Streamlining Telkom, Pangkas Beban Non-Inti demi Pertumbuhan Jangka Panjang
Telkom Indonesia merampingkan bisnis non-inti, termasuk divestasi AdMedika, untuk fokus pada telekomunikasi dan digital, meningkatkan efisiensi, dan pertumbuhan jangka panjang.
(Bisnis.Com) 08/06/26 22:15 244051
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten telekomunikasi plat merah, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), memacu strategi streamlining portofolio bisnis secara agresif lewat penyelesaian divestasi AdMedika Group sebagai bagian dari langkah taktis merampingkan lini usaha non-inti (non-core) demi mengoptimalkan sumber daya korporasi pada pertumbuhan jangka panjang.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengungkapkan keputusan strategis ini mencerminkan komitmen penuh perusahaan dalam memosisikan fondasi finansial yang lebih sehat dan berdaya saing global melalui kedisiplinan eksekusi.
Langkah ini juga merupakan bagian dari peta jalan besar peta transformasi perusahaan untuk membebaskan ruang fiskal serta mengembalikan fokus operasional ke lini utama infrastruktur telekomunikasi dan ekosistem digital nasional.
“Tahun ini, kami melakukan percepatan dalam eksekusi strategi transformasi TLKM 30 secara disiplin dan terukur, serta memastikan setiap langkah yang diambil mampu berkontribusi dalam membangun ekosistem digital nasional yang semakin maju, inklusif, dan berdaya saing global,” tutur Dian Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 secara daring, pada Senin (8/6/2026).
Adapun sepanjang 2025 hingga periode kuartal pertama 2026, Telkom menunjukkan progres eksekusi strategi transformasi TLKM 30 secara signifikan dengan fokus pada empat pilar utama.
Pada aspek Streamlining, perusahaan melakukan penyederhanaan portofolio bisnis, termasuk divestasi non-core dan fokus kembali ke bisnis inti telekomunikasi dan digital. Sebanyak enam entitas telah dirampingkan, dengan transaksi divestasi AdMedika Group berhasil diselesaikan pada 2 Juni 2026.
Kebijakan memangkas beban portofolio yang kurang relevan dengan core bisnis ini berjalan beriringan dengan pilar Operational & Service Excellence. Melalui pilar tersebut, perusahaan berhasil meningkatkan efisiensi melalui program TOTEX, perbaikan arus kas operasional, serta implementasi program Pensiun Dini dan Governance Reset.
Upaya perseroan dalam merealisasikan transformasi secara menyeluruh menghasilkan pencapaian kinerja sepanjang 2025 dengan pembukuan total pendapatan konsolidasi sebesar Rp146,74 triliun. Telkom juga mengantongi perolehan EBITDA sebesar Rp72,24 triliun serta laba bersih (net income) senilai Rp17,81 triliun.
Struktur laba bersih tersebut sempat mengalami tekanan akibat adanya penyesuaian pos akuntansi internal. Sebagai tindak lanjut agenda total governance reset, perseroan melakukan percepatan depresiasi aset teknologi lama yang berdampak pada kontraksi net income. Namun demikian, dampak penyesuaian tersebut bersifat non-cash sehingga secara operasional fundamental bisnis tetap terjaga dan arus kas korporasi tetap berada dalam posisi kuat.
Arus kas yang tebal memberikan keleluasaan bagi Telkom untuk mengombinasikan strategi investasi masa depan dengan pemberian insentif bagi pemegang saham.
RUPST menyepakati pembagian dividen tunai tahun buku 2025 sebesar kurang lebih Rp21,9 triliun, yang bersumber dari laba bersih 2025 senilai Rp17,8 triliun dan sisanya Rp4,2 triliun diambil dari pos laba ditahan tahun sebelumnya. Di samping itu, alokasi anggaran Rp4 triliun disiapkan untuk program pembelian kembali saham (buyback) sebagai benteng stabilitas harga di pasar modal.
“Meskipun menghadapi tekanan industri dan ketidakpastian sepanjang tahun 2025, Perseroan telah berhasil membuktikan bahwa fundamental bisnis tetap terjaga dan arus kas juga kian menguat,” pungkas Dian.
Pasca-rampungnya pelepasan AdMedika Group, fokus manajemen beralih ke pilar ketiga, yaitu Unlocking Value. Telkom telah memulai monetisasi aset infrastruktur melalui spin-off aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia dengan target penyelesaian pada kuartal ketiga tahun ini, serta membuka kembali inisiatif kemitraan strategis pada bisnis pusat data (data center).
Seluruh rangkaian restrukturisasi ini diintegrasikan melalui pergeseran modus operandi (Modus-operandi shift). Telkom mulai bertransisi ke model HoldCo–OpCo dengan pola pelaporan keuangan berbasis segmen untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kinerja di mata publik.
Melalui pelepasan beban non-coredan penguatan struktur tata kelola ini, periode 2025 hingga awal 2026 menjadi tahun fondasi berharga dalam menciptakan pertumbuhan bisnis digital yang jauh lebih berkualitas serta berkelanjutan.
#telkom-streamlining #telkom-transformasi #telkom-divestasi #telkom-non-core #telkom-digital #telkom-pertumbuhan #telkom-infrastruktur #telkom-ekosistem-digital #telkom-laba-bersih #telkom-arus-kas #te