Industri Mamin Prospektif, Paperocks (PPRI) Bidik Target Penjualan Rp 80,53 Miliar
Angka tersebut naik sebanyak 2,7 persen secara tahunan dibandingkan realisasi pendapatan di periode sama di tahun sebelumnya.
(Kompas.com) 18/06/26 14:44 253345
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI) memproyeksikan kinerja keuangan akan mencapai target penjualan senilai Rp 80,53 miliar di kuartal II-2026.
Angka tersebut naik sebanyak 2,7 persen secara tahunan dibandingkan realisasi pendapatan di periode sama di tahun sebelumnya.
Direktur Utama Paperocks Irsyad Hanif juga menargetkan laba kotor ditargetkan mencapai Rp 12,88 miliar, atau naik 6,01 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Sedangkan untuk laba tahun berjalan, perseroan memproyeksikan angka senilai Rp 1,89 miliar, atau naik sebesar 5,07 persen dibanding realisasi laba tahun berjalan di periode sama di tahun sebelumnya,” jelas Irsyad dalam keterangan tertulis, Kamis (18/6/2026).
Untuk mencapai target tersebut, Irsyad bilang, perseroan berkomitmen meningkatkan kualitas produk dan layanan untuk mengoptimalkan kinerja perseroan, serta menciptakan produk yang ramah lingkungan. Perseroan juga akan terus mengoptimalkan pasar yang sudah ada dan lebih aggresive dalam menambah pasar baru.
"Melalui strategi bisnis yang tepat, kami yakin kinerja perseroan akan terus tumbuh,” imbuh Irsyad.
Sebagai catatan, Paperocks mencatatkan penjualan senilai Rp 154,8 miliar sepanjang 2025, atau naik sebanyak 4,9 persen dibanding periode sama di tahun sebelumnya senilai Rp 147,6 miliar.
PPRI juga membukukan laba kotor senilai Rp 23,7 miliar atau naik sebesar 0,18 persen dibanding periode sama di tahun sebelumnya senilai Rp 23,6 miliar.
"Pencapaian tersebut membuktikan bahwa di tengah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, volatilitas pasar serta gangguan rantai pasokan energi, dan perlambatan pertumbuhan global, Perseroan mampu mempertahankan kinerjanya untuk terus tumbuh dan berkembang,” kata dia.
Prospek Industri Food Packaging
Irsyad memaparkan, berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, produk domestik bruto (PDB) industri makanan dan minuman atau mamin nasional tumbuh sebesar 6,49
Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan PDB industri pengolahan nonmigas yang sebesar 5,58 persen.
“Industri makanan dan minuman Indonesia memiliki potensi pertumbuhan yang besar karena didukung oleh sumber daya alam dan permintaan domestik yang terus meningkat,” ujar Irsyad.
Selain itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mulai mendorong diversifikasi bahan baku kemasan untuk mengurangi ketergantungan industri terhadap plastik.
Saat ini, porsi kemasan kertas sudah mencapai sekitar 28 persen dari total industri kemasan, sementara kemasan fleksibel berbasis plastik masih mendominasi hingga 48 persen.
Perusahaan mencanangkan peningkatan persentase penggunaan bahan ramah lingkungan pada produk-produk yang dipasarkan.
Irsyad mengatakan, PPRI menitikberatkan usahanya pada industri pengemasan dengan menggunakan bahan utama dari kertas yang merupakan sumber daya terbarukan.
Selain itu, Irsyad bilang, PPRI aktif memperkenalkan produk-produk berbahan daur ulang untuk memberikan dampak positif bagi pelanggan, karyawan, dan lingkungan sekitar.
“Ini memang komitmen kami sejak awal, untuk berkontribusi secara positif menjaga keberlanjutan lingkungan serta memberi manfaat yang berkesinambungan bagi semua pihak,” tutup Irsyad.
Sebagai informasi, Paperocks adalah perusahaan swasta yang menekuni bidang industri kemasan kertas dan berdiri pada 2011.
Kegiatan usaha PPRI saat ini berfokus pada produksi dan distribusi berikut pemasaran dan penjualan produk-produk kemasan berbahan kertas yang aman digunakan untuk makanan dan minuman (food grade) dan digunakan pelaku bisnis layanan makanan dan minuman atau Food & Beverage (F&B), khususnya restoran dan kafe.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang