Distribusi dan Cuaca Diduga Jadi Biang Kerok Harga Komoditas Hortikultura di Sumsel Naik

Distribusi dan Cuaca Diduga Jadi Biang Kerok Harga Komoditas Hortikultura di Sumsel Naik

Harga komoditas hortikultura di Sumsel naik akibat distribusi lambat dan cuaca buruk, meski stok cukup. Pemerintah gencarkan Gerakan Pangan Murah.

(Bisnis.Com) 22/05/26 08:43 228503

Bisnis.com, PALEMBANG — Harga beberapa kebutuhan pokok di Sumatra Selatan (Sumsel) yang mengalami kenaikan belakangan ini dinilai bukan sepenuhnya akibat stok yang menipis. Sejumlah faktor lain seperti distribusi dan kondisi cuaca turut memengaruhi pergerakan harga di pasar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumsel Ruzuan Efendi mengatakan kenaikan harga saat ini tidak disebabkan oleh kelangkaan stok. Menurutnya, ketersediaan pangan di Sumsel masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Kalau saya melihatnya bukan karena stok menipis. Barang masih ada dan ketersediaannya cukup,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).

Dia menilai faktor distribusi menjadi salah satu penyebab utama naiknya harga sejumlah komoditas. Salah satunya dipicu penggunaan bahan bakar non-subsidi oleh pelaku distribusi demi mempercepat pengiriman barang.

Kondisi tersebut terutama terjadi pada komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang yang memiliki daya tahan rendah atau mudah rusak sehingga membutuhkan distribusi lebih cepat.

“BBM non-subsidi itu harganya cukup tinggi. Tidak semua menggunakan BBM subsidi karena mereka ingin pengiriman lebih cepat. Itu salah satu faktor yang memengaruhi biaya distribusi,” katanya.

Selain distribusi, kondisi cuaca yang tidak menentu juga dinilai memengaruhi pasokan pangan dari sentra produksi. Curah hujan tinggi berpotensi mengganggu produksi maupun proses distribusi komoditas pangan.

“Kadang curah hujan tinggi, kadang berubah cepat. Ke depan kita juga harus mengantisipasi musim kemarau serta potensi El Nino maupun La Nina,” jelasnya.

Berdasarkan pantauan harga Dinas Perdagangan Kota Palembang di Pasar 16 Ilir pada Kamis (21/5/2026), harga bawang merah dan bawang putih masing-masing tercatat Rp48.000 dan Rp35.000 per kilogram (kg).

Sementara itu, harga cabai merah besar mencapai Rp40.000 per kg, cabai merah keriting Rp45.000 per kg, cabai rawit Rp70.000 per kg, dan cabai burung Rp90.000 per kg.

Ruzuan memastikan hingga saat ini belum terjadi lonjakan harga yang ekstrem di Sumsel. Selisih harga antarwilayah pun masih berada pada kisaran 5%–10%.

“Kalau ada kenaikan, biasanya karena distribusi terganggu atau pasokan dari produsen tersendat,” katanya.

Lebih lanjut, pemerintah daerah terus menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) di sejumlah kabupaten/kota guna menjaga stabilitas harga pangan.

Melalui program tersebut, masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih murah dibandingkan harga pasar.

“Harga telur di GPM sekitar Rp24.000 per kilogram, sementara di pasar sekitar Rp26.000. Gula juga dijual Rp16.500 per kilogram, lebih rendah dari harga pasar,” pungkasnya.

#harga-komoditas-hortikultura #distribusi-komoditas-sumsel #cuaca-pengaruhi-harga #kenaikan-harga-pangan #distribusi-bahan-bakar-non-subsidi #harga-cabai-sumsel #harga-bawang-sumsel #pasokan-pangan-sum

https://sumatra.bisnis.com/read/20260522/533/1975687/distribusi-dan-cuaca-diduga-jadi-biang-kerok-harga-komoditas-hortikultura-di-sumsel-naik