Rupiah Melemah, Industri Minuman Kemasan Hadapi Tekanan Berat

Rupiah Melemah, Industri Minuman Kemasan Hadapi Tekanan Berat

Industri minuman kemasan Indonesia menghadapi tantangan berat: wacana cukai MBDK, pelemahan rupiah, hingga daya beli masyarakat.

(Kompas.com) 04/06/26 16:30 240104

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM) melaporkan terdapat berbagai tantangan yang dihadapi oleh industri.

Tantangan ini datang dari berbagai sisi mulai dari kondisi geopolitik global hingga daya beli masyarakat.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo mengatakan, tantangan pertama adalah adanya wacana untuk menerapkan cukai Minuman Bepemanis dalam Kemasan (MBDK).

Janesca/Unplash ilustrasi minuman bersoda, minuman dalam kemasan.

"Pak Purbaya (Menteri Keuangan) sudah menyampaikan bahwa rencana cukai MBDK ditahan dulu, karena pemerintah ingin melihat pertumbuhan dulu terjadi, baru setelahnya pajak-pajak," kata dia dalam konferensi pers Masa Depan Industri Minuman Kemasan Indonesia 2026: Inovasi, Pertumbuhan, dan Kolaborasi, Kamis (4/6/2026).

Ia menambahkan, penundaan penerapan cukai pada minuman berpemanis ini dapat terus dijaga.

Di sisi lain, pihaknya masih membuka peluang untuk berdiskusi terkait dengan kebijakan yang bertumpu pada penghitungan kesehatan tersebut.

"Apakah cukai sendiri adalah kebijakan yang tepat, menurut kami harus didiskusikan," ucap dia.

Di sisi lain, pemerintah juga telah meluncurkan kebijakan terkait Front of Pack Nutrition Labeling (FOPNL).

Pihaknya menyambut baik kebijakan tersebut.

PIXABAY/IGOR OVSYANNYKOV Ilustrasi minuman dalam kemasan.

Pemerintah dalam hal ini dipandang berupaya untuk menanggulangi risiko penyakit gula melalui konsumsi pangan yang tinggi gula dan lemak.

"Kami mendukung itu, karena kami juga melihat konsumen Indonesia perlu diedukasi lebih sehingga mereka bisa memilih produk yang tepat," ucap dia.

Selain itu, Triyono menyampaikan, tantangan perusahaan minuman dalam kemasan juga datang dari sektor energi dan logistik.

Pasalnya dua hal tersebut sangat bergantung pada subsidi yang ditanggung pemerintah saat ini.

"Harapan kami ini juga bisa terjadi," ungkap dia.

Industri belum kembali ke kondisi ideal

Triyono mengungkapkan, kondisi saat ini menunjukkan industri belum sepenuhnya pulih ke kondisi ideal.

ASRIM menilai bahwa meskipun industri makanan dan minuman masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 6,38 persen, pertumbuhan tersebut masih berada di bawah level pra-pandemi yang sebelumnya dapat mencapai kisaran 7 sampai 9 persen.

"Sejumlah ekonom juga menilai pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadhan-Lebaran, sementara pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat,” ungkap dia.

Tantangan operasional pelaku usaha kian diperparah oleh kenaikan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan pada impor bahan baku maupun kemasan di tengah fluktuasi kurs.

Berdasarkan data inflasi per April 2026, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen (year-on-year), angka yang berada di atas tingkat inflasi umum nasional sebesar 2,42 persen.

PEXELS/HELIN GEZER Ilustrasi minuman dalam kemasan.

Triyono menekankan pentingnya kolaborasi jangka panjang demi menjaga resiliensi industri minuman kemasan di Indonesia.

“Industri minuman kemasan melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka, namun membutuhkan penguatan berkelanjutan agar lebih resilient ke depan. Kami mendorong kebijakan yang adaptif dan konsisten, termasuk penguatan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha,” ucap dia.

Daya beli masyarakat perlu diperhatikan

Data Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mencatat, berdasarkan data BPS, pada kuartal I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year).

Industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDB nasional dengan porsi 19,07 persen, di mana subsektor makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional, menegaskan perannya sebagai motor utama sektor manufaktur.

Meskipun menunjukkan ketahanan secara makro, kualitas pertumbuhan industri di lapangan masih menghadapi tantangan riil.

Ekonom sekaligus Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Ishak Razak menjelaskan dinamika pasar saat ini memerlukan perhatian khusus terkait daya beli masyarakat.

“Momentum Ramadhan, Lebaran, mobilitas masyarakat, serta konsumsi domestik masih menjadi penggerak utama permintaan industri minuman ringan," kata dia.

"Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural antara lain pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp 17.900 per dollar AS, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat yang menjadi tantangan nyata bagi pelaku industri,” ungkap dia.

PEXELS/DEFRINO MAASY Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar resmi mencairkan dana Bantuan Keuangan Partai Politik (Banpol) untuk Tahun Anggaran (TA) 2026. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 1.707.940.000 atau sekitar Rp 1,7 miliar.

Pelemahan kurs rupiah naikkan bahan baku industri

Ishak menjelaskan pelemahan kurs rupiah juga akan berdampak pada industri minuman karena bahan baku yang memiliki ketergantungan impor tersebut akan meningkat.

Berdasarkan data yang dimilikinya, nilai industri minuman ringan masih ditopang impor hingga 34,31 persen atau sebesar Rp 2,87 triliun dari total nilai Rp 8,38 triliun.

Dari jumlah tersebut, porsi impor pada industri air minum dalam kemasan (AMDK) hanya sebesar 0,54 persen.

"AMDK ini banyak bergantung pada bahan baku plastik. Impor bentuk lainnya dari plastik masih sebesar 94,9 persen, sedangkan polimer impornya 21,3 persen dan poliester impor 53,9 persen. Artinya AMDK juga akan tetap terganggu dengan penguatan dollar AS," ungkap dia.

Ia berpandangan, mayoritas bahan baku dan kemasan yang mayoritas masih diimpor dapat mengerek biaya produksi dan menekan margin.

Ishak menjabarkan, beban biaya ini dinilai berisiko terdampak ke harga jual.

Pasalnya, kondisi daya beli masyarakat yang masih lemah dapat mengancam volume penjualan dan daya saing industri minuman.

Sebaliknya, kenaikan harga energi global dan suku bunga kredit turut menjadi pemberat di tengah stimulus pemerintah yang dinilai berkurang.

Oleh karena itu, Ishak menekankan tekanan ini menjadi tantangan untuk pemerintah ialah memastikan biaya bahan baku tak menekan dunia usaha sekaligus mendorong konsumsi tetap terjaga.

"Jadi (pemerintah diharapkan) tidak mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang bisa menekan daya beli masyarakat," imbuh Ishak.

Sedikit catatan, subsektor makanan dan minuman (mamin) merupakan salah satu motor utama sektor manufaktur.

Shutterstock/yanik88 Ilustrasi air minum dalam kemasan.

Secara umum, industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan porsi 19,07 persen.

Dari angka tersebut, subsektor mamin menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional.

Pemerintah jaga iklim usaha manufaktur

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian menegaskan upayanya untuk menjaga iklim usaha manufaktur tetap kondusif melalui langkah-langkah strategis.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria, menyampaikan bentuk dukungan ekosistem industri dari regulator.

Secara umum, sektor industri pengolahan berkontribusi sekitar 19 persen terhadap PDB nasional pada kuartal I-2026.

Dari jumlah tersebut, industri makanan-minuman menjadi subsektor utama penopang pertumbuhan manufaktur nasional.

"Kami memahami tekanan ekonomi global juga memberikan tantangan kepada industri makanan dan minuman untuk terus tumbuh. Untuk itu, pemerintah terus berkomitmen mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya siang sektor mamin," ungkap dia.

Selain itu, ia bilang, pihaknya juga akan terus memperkuat sinergi bersama pelaku usaha dalam menjaga keberlanjutan industri dan penciptaan lapangan kerja di tengah dinamika ekonomi global.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#daya-beli-masyarakat #nilai-tukar-rupiah #cukai-mbdk #industri-minuman-kemasan

https://money.kompas.com/read/2026/06/04/163014226/rupiah-melemah-industri-minuman-kemasan-hadapi-tekanan-berat