Produk baja lapis RI lolos CBAM bukti daya saing industri nasional

Produk baja lapis RI lolos CBAM bukti daya saing industri nasional

PT Tata Metal Lestari (TML) mengekspor produk baja lapis ke pasar Amerika Serikat dan Polandia dengan memenuhi standar lingkungan Carbon Border Adjustment ...

(Antara) 22/05/26 14:18 228975

Jakarta (ANTARA) - PT Tata Metal Lestari (TML) mengekspor produk baja lapis ke pasar Amerika Serikat dan Polandia dengan memenuhi standar lingkungan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dari Uni Eropa yang menjadi bukti daya saing industri nasional.

Vice President Operations PT Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi di Bekasi, Jawa Barat, Jumat menyampaikan, ekspor tersebut dinilai strategis karena untuk pertama kalinya produk baja lapis Indonesia memperoleh compliance certificate CBAM Uni Eropa.

Ia menyampaikan, industri baja Indonesia memperoleh default value sebesar 8,2 tCO2 per ton produk. Namun, melalui proses verifikasi awal, produk yang dihasilkan mampu mencatatkan nilai emisi sebesar 2,2 tCO2 per ton produk atau setara dengan Jepang dan negara maju lain yang telah menerapkan standar hijau.

Menurutnya, capaian pre-verification tersebut membuka akses pasar Eropa yang kini menerapkan standar pelaporan emisi karbon lebih ketat terhadap produk impor industri manufaktur.

Selain itu, produk ekspor TML juga menggunakan 100 persen baja substrat hasil proses melt and pour dalam negeri yang dipasok PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebagai perusahaan negara.

Penggunaan bahan baku domestik tersebut menurut dia, dinilai memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekaligus memenuhi tuntutan traceability pasar internasional, khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa.

“Dengan ini kita ingin menunjukkan bahwa industri nasional masih memiliki peluang untuk ekspor di tengah diberlakukannya kebijakan tarif section 232 dan anti circumvention Amerika Serikat, serta dinamika ekonomi global,” kata Stephanus.

Disampaikan dia, keberhasilan menembus pasar Eropa melalui pre-verification CBAM menjadi momentum penting bagi transformasi industri baja nasional menuju industri rendah karbon.

Ia juga menilai kolaborasi industri hulu dan hilir nasional menjadi kunci untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Sementara itu, Direktur Komersial, Pengembangan Usaha, dan Portofolio PT Krakatau Steel Hernowo menyampaikan kontinuitas ekspor dapat mendukung keberlangsungan industri baja dari hulu hingga hilir.

Hernowo menambahkan Krakatau Steel akan terus mendukung suplai bagi industri baja di bagian antara, guna memenuhi target pemerintah dalam pengembangan industri baja nasional hingga 1,5 juta ton per tahun, mengingat tingkat konsumsi baja menjadi salah satu indikator kemajuan suatu negara.

“Kami ingin meningkatkan konsumsi baja nasional per kapita yang saat ini masih mencapai 65 kilogram per orang per tahun," ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita meyakini industri baja nasional memiliki komitmen yang kuat untuk mempercepat transformasi menuju green steel atau baja ramah lingkungan, seiring meningkatnya tuntutan global terhadap produk rendah emisi.

Menperin ditemui di Jakarta, Jumat (10/4) mengungkapkan, komitmen tersebut tercermin dari keseriusan pelaku industri yang tergabung dalam The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) untuk mendorong penerapan teknologi hijau di sektor baja.

Green steel, ini saya udah banyak bicara dengan ketua IISIA, komitmen dari IISIA, dari para pelaku usaha itu sangat tinggi,” ujarnya.

Pihaknya, kata dia, juga telah menjalin kerja sama hibah dengan Bank Dunia untuk mempercepat transformasi industri, termasuk sektor baja. Menurutnya, dukungan tersebut akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur yang mendukung industrialisasi hijau.

Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

#pemajuan-industri #industri-domestik #peran-bumn #daya-saing

https://www.antaranews.com/berita/5578045/produk-baja-lapis-ri-lolos-cbam-bukti-daya-saing-industri-nasional