2D1N Gibran Blusukan di Bumi Cendrawasih dan Program Prioritas di 3T
Wapres Gibran kunjungi Papua, Gorontalo, dan NTT, fokus pada program prioritas di daerah 3T, dorong industri kakao, dan tinjau isu pendidikan serta kesehatan.
(Bisnis.Com) 23/06/26 12:00 257181
Bisnis.com, JAKARTA — Terik matahari menyorot Bandara Rendani Papua, tempat landasan Wakil Presiden Gibran Rakabuming bersama dengan rombongannya pada Sabtu (20/6/2026).
Di Bumi Cendrawasih, Gibran dan rombongan tiba 14.35 WIT. Mereka melanjutkan perjalanan setelah bertolak ke dua provinsi yakni Gorontalo dan NTT dalam rangka kunjungan kerja (kunker).
Ada yang berbeda dalam kunker kali ini. Sebab, Gibran tak hanya membawa rombongan Setwapres dan awak media, namun dia juga mengajak lima mahasiswa dari UI, ISBI, Unsoed, UPH dan Sanata Dharma.
Langkah ini sebagai tindak lanjut atas berbagai aspirasi dari mahasiswa terkait implementasi program prioritas pemerintah. Oleh sebab itu, ajakan ini ditujukan agar mahasiswa bisa melihat langsung implementasi program pemerintah secara riil di lapangan.
Di NTT misalnya. Gibran meninjau langsung program MBG di SMPN 1 Ndona Papua dan lokasi viral terkait isu penggusuran sekolah oleh pembangunan KDMP di SDN 1 Wolomoni.
Di Gorontalo, Gibran berkunjung ke SDN 07 Bulango yang sempat kebakaran pada 2022, meninjau pembangunan Bendungan Bulango Ulu hingga membuka Penas Petani Nelayan XVII.
Dorong Mansel jadi Pemain Utama Kakao
Di Papua, Gibran blusukan selama dua hari satu malam atau 2D1N. Persinggahan perdana di Tanah Papua, Gibran langsung melihat perkebunan Kakao dan pabrik coklat yang dikelola Koperasi Ebier Suth Cokran Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel), Papua Barat, Sabtu (20/06/2026).
Setibanya di lokasi, Gibran disambut warga Mansel dari berbagai kalangan baik anak-anak hingga orang dewasa. Di perkebunan, Gibran bersama Wamendagri Ribka dan pejabat daerah lainnya melakukan penanaman serentak bibit kakao.
Bibit yang ditanam merupakan kakao klon Trinitario varietas unggulan CKR-40, CKR-13, CKR-14, dan CKR-12. Kegiatan ini menjadi simbol percepatan program rehabilitasi kebun kakao Kementerian Pertanian TA 2026 di Kabupaten Manokwari Selatan.

Melalui program tersebut, sebanyak 2.000 hektare lahan akan dikelola untuk pengembangan kakao, dengan alokasi 1.800 hektare oleh petani kakao Manokwari Selatan dan 200 hektare oleh Koperasi Ebier Suth Cokran.
Adapun, saat ini sekitar 88 hingga 90 persen tenaga kerja PT Ebier Suth Cokran berasal dari masyarakat adat Papua yang terlibat dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari pembibitan, budidaya, panen, hingga pengolahan pascapanen dan pengendalian mutu.
Direktur Manajemen Pemasaran dan Komunikasi PT Ebier Suth Cokran, Febri Sumbung, mengatakan kunjungan Wapres menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendorong industri kakao nasional yang produktif dan berkelanjutan.
“Wakil Presiden menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama kakao dunia, namun hal tersebut harus dibangun melalui peningkatan produktivitas, kualitas, hilirisasi, serta pengelolaan kebun yang ramah lingkungan,” ujar Febri di lokasi.
Kunjungi Pesparawi Nasional XIV
Seusai tinjau pabrik coklat, Gibran membuka acara Pespawari Nasional XIV Tahun 2026 di Manokwari, Papua Barat pada Sabtu (20/6/2026) malam.
Pesparawi merupakan ajang kompetisi paduan suara gerejawi yang diikuti oleh 5.434 peserta, tamu, dan penggembira dari 38 provinsi. Pada acara ini, Gibran membagikan sepeda serta alat musik untuk peserta Pesparawi.
Total ada lima peserta, tiga masih anak-anak dan dua sudah remaja. Mereka satu persatu ditanya oleh Gibran soal keahlian yang bakal ditampilkan di Pespawari. Keahliannya cukup beragam, ada soal tarian, ikut parade devile, hingga bernyanyi.
Setelah memamerkan keahliannya itu, kelima anak mendapatkan hadiah dari Gibran. Khusus tiga anak diberikan sepeda, sementara dua remaja menerima alat musik.
"Ini yang kecil-kecil saya kasih sepeda ya. Mau sepeda? Kamu bisa naik sepeda? Bisa?" tanya Gibran.
"Bisa," jawab anak itu.
"Sepedanya gede-gede. Bisa? Bener? Kamu bisa naik sepeda?" ujar Gibran, dan disanggupi ketiga anak.
"Nah, untuk yang gede-gede, ini ada alat musik. Keyboard atau gitar?" tanya Gibran, dua remaja ini pun mendapatkan masing-masing satu alat musik.
Keliling Asmat
Setelah seharian di Manokwari, Gibran bersama mahasiswa mengunjungi salah satu kabupaten di Papua Selatan yakni Asmat. Lokasi ini sempat dikunjungi oleh ayahnya yang juga Presiden ke-7 Joko Widodo pada 2018.
Kala itu, jalanan masih berbahan kayu-kayu yang disusun. Namun demikian, kini jalanan di lokasi sudah sebagian dilapisi beton. Selama di Asmat, Gibran dan rombongan menggunakan sepeda motor yang ditenagai listrik.
Titik pertama yang disinggahi Gibran yaitu Museum di Asmat. Di sini, terdapat momen haru lantaran salah satu mahasiswa yang diajak Gibran adalah warga Asmat yakni Kaletus Sakaro bertemu dengan ayahnya setelah tidak pulang selama dua tahun.
Di hadapan Kaletus dan ayahnya, Gibran berjanji akan memfasilitasi ayah Kaletus untuk menghadiri wisuda di Yogyakarta jika anaknya sudah lulus.
Di samping itu, Gibran juga diperlihatkan karya seni ukir hasil tangan-tangan warga Asmat. Tak hanya itu, Gibran juga diperlihatkan satu motor listrik bersejarah yang sempat digunakan Jokowi untuk mengelilingi Asmat.
Motor listrik yang ditunggangi Jokowi itu berkelir merah dengan pelat RI. Motor listrik ini pun menjadi menjadi salah satu barang yang dipajang di dalam museum
Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo mengatakan, Jokowi dan Gibran adalah Presiden dan Wakil Presiden RI pertama yang datang langsung ke Asmat di Agats.
Dia pun menyatakan bahwa kedatangan Jokowi merupakan kebanggan bagi warga Asmat lantaran telah meninggalkan legasi yang berkesan saat kunjungan delapan tahun silam.
"Presiden pertama yang berkunjung ke sini Pak Jokowi. Wakil presiden pertama Bapak Gibran," kata Thomas kepada Gibran di Museum Asmat, Minggu (21/6/2026).
Setelah di Museum, Gibran beranjak mengunjungi progres pembangunan Gereja Katedral Salib Suci Baru, pembuatan sagu di Sekolah Sagu hingga mengakhiri kunjungan di RSUD Perpetua J. Safanpo.
Perjuangkan Program Prioritas di 3T
Usai melakukan kunker dan menyerap aspirasi masyarakat dari NTT, Gorontalo dan Papua. Gibran menyatakan program prioritas Presiden Prabowo Subianto seperti MBG harus diprioritaskan di daerah terluar, terdepan dan tertinggal atau 3T.
Hal tersebut disampaikan oleh Gibran saat melakukan kunjungan kerja ke Asmat, Papua Selatan pada Minggu (21/6/2026).
"Empat hari terakhir ini kan sudah saya ajak ke Ende, Gorontalo, Manokwari, dan ini hari Minggu ini kita di Asmat. Perlu kita highlight di sini bahwa kami memperjuangkan program-program prioritas dari Bapak Presiden di area-area 3T. MBG misalnya, harus kita perjuangkan di sini di Asmat," ujar Gibran.
Khusus di Asmat, Gibran menyatakan telah berdialog dengan tokoh agama agar bisa berkolaborasi dengan gereja keuskupan maupun kantin sekolah untuk mengoptimalkan program MBG.
Selain pembahasan MBG, eks Wali Kota Solo ini juga menyoroti persoalan lain seperti kesehatan agar nantinya bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat.
"Jadi nanti untuk masalah kesehatan akan kita lakukan intervensi juga. Dan program-program lain apa pun itu kalau dari saya pribadi siap untuk bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama. Dan yang paling mengerti kondisi lapangan," imbuhnya.
Lebih jauh, Gibran juga memastikan bakal mendukung pengelolaan sagu di Asmat agar bisa lebih berkembang untuk nantinya bisa mengangkat perekonomian lokal. Selain itu, Gibran juga menyatakan untuk menindaklanjuti persoalan lain dari setiap daerah selama kunker dari mulai 18 Juni hingga 21 Juni 2026.
Testimoni Mahasiswa
Rapid Rapid Bena Matin salah satu mahasiswa yang diajak dalam kunker ini menyatakan bahwa program prioritas MBG perlu diprioritaskan di wilayah 3T. Mahasiswa Fakultas Hukum Unsoed ini menjelaskan kondisi masyarakat khususnya di 3T sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat agar menekan angka stunting.
"Secara pribadi saya setuju MBG ini perlu diprioritaskan dan didahulukan untuk daerah daerah 3T dengan manfaat untuk mencegah stunting, meningkatkan asupan gizi anak yang layak, membawa dampak perekonomian yang positif bagi masyarakat sekitar, membantu mengurangi beban masyarakat disana," ujar Rapid.
Namun demikian, Rapid menekankan bahwa pemerintah juga sebaiknya bisa memperhatikan lebih dulu kebutuhan fundamental bagi sektor pendidik. Misalnya, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah hingga kesejahteraan tenaga pendidik
Dia pun mengharapkan agar pemerintah bisa mempertimbangkan agar penyelenggaraan MBG di wilayah yang sudah maju agar ditinjau ulang agar tidak terjadi pemborosan anggaran.
"Sehingga keuangan negara juga membaik dan penerimanya tepat sasaran. Lebih jelasnya dilakukan pemetaan ulang sesuai dengan wilayah. Dan dalam pelaksanaannya nanti bisa melibatkan kantin kantin sekolah, dapur dapur umum masyarakat yang sudah ada, sehingga biayanya lebih efisien dan efektif," imbuhnya.
Selain itu, dia juga menyoroti soal pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) agar bisa dikaji untuk dibangun di titik-titik yang tepat. Tentunya, penentuan titik ini sudah dikoordinasikan dengan masyarakat.
Senada, Mahasiswa Ilmu Sejarah UI, Daffa Ulhaq menyatakan agar pemerintah bisa menyelesaikan persoalan yang lebih mendasar sebelum melaksanakan program MBG.
"Pemerintah mesti sadar bahwa mungkin selama ini target MBG itu tidak sesuai, dan dalam pelaksanaannya juga banyak kesenjangan serta ketimpangan," ujarnya.
Lebih jauh, menurutnya, penentuan pelaksanaan program MBG ini lebih kompleks karena harus memikirkan karakteristik masing-masing daerah. Pada intinya, Daffa berharap agar program ini bisa dikaji ulang pemerintah.
"Setiap daerah punya persoalannya masing-masing yang jauh lebih kompleks. Jadi, apakah program ini bisa berjalan efektif? Belum tentu di setiap daerah bisa sama. Makanya pemerintah perlu mengkaji ulang hal ini," pungkasnya.
Adapun, keduanya menyatakan bakal membuat laporan terkait dengan kunjungan ini secara objektif yang menggambarkan kondisi riil di lapangan serta aspirasi dari perspektif masing-masing mahasiswa.
#gibran-blusukan #bumi-cendrawasih #program-prioritas #daerah-3t #kunjungan-kerja #perkebunan-kakao #koperasi-ebier-suth #pesparawi-nasional #motor-listrik-asmat #program-mbg #kesehatan-asmat #pengelol