Kemenperin Atur Strategi Tangani Pelambatan Kinerja Industri

Kemenperin Atur Strategi Tangani Pelambatan Kinerja Industri

Kemenperin siapkan strategi mitigasi untuk hadapi pelambatan industri akibat geopolitik global, dengan fokus pada rantai pasok, LCT, dan kebijakan perlindungan.

(Bisnis.Com) 04/05/26 21:20 210946

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perindustrian menyiapkan sejumlah langkah mitigasi dan penguatan untuk menjaga keberlangsungan industri manufaktur, seiring kinerjanya yang melambat akibat terdampak dinamika geopolitik global.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief menjabarkan, upaya yang dilakukan dengan mempertemukan ekosistem rantai pasok industri yang terdampak, seperti industri plastik, guna menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku.

Selain itu, Kemenperin juga mendorong pemanfaatan skema Local Currency Transaction (LCT), untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing serta meminimalisasi risiko fluktuasi nilai tukar.

Pada sisi kebijakan, Kemenperin mempercepat perumusan strategi penguatan struktur industri melalui substitusi impor, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), serta diversifikasi sumber bahan baku dan pasar ekspor. Upaya tersebut turut diiringi dengan program pendampingan industri kecil dan menengah (IKM), peningkatan kapasitas produksi, serta akselerasi transformasi digital.

Febri menegaskan, langkah-langkah tersebut diarahkan untuk ketahanan dan kemandirian industri nasional serta mempertahankan utilisasi produksi. "Sehingga bisa mencapai tujuan yang menjadi prioritas utama pemerintah yaitu melindungi pekerja industri dari pengurangan tenaga kerja atau PHK,” ujarnya di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Lebih lanjut, pemerintah katanya tengah menyiapkan tambahan insentif dan kebijakan perlindungan baru guna meredam dampak gejolak geopolitik global terhadap sektor manufaktur. Rancangan tersebut diklaim akan memperkuat kebijakan yang telah lebih dulu diterapkan.

“Rancangan insentif dan kebijakan baru ini memperkuat kebijakan perlindungan industri sebelumnya. Dengan hal ini, diharapkan dapat memperkuat rantai pasok industri menghadapi tekanan global dan melindungi pekerjanya dengan baik," jelas Febri.

Diketahui, S&P Global hari ini melalporkan bahwa kinerja sektor manufaktur Indonesia pada April 2026 mengalami perlambatan, tercermin dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang turun ke level 49,1 dari 50,1 pada Maret 2026, sekaligus kembali memasuki fase kontraksi.

Febri menyebut pelemahan angka PMI tersebut merupakan dampak dari dinamika global, khususnya konflik geopolitik yang memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga komoditas serta biaya logistik. Hal ini tentu berdampak langsung pada aktivitas produksi industri nasional.

Secara regional, tekanan terhadap sektor manufaktur juga terjadi di sejumlah negara Asia Tenggara. Data S&P Global menunjukkan Vietnam masih mencatatkan PMI di kisaran 50,5, sedangkan Malaysia berada di level 51,6. Adapun Filipina mengalami kontraksi lebih dalam dengan PMI sebesar 48,3.

Dengan capaian PMI 49,1, Indonesia menurutnya berada dalam kategori kontraksi moderat, sejalan dengan tren pelemahan di kawasan. Meski demikian, kinerja domestik dinilai masih relatif terjaga berkat dukungan permintaan dalam negeri.

“Namun, ini juga menjadi sinyal penting untuk memperkuat struktur industri dalam negeri agar lebih tahan terhadap gejolak eksternal,” tegas Febri.

Di tengah tekanan tersebut, pelaku industri masih menyimpan optimisme. Survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) mencatat tingkat optimisme terhadap prospek produksi dalam enam bulan ke depan mencapai 70,1%, meskipun turun tipis 1,7% dibandingkan bulan sebelumnya.

#industri-manufaktur #kemenperin-strategi #pelambatan-kinerja #geopolitik-global #rantai-pasok #local-currency-transaction #substitusi-impor #produk-dalam-negeri #transformasi-digital #ketahanan-indust

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260504/9/1971239/kemenperin-atur-strategi-tangani-pelambatan-kinerja-industri