BGN-Dinkes Ungkap Keracunan MBG di Surabaya karena SPPG Langgar SOP
Keracunan massal di Surabaya terjadi karena SPPG Tembok Dukuh melanggar SOP, termasuk absennya pengawas gizi dan proses defrosting daging di area tidak higienis.
(Bisnis.Com) 14/05/26 10:23 221028
Bisnis.com, SURABAYA – Insiden keracunan massal yang dialami oleh sekitar 200 siswa di Surabaya, Jawa Timur, usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (11/5/2026), ditengarai terjadi karena Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh tidak mematuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.
Hal tersebut diungkapkan oleh perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) Jawa Timur sekaligus Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Kota Surabaya Kusmayanti dalam rapat dengar pendapat yang digelar DPRD Kota Surabaya, yang juga dihadiri langsung oleh Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, Rabu (13/5/2026).
Kusmayanti membeberkan satu dari sekian pelanggaran prosedur yang ditemukan BGN Jawa Timur yang dilakukan oleh SPPG yang disebut melayani pemasokan MBG hingga 3.020 porsi setiap harinya tersebut adalah ketidakhadiran pengawas gizi di SPPG saat bahan baku tiba di lokasi.
"Penerapan pada SOP, jadi SOP yang ditentukan oleh BGN itu sudah baik adanya. Namun, pada SPPG tersebut itu terjadi kesalahan penerapan pada SOP. Jadi di antaranya pengawas gizi tidak ada di tempat pada saat kualitas bahan baku datang," bebernya.
Dia menjelaskan alpanya pengawas gizi saat bahan baku tersebut tiba di SPPG membuat BGN tidak dapat mengambil kesimpulan secara cepat mengenai kondisi bahan baku yang kemudian diolah oleh para juru masak di dapur MBG.
"Sehingga kita belum bisa memastikan kerusakan itu terjadi pada kualitas asal bahannya atau pada proses pengolahannya," ujarnya.
Lebih lanjut, sampel makanan yang seharusnya melewati proses uji laboratorium juga dalam keadaan yang tidak memenuhi spesifikasi.
Kusmayanti mengungkapkan hal tersebut dapat terjadi karena sampel makanan tersebut sempat dikeluarkan dari lemari pendingin tanpa prosedur khusus sebelum petugas dari Dinas Kesehatan tiba di SPPG.
"Ketika sampel itu dikeluarkan sebenarnya itu sudah menjadi ada kerusakan. Harusnya sampel dikeluarkan itu harus ada treatment khusus dimasukkan ke lab, dan ada treatment yang untuk masuk ke cooler box tidak dibiarkan dalam suhu ruangan. Sehingga pada saat dari pihak Dinkes, labnya Dinkes datang, posisi makanan sudah tidak dalam posisi yang seperti awal," ucapnya.
Atas insiden tersebut, Kusmayanti mewakili BGN pun mengajukan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada korban dan keluarga yang terdampak serta publik. Peristiwa keracunan massal usai menyantap MBG juga diklaimnya baru perdana terjadi di Kota Surabaya.
"Mohon maaf, ini bukan bermaksud menyalahi atau mungkin ini jadi pembelajaran karena ini menjadi yang pertama. Untuk sementara itu yang bisa kami sampaikan karena kami masih menunggu hasil dan menyelesaikan keseluruhan BAP kepada seluruh petugas untuk bisa kami tarik kesimpulannya," tuturnya
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya Billy Daniel Messakh mengungkapkan terdapat beberapa pelanggaran fatal dalam rangkaian proses pengolahan makanan yang dilakukan oleh SPPG Tembok Dukuh.
Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, Billy menyinggung tahapan pencairan atau defrosting daging beku yang dilakukan oleh petugas SPPG tersebut di area yang tidak higienis.
"Daging itu dalam keadaan beku, di-defrost (dicairkan) di area yang tidak bersih. Prosesnya itu sekitar dua jam sampai daging layak potong. Selama itu, lingkungan lalat cukup banyak," ungkap Billy.
Tak hanya itu, Billy juga mengkritik fasilitas dapur yang dinilai Dinkes Kota Surabaya tidak memenuhi standar, seperti alat penjebak serangga atau insect trap yang tidak berfungsi optimal hingga tirai plastik pada pintu masuk dapur yang tidak dipasang.
"Dia punya trap insect juga, tapi itu tidak memenuhi standar. Jadi lampu, tapi tidak ada trap-nya. Jadi, kalau ada lalat yang banyak itu datang, sampai sana balik lagi keluar bisa. Pintu masuk dapur itu juga harusnya ada penghalang plastik, itu juga tidak ada. Memudahkan sekali insect untuk keluar masuk," jelasnya.
#surabaya-keracunan #keracunan-massal #makan-bergizi-gratis #mbg-surabaya #sppg-surabaya #pelanggaran-sop #bgn-jawa-timur #pengawas-gizi #uji-laboratorium-makanan #dinkes-surabaya #dapur-tidak-higienis