Modernisasi Pertanian Garut Kadung Digaungkan, Tetapi Peta Lahan Belum Disiapkan
Pemkab Garut fokus modernisasi pertanian dengan irigasi perpompaan dan logistik, namun peta lahan belum siap. Kolaborasi dengan PLN dan Kementerian PU penting.
(Bisnis.Com) 18/05/26 19:27 224139
Bisnis.com, GARUT- Pemerintah Kabupaten Garut menyiapkan percepatan modernisasi sektor pertanian melalui skema irigasi perpompaan, penguatan logistik hasil panen, dan penjajakan dana hibah internasional.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin mengatakan, ada sejumlah hal yang hingga saat ini masih terjadi. Beberapa di antaranya, ketersediaan air sepanjang musim, biaya energi untuk pengairan, serta hambatan distribusi hasil panen dari sentra produksi ke pasar.
Menurut Syakur, Garut memiliki potensi agraris besar, tetapi produktivitas petani kerap tertekan oleh kendala teknis yang berulang.
"Kami butuh solusi yang langsung menyentuh masalah dasar petani. Dari Kementerian Pertanian sudah menawarkan skema irigasi perpompaan, dukungan transportasi pertanian, sinergi kelistrikan, dan langkah lain yang bisa segera ditindaklanjuti,” kata Syakur, Senin (18/5/2026).
Syakur mengatakan, skema irigasi perpompaan menjadi prioritas karena dinilai lebih adaptif terhadap variasi topografi dan musim. Sistem ini memungkinkan air dinaikkan dari sumber terdekat menggunakan pompa bertenaga listrik, sehingga petani tidak sepenuhnya bergantung pada aliran gravitasi.
Untuk itu, kata Syakur, Kementan akan menjajaki kolaborasi dengan Perusahaan Listrik Negara dan Kementerian Pekerjaan Umum guna memastikan pasokan energi dan desain jaringan air yang terintegrasi.
"Kami tidak ingin intervensi berdiri sendiri. Irigasi butuh listrik yang andal dan perencanaan jaringan air yang presisi. Karena itu, kolaborasi dengan PLN dan Kementerian PU menjadi kunci,” katanya.
Selain air, persoalan logistik hasil panen juga masuk daftar prioritas. Biaya angkut yang tinggi dan keterbatasan akses jalan dari lahan ke titik kumpul sering menggerus margin petani.
Menurutnya, dukungan transportasi pertanian akan diarahkan pada perbaikan akses distribusi, termasuk penataan jalur angkut dari sentra produksi.
"Efisiensi logistik akan langsung terasa pada pendapatan petani karena susut dan biaya angkut bisa ditekan,” ujarnya.
Tidak hanya itu, lanjut Syakur, Kementan juga membuka peluang pendanaan non-konvensional melalui hibah internasional yang relevan dengan penguatan pertanian daerah. Skema ini diharapkan memperluas ruang fiskal tanpa membebani APBD.
Syakur menambahkan, Pemkab siap menyiapkan data teknis sebagai dasar penentuan lokasi prioritas, termasuk peta lahan, kebutuhan air, dan sentra produksi.
“Kami akan siapkan data rinci agar program tidak berhenti di konsep. Targetnya, intervensi tepat sasaran,” ujarnya.
Meski belum merinci angka anggaran, luas lahan terdampak, atau jadwal implementasi, kedua pihak menekankan tahapan berikutnya adalah pemetaan teknis dan sinkronisasi perencanaan.
Pemkab Garut akan berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait untuk menginventarisasi kebutuhan riil di lapangan, sementara Kementan mengoordinasikan dukungan lintas sektor di tingkat pusat.
"Secara ekonomi, modernisasi irigasi dan perbaikan logistik diyakini dapat meningkatkan intensitas tanam, menekan risiko gagal panen saat kemarau, dan memperbaiki efisiensi rantai pasok. Prinsipnya, solusi harus terasa oleh petani. Kalau air terjamin dan distribusi lancar, produktivitas akan mengikuti,” kata Syakur.
#modernisasi-pertanian #irigasi-perpompaan #logistik-hasil-panen #dana-hibah-internasional #ketersediaan-air #distribusi-hasil-panen #produktivitas-petani #skema-irigasi #transportasi-pertanian #sinerg