric vehicle/EV) asal China yang lebih dulu mengadopsi logam tersebut untuk menekan biaya sekaligus mengurangi bobot kendaraan.
Peralihan dari tembaga ke aluminium diperkirakan akan memengaruhi sekitar 2 persen permintaan tembaga global pada 2026, menurut proyeksi JPMorgan. Dalam beberapa tahun ke depan, angka tersebut berpotensi meningkat seiring tren kenaikan harga tembaga dan melonjaknya kebutuhan logam untuk transisi energi serta pembangunan pusat data.
Sejumlah pelaku industri menilai aluminium semakin menarik karena menawarkan harga yang jauh lebih rendah dengan performa yang dinilai memadai untuk berbagai aplikasi industri. Berdasarkan data pasar terkini, harga aluminium berada di kisaran 3.100 dollar AS per ton atau sekitar Rp58,59 juta per ton (asumsi kurs Rp17.900 per dolar AS), jauh lebih murah dibandingkan harga tembaga yang sempat mendekati 15.000 dollar per ton atau sekitar Rp283,5 juta per ton pada awal tahun ini.
Ferrari mengungkapkan, perusahaan mulai menggunakan kabel berbahan aluminium pada mobil sport hibrida 296 sejak tahun lalu.
Penggunaan logam ringan tersebut kemudian diperluas ke model lain, termasuk Luce, kendaraan listrik pertama Ferrari yang diperkenalkan baru-baru ini.
Menurut eksekutif komunikasi Ferrari, Dario Esposito, penggunaan aluminium mampu mengurangi bobot sistem kabel hingga sekitar 20 persen, sehingga memberikan keuntungan dari sisi performa kendaraan.
"Kami tidak memilih aluminium semata karena lebih murah, tetapi karena material ini memberikan kinerja yang lebih baik untuk kebutuhan tertentu," ujar Esposito kepada Reuters.
Sementara itu, BMW menyatakan telah menggunakan konduktor aluminium sejak 2011 melalui model Seri 1. Pabrikan asal Jerman tersebut secara bertahap memperluas penggunaannya pada kendaraan hibrida dan mobil listrik, termasuk pada teknologi kendaraan listrik eDrive generasi terbaru yang diperkenalkan tahun lalu.
Selain Ferrari dan BMW, produsen otomotif global lain seperti Stellantis juga dilaporkan mulai menggantikan kabel berbahan tembaga dengan aluminium, meskipun perusahaan tersebut belum memberikan komentar resmi.
Tren substitusi ini juga terlihat di berbagai sektor industri lain, termasuk manufaktur kabel listrik, pendingin udara, dan sistem pemanas. Produsen aluminium asal Norwegia, Hydro, menyatakan permintaan produk berbahan aluminium sebagai pengganti tembaga terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Analis industri menilai lonjakan harga tembaga menjadi salah satu pendorong utama perubahan tersebut. Saat ini, harga tembaga tercatat lebih dari 4,2 kali lipat harga aluminium, melampaui ambang batas ekonomis yang selama ini menjadi pertimbangan perusahaan untuk beralih ke logam alternatif.
Meski demikian, penggunaan aluminium juga memiliki tantangan. Dibandingkan tembaga, aluminium memiliki konduktivitas listrik yang lebih rendah sehingga membutuhkan volume material yang lebih besar untuk menghasilkan daya hantar yang sama. Selain itu, proses produksi aluminium juga membutuhkan energi yang relatif tinggi.
Namun, bagi industri kendaraan listrik, aluminium menawarkan keuntungan strategis karena bobotnya yang lebih ringan dapat meningkatkan efisiensi energi dan memperpanjang jarak tempuh kendaraan.
Produsen kendaraan listrik China menjadi salah satu yang paling agresif dalam melakukan transisi tersebut. Sejumlah merek seperti AVATR, XPeng, dan Xiaomi diketahui telah menggunakan kabel aluminium pada kendaraan mereka.
Menurut perusahaan konsultan teknik Caresoft Global, industri otomotif China banyak mengadopsi pendekatan yang diperkenalkan Tesla, yang mulai menggunakan aluminium pada sistem kabel kendaraan sejak peluncuran Model Y pada 2019 dan kemudian diperluas pada Cybertruck.
JPMorgan memperkirakan tren substitusi ini akan terus meningkat, dengan potensi sekitar 6 persen permintaan tembaga global beralih ke aluminium pada 2030. Perubahan tersebut diperkirakan akan mengubah peta permintaan logam industri dunia dalam dekade mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang