Resmi! Indonesia dan Filipina Teken Kerja Sama Hilirisasi Nikel
Indonesia dan Filipina resmi bekerja sama dalam pengembangan teknologi hilirisasi nikel dan sumber daya manusia untuk mendukung industri nikel berkelanjutan.
(Bisnis.Com) 08/05/26 11:12 215313
Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia dengan Filipina telah resmi menjalankan kerja sama nikel. Kerja sama itu melingkupi pengembangan bersama teknologi hilirisasi nikel hingga pengembangan sumber daya manusia bersama untuk mendukung ekosistem industri nikel yang berkelanjutan.
Kerja sama itu dilakukan di sela-sela rangkaian The 27th Meeting of the ASEAN Economic Community (AEC) Council and Related Meetings (KTT AECC ke-27) di Cebu, Filipina.
Kemudian, telah ditandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA). Penandatanganan itu berlangsung dalam rangkaian Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable di Jpark Island Resort, Cebu, Kamis (7/5/2026).
Penandatanganan MoU itu disaksikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto dengan Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Hon. Maria Cristina A. Roque.
Adapun, MoU antara APNI dan PNIA mencakup ruang lingkup kerja sama yang bersifat strategis dan berorientasi jangka panjang. MoU itu meliputi, pertama, pertukaran informasi dalam rangka stabilisasi perdagangan nikel regional dan global.
Kedua, pengembangan bersama teknologi hilirisasi nikel serta pemanfaatan nilai tambah dari produk sampingan industri pengolahan. Ketiga, pengembangan sumber daya manusia bersama untuk mendukung ekosistem industri nikel yang berkelanjutan.
Arilangga menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut bukan sekadar kerja sama biasa. Kolaborasi itu menjadi fondasi bagi Indonesia-Philippines Nickel Corridor, yakni sebuah platform terstruktur yang menghubungkan kekuatan hilirisasi dan smelter Indonesia dengan pasokan bijih nikel hulu dari Filipina.
"Ini akan menjadi poros cadangan dan produksi nikel yang tak terpisahkan bagi dunia,” ujar Airlangga dalam keterangan tertulis pada Jumat (8/5/2026).
Mengacu data United States Geological Survey (USGS) 2026, Indonesia dan Filipina secara bersama menguasai 73,6% produksi nikel global per 2025.
Indonesia menyumbang sekitar 66,7% atau 2,6 juta ton dan Filipina sebanyak 6,9% atau 270.000 ton.
Sementara, dari sisi cadangan, Indonesia memiliki 44,5% cadangan nikel dunia atau sebesar 62 juta ton. Lalu, Filipina memiliki 3,4% atau 4,8 juta ton.
Airlangga juga menjelaskan bahwa Indonesia saat ini memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang sangat masif, dengan nilai ekspor produk olahan nikel mencapai US$9,73 miliar pada 2025.
Proyeksi investasi hilirisasi nikel pun mencapai US$47,36 miliar dan penyerapan 180.600 tenaga kerja ditargetkan tercapai pada 2030.
Smelter-smelter kemudian membutuhkan pasokan bijih yang stabil dengan rasio silikon terhadap magnesium tepat yang dapat dipenuhi dari bijih nikel Filipina melalui proses blending.
“Dengan koridor ini, Filipina tidak lagi hanya menjadi eksportir bijih mentah. Filipina akan terintegrasi ke dalam rantai nilai regional yang lebih tinggi," kata Airlangga.
Kemudian, Indonesia mendapatkan jaminan keamanan pasokan (feedstock security) untuk industri hulu baterai dan baja tahan karat.
Airlangga juga menekankan bahwa nikel merupakan mineral kritis yang memiliki peran sentral dalam transisi energi. Produk turunan nikel dapat diintegrasikan ke dalam strategi ketahanan energi nasional maupun kawasan melalui penguatan penyimpanan energi (energy storage), baik untuk baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) maupun baterai untuk penyimpanan energi panel surya.
Dengan demikian, menurutnya hilirisasi nikel tidak hanya mendukung sektor industri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap bauran energi bersih dan berkelanjutan.
#indonesia-filipina-nikel #hilirisasi-nikel #kerja-sama-nikel #teknologi-hilirisasi-nikel #industri-nikel-berkelanjutan #asean-economic-community #mou-nikel #apni-pnia #indonesia-philippines-nickel-cor