Konsumsi Naik Tak Selalu Tanda Optimistis, Kelas Menengah Justru Cemas Masa Depan

Konsumsi Naik Tak Selalu Tanda Optimistis, Kelas Menengah Justru Cemas Masa Depan

Ada paradoks di balik naiknya konsumsi, kelas atas belanja karena percaya, kelas menengan boros karena pesimis.

(Kompas.com) 19/06/26 16:13 254613

JAKARTA, KOMPAS.com - Peningkatan konsumsi masyarakat yang terjadi belakangan ini tidak serta-merta mencerminkan optimisme terhadap kondisi ekonomi.

Di balik tingginya belanja rumah tangga, terdapat perbedaan motif yang cukup tajam antara kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dan kelas menengah-bawah.

Guru Besar Universitas Airlangga Rahma menilai lonjakan konsumsi saat ini lebih tepat disebut sebagai kombinasi antara optimistis di kalangan kelas atas dan pesimistis yang terselubung di kelompok kelas menengah serta generasi muda.

"Peningkatan konsumsi yang kita lihat saat ini tidak bisa lagi dibaca secara tunggal sebagai sinyal optimisme. Sebaliknya, di balik angka perputaran uang yang tinggi, terjadi pembelahan motif yang kuat antara kelas atas dan kelas menengah-bawah," ujarnya kepada Kompas.com pada Jumat (19/6/2026).

Menurut Rahma, bagi sebagian besar kelas menengah, terutama Generasi Z dan Milenial, meningkatnya pengeluaran untuk sektor hiburan, gaya hidup, rekreasi, hingga barang-barang viral justru menjadi indikasi menurunnya keyakinan terhadap kemampuan mereka mencapai tujuan keuangan jangka panjang.

"Konsumsi tinggi terjadi karena mereka memilih menyerap utilitas atau kebahagiaan dari uangnya sekarang daripada menyimpannya untuk masa depan yang tidak pasti," katanya.

Rahma menjelaskan, ketika instrumen tabungan dan investasi dinilai tidak lagi mampu mengejar kenaikan harga aset seperti rumah, sebagian masyarakat mulai mengalami apa yang disebut sebagai nihilisme finansial.

Dalam kondisi tersebut, uang lebih banyak dialihkan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan kepuasan jangka pendek.

Pengeluaran untuk kegiatan seperti liburan, konser, kuliner, atau berbagai bentuk self-reward dinilai menjadi cara untuk mengurangi tekanan psikologis akibat ketidakpastian ekonomi dan pasar kerja.

"Di tengah ketidakpastian pasar kerja dan ancaman PHK, mengonsumsi sesuatu yang instan memberikan perasaan bahwa mereka masih memiliki kendali atas hidup dan hasil kerja keras mereka sendiri," ujarnya.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi.

Rahma menilai konsumsi yang meningkat pada segmen ini memang mencerminkan optimisme ekonomi yang lebih nyata.

Kelompok tersebut memiliki bantalan keuangan yang kuat sehingga tidak terlalu terdampak oleh kenaikan biaya hidup maupun tekanan inflasi.

Mereka tetap aktif membelanjakan uang untuk properti premium, kendaraan mewah, maupun aset bernilai tinggi karena masih percaya pada prospek ekonomi jangka panjang.

"Mereka melihat indikator makroekonomi Indonesia masih cukup kokoh dan pada saat yang sama mendapatkan manfaat dari kenaikan nilai aset investasi yang dimiliki," katanya.

Karena itu, Rahma menyebut fenomena konsumsi saat ini sebagai sebuah paradoks ekonomi.

Di satu sisi, pertumbuhan konsumsi dan penjualan ritel terlihat positif dari perspektif makroekonomi.

Namun di sisi lain, bagi sebagian kelas pekerja, tingginya konsumsi justru mencerminkan kekhawatiran terhadap masa depan.

Menurut Rahma, dalam kondisi tersebut membelanjakan uang hari ini dianggap lebih rasional dibandingkan menyimpannya untuk tujuan jangka panjang yang dinilai semakin sulit dicapai.

"Di tengah ketidakpastian yang tinggi, banyak orang merasa menikmati hasil kerja hari ini lebih masuk akal daripada menginvestasikannya untuk masa depan yang kian buram," kata Rahma.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#ketidakpastian-ekonomi #optimisme-ekonomi #peningkatan-konsumsi #nihilisme-finansial

https://money.kompas.com/read/2026/06/19/161341426/konsumsi-naik-tak-selalu-tanda-optimistis-kelas-menengah-justru-cemas-masa