OPINI: Kenapa Obligasi Tetap Tenang?
Pasar obligasi Indonesia tetap stabil meski IHSG dan rupiah melemah pada 2026. Ketahanan ini didorong oleh perubahan struktur investor, bukan intervensi BI.
(Bisnis.Com) 09/06/26 08:50 244272
Bisnis.com, JAKARTA - Tahun 2026 bukanlah tahun yang mudah bagi pasar keuangan Indonesia. indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi tajam hingga 31,3% year-to-date (YtD), rupiah melemah 7,6% terhadap dolar Amerika Serikat (AS), mendorong Bank Indonesia (BI) mengambil langkah yang cukup agresif dengan menaikkan BI Rate sebesar 50bps—lebih besar dari ekspektasi pasar.
Di saat yang sama, rata-rata SRBI rate juga melonjak hampir 200bps sepanjang tahun berjalan. Dalam kondisi seperti itu, banyak investor memperkirakan pasar obligasi akan menjadi aset berikutnya yang terkena tekanan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Yield SUN (Surat Utang Negera) 10-tahun masih bertahan di sekitar 6,7%, hanya naik 59bps dibandingkan akhir tahun lalu. Bahkan dibandingkan saat BI mengumumkan kenaikan suku bunga pada 20 Mei 2026, yield SUN 10-tahun saat ini justru lebih rendah 10bps. Sepanjang tahun ini, yield bergerak dalam rentang yang relatif terkendali, dari level terendah 6,09% pada awal Januari hingga sempat menyentuh 6,96% pada akhir April.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang makin sering kami dengar dalam berbagai diskusi dengan investor. Apakah ketahanan pasar obligasi saat ini memang mencerminkan fundamental, atau ada faktor lain yang membuat yield tetap bertahan? Apakah yield Surat Berharga Negara (SBN) saat ini “artificial”?
Mari mulai dari data yang paling mudah diamati, yaitu kepemilikan investor, hingga data settlement 2 Juni 2026, BI tercatat melakukan pembelian neto SBN sebesar Rp80,5 triliun. Angka ini relatif sama, bahkan sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp81,8 triliun. Jika dilihat dalam konteks yang lebih panjang, kontribusi BI terhadap net issuance pemerintah justru terus menurun. Dari 53,8% pada masa pandemi 2020, turun menjadi 42,8% pada 2021, 36,9% pada 2022, sekitar 30% dalam 2 tahun terakhir, dan kini hanya 26,2% pada 2026.
Dengan demikian, sulit menyimpulkan bahwa stabilitas yield saat ini didorong oleh intervensi BI yang lebih agresif. Jika dibandingkan beberapa tahun terakhir, peran BI justru cenderung menurun.
Bagaimana dengan Bond Stabilization Fund? Sejak pemerintah memperkenalkan Bond Stabilization Fund (BSF) pada 13 Mei 2026, muncul persepsi bahwa pemerintah aktif membeli SBN di pasar sekunder untuk menjaga agar yield tidak naik terlalu tinggi. Masalahnya, tidak ada data resmi yang menunjukkan berapa besar pembelian yang dilakukan melalui skema tersebut.
Namun, jika pembelian BSF memang cukup besar, seharusnya dampaknya terlihat pada kenaikan kepemilikan investor dalam kelompok “Others”, yang kemungkinan menjadi tempat pencatatan transaksi tersebut.
Faktanya justru sebaliknya. Sejak settlement 18 Mei hingga 2 Juni, kepemilikan kelompok “Others” turun sekitar Rp1,9 triliun. Padahal, jika BSF secara konsisten melakukan pembelian sebesar Rp2 triliun per hari seperti yang banyak diasumsikan pasar, maka kepemilikan kelompok ini seharusnya meningkat sekitar Rp18 triliun dalam periode yang sama. Hal ini memberi sinyal pembelian BSF kemungkinan jauh lebih kecil dibandingkan persepsi pasar. Atau, kemungkinan yang lebih sederhana, memang tidak ada tekanan jual yang cukup besar sehingga tidak diperlukan intervensi yang agresif.
Jika yield terlalu rendah, mengapa investor tidak menjual? Menurut kami, ini adalah pertanyaan yang paling penting. Jika investor benar-benar percaya bahwa yield SBN saat ini terlalu rendah dan tidak mencerminkan risiko yang ada, respons yang paling logis adalah menjual obligasi dan menunggu yield naik ke level yang dianggap lebih menarik. Namun, perilaku pasar tidak menunjukkan hal tersebut.
Memang benar investor asing masih mencatatkan net sell sekitar Rp10,7 triliun di pasar SBN sepanjang tahun ini. Namun angka tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan tekanan jual yang terjadi di pasar saham, di mana investor asing telah membukukan net sell mencapai Rp56,4 triliun YTD. Bahkan yang lebih menarik, setelah pengumuman BSF, investor asing justru masih mencatatkan net buy sekitar Rp1 triliun di pasar SBN.
Cerita yang sama juga terlihat di pasar perdana. Jika investor menganggap yield saat ini tidak menarik, permintaan pada lelang SUN dan sukuk seharusnya melemah. Yang terjadi justru sebaliknya. Dalam beberapa lelang terakhir, demand kembali meningkat dan partisipasi investor asing tetap cukup aktif.
Pasar yang menganggap suatu aset terlalu mahal biasanya akan menjauh. Jika investor benar-benar percaya yield saat ini terlalu rendah, mereka tidak akan terus menambah posisi. Mereka akan menjual.
Menurut kami, ketahanan pasar obligasi saat ini lebih banyak mencerminkan perubahan struktur investor dibandingkan intervensi kebijakan. Kepemilikan asing kini hanya sekitar 12,6% dari total outstanding SBN, salah satu yang terendah dalam sejarah. Investor asing yang masih bertahan kemungkinan besar adalah investor jangka panjang yang tidak mudah bereaksi terhadap volatilitas jangka pendek.
Di sisi lain, likuiditas domestik masih relatif ample. Perbankan, asuransi, dana pensiun, hingga berbagai institusi keuangan lainnya tetap membutuhkan instrumen yang menawarkan kombinasi yield yang menarik, risiko rendah, dan likuiditas yang baik.
Dalam lingkungan yang masih penuh ketidakpastian, SBN tetap menjadi salah satu pilihan utama. Karena itu, kami melihat narasi bahwa yield SBN saat ini sepenuhnya “artificial” belum mendapat dukungan yang kuat, baik dari data kepemilikan maupun perilaku investor.
Meski demikian, ketahanan pasar obligasi saat ini tidak boleh membuat kita terlena. Menjaga disiplin fiskal, memperkuat kredibilitas kebijakan, dan meningkatkan kejelasan implementasi berbagai program pemerintah akan tetap menjadi faktor kunci.
Jika berbagai concerns yang disampaikan investor dan lembaga pemeringkat dapat direspons dengan baik, risiko penurunan sovereign rating dapat diminimalkan, kepercayaan investor tetap terjaga, dan tambahan premi risiko pada SBN dapat dihindari.
Pasar bisa menerima risiko. Yang sulit diterima pasar adalah ketidakpastian.
#obligasi-tenang #pasar-obligasi #yield-obligasi #obligasi-indonesia #yield-sun #pasar-sbn #investor-obligasi #bi-rate #bond-stabilization-fund #investor-asing #pasar-perdana #lelang-sun #kepemilikan-a
https://market.bisnis.com/read/20260609/92/1979439/opini-kenapa-obligasi-tetap-tenang