Menilik Tuah di Balik Depresiasi Rupiah
Pelemahan rupiah membuka peluang bagi industri ekspor berorientasi komoditas dan padat karya, namun menekan sektor impor. Momentum ini dapat memperkuat industri domestik.
(Bisnis.Com) 15/05/26 17:01 221955
Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tak hanya menghadirkan aral bagi sektor industri berbasis impor. Kondisi itu sekaligus membuka peluang bagi sejumlah sektor industri berorientasi ekspor untuk meningkatkan daya saing di pasar global.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman mengatakan, pelemahan rupiah dapat menjadi momentum positif bagi industri yang memiliki kandungan lokal tinggi dan pendapatan berbasis dolar AS.
“Sektor yang relatif berpotensi diuntungkan antara lain produk berbasis sumber daya alam, makanan olahan tertentu, furnitur, alas kaki, tekstil-garmen tertentu, CPO turunan, perikanan, serta komoditas hilir,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (14/5/2026).
Kendati demikian, dia menilai manfaat depresiasi rupiah tidak otomatis dirasakan seluruh sektor industri apabila masih bergantung pada impor bahan baku, biaya logistik mahal, serta produktivitas yang rendah.
Senada, Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, kelompok industri yang paling diuntungkan dari pelemahan rupiah adalah sektor berbasis komoditas seperti sawit, batu bara, nikel, tembaga, serta produk turunan mineral lainnya.

Menurutnya, sektor tersebut memperoleh keuntungan karena pendapatan diperoleh dalam dolar AS, sementara sebagian besar biaya operasional masih dibayarkan dalam rupiah.
“Ketika kurs naik ke Rp17.500 per dolar AS, pendapatan dalam rupiah otomatis ikut melonjak, Apalagi saat ini harga sejumlah komoditas global juga masih relatif tinggi, sehingga efeknya menjadi berlipat,” sebutnya kepada Bisnis.
Selain sektor komoditas, industri padat karya berorientasi ekspor seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur juga dinilai memperoleh dorongan daya saing karena produk Indonesia menjadi relatif lebih murah di pasar global. Namun, Yusuf mengingatkan keuntungan sektor tersebut tetap terbatas akibat tingginya ketergantungan impor bahan baku seperti kapas, serat sintetis, bahan kimia, hingga aksesori.
“Jadi ada keuntungan dari kurs, tetapi sebagian terkikis oleh kenaikan biaya input impor,” jelasnya.
Di sisi lain, pelemahan rupiah justru memberi tekanan besar terhadap sektor manufaktur dengan kandungan impor tinggi seperti elektronik, otomotif, farmasi, dan industri kimia. Ketika nilai tukar melemah, biaya produksi industri tersebut meningkat karena masih mengandalkan bahan baku dan komponen dari luar negeri.
Sementara itu, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat perusahaan sulit menaikkan harga jual. Akibatnya, margin keuntungan industri tertekan.
Akan tetapi, Yusuf menilai kondisi tersebut dapat menjadi momentum untuk mempercepat substitusi impor dan memperkuat struktur industri domestik. Menurutnya, kenaikan biaya impor membuat sejumlah produk yang sebelumnya lebih murah didatangkan dari luar negeri mulai layak diproduksi di dalam negeri, terutama pada industri bahan baku seperti petrokimia, baja khusus, bahan baku farmasi, hingga komponen elektronik menengah.
Dia berharap agar pemerintah tidak lagi gagal memanfaatkan momentum pelemahan rupiah ini. Pasalnya, setiap kali rupiah melemah, wacana substitusi impor dan hilirisasi kembali muncul. Tetapi ketika kurs kembali stabil, semangat reformasinya ikut hilang. Akibatnya, ketergantungan impor industri nasional tetap tinggi dan daya saing manufaktur domestik tidak berkembang optimal.
Selain peluang substitusi impor, Yusuf menilai perang dagang Amerika Serikat dan China juga membuka peluang relokasi industri global ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Biaya tenaga kerja yang relatif kompetitif dan rupiah yang melemah membuat biaya produksi Indonesia menjadi lebih murah dalam denominasi dolar AS.
Namun demikian, dia menilai kurs murah saja tidak cukup untuk menarik investor masuk ke Indonesia. Investor disebut masih mempertimbangkan faktor lain seperti kepastian regulasi, kualitas logistik, harga energi, kualitas sumber daya manusia, hingga kecepatan birokrasi.
“Di titik ini Indonesia masih tertinggal dibanding Vietnam atau Thailand,” sebutnya.

Oleh karena itu, pemerintah, lanjut Yusuf, perlu memastikan pelemahan rupiah dapat diterjemahkan menjadi momentum industrialisasi nasional melalui penguatan hilirisasi dan industri hulu. Dia mendorong pemerintah mempercepat hilirisasi yang lebih dalam, memperkuat industri hulu tekstil dan elektronik, serta menerapkan kebijakan impor produk jadi yang lebih selektif agar industri domestik memiliki ruang tumbuh lebih besar.
Selain itu, penguatan transaksi perdagangan menggunakan mata uang lokal dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, terutama dengan negara mitra dagang utama seperti China, Jepang, dan kawasan ASEAN.
Menanggapi peluang di tengah depresiasi rupiah, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan, kenaikan harga crude palm oil (CPO) dalam rupiah terjadi seiring pelemahan kurs terhadap dolar AS. Meski demikian, industri sawit tetap menghadapi tekanan dari kenaikan biaya yang memiliki komponen impor.
“Ya benar memang dengan pelemahan rupiah harga minyak sawit secara rupiah naik, tetapi biaya juga naik yang ada komponen impor, seperti pupuk dan suku cadang pabrik,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (14/5/2026).
Menurut Eddy, dampak kenaikan biaya tersebut umumnya lebih terasa dalam jangka panjang karena kebutuhan impor untuk operasional industri tetap menggunakan mata uang dolar AS. Dia juga menyebut bahwa permintaan ekspor tidak serta merta naik dengan pelemahan rupiah karena pembeli menggunakan kurs dolar AS.
Industri Plastik Bidik Peluang Ekspor
Wakil Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (INAPLAS) Edi Rivai mengatakan, depresiasi rupiah dapat menjadi momentum positif bagi eksportir produk jadi berbasis plastik dan petrokimia untuk memperluas pasar global.
“Dengan nilai tukar yang lebih kompetitif, produk Indonesia berpotensi lebih menarik di pasar global. Ini menjadi momentum positif untuk meningkatkan ekspor dan memperkuat daya saing produk nasional,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (14/5/2026).
Menurutnya, peluang ekspor tersebut muncul di tengah kondisi industri petrokimia dan plastik nasional yang masih relatif terjaga meski rupiah melemah ke kisaran Rp17.500 per dolar AS.
Edi menjelaskan, tekanan terhadap industri saat ini masih dapat dikelola karena harga bijih plastik atau resin dalam dua pekan terakhir relatif stabil sehingga belum berdampak signifikan terhadap harga bahan baku plastik di pasar domestik.
“Dalam dua minggu terakhir, harga bijih plastik atau resin relatif stabil, sehingga tekanan akibat pelemahan kurs masih dapat dikelola,” katanya.
Selain itu, dari sisi pasokan, produksi resin dalam negeri juga dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan industri hilir nasional. Kondisi tersebut membuat pelaku industri belum perlu meningkatkan impor bahan baku plastik.
Kendati demikian, Edi mengakui pelemahan rupiah tetap berdampak terhadap struktur biaya industri, terutama pada komponen yang masih terkait dolar AS seperti feedstock, bahan kimia penolong, suku cadang, dan logistik internasional. Untuk itu, pelaku usaha diminta tetap menjaga pengelolaan stok dan pembelian bahan baku secara prudent di tengah volatilitas nilai tukar.
Di sisi lain, Edi menilai momentum pelemahan rupiah perlu dimanfaatkan untuk memperkuat penggunaan bahan baku dan produk antara dari dalam negeri guna mengurangi ketergantungan impor.
Menurutnya, penguatan rantai pasok domestik dapat meningkatkan nilai tambah industri nasional sekaligus memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar ekspor. “Momentum ini juga perlu dimanfaatkan untuk memperkuat penggunaan bahan baku, produk antara, dan barang pendukung dari dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor,” tuturnya.
Ke depan, Edi menyebut bahwa Inaplas optimistis industri petrokimia dan plastik nasional masih mampu menjaga kinerja dan daya saing sepanjang stabilitas nilai tukar, pasokan bahan baku, energi, dan feedstock kompetitif tetap terjaga. Selain itu, dukungan kebijakan industri dari pemerintah dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan investasi dan ekspansi sektor petrokimia dan plastik nasional.
#depresiasi-rupiah #pelemahan-rupiah #nilai-tukar-rupiah #industri-ekspor #peluang-ekspor #sektor-komoditas #daya-saing-global #industri-manufaktur #substitusi-impor #industri-domestik #pasar-global #p
https://ekonomi.bisnis.com/read/20260515/12/1973990/menilik-tuah-di-balik-depresiasi-rupiah