Mendag Klaim Negara Timur Tengah Antre Kerja Sama Dagang dengan RI

Mendag Klaim Negara Timur Tengah Antre Kerja Sama Dagang dengan RI

Mendag Budi Santoso menyatakan negara Timur Tengah tertarik kerja sama dagang dengan RI usai CEPA dengan UEA, meski ekspor ke sana turun 13% awal 2026.

(Bisnis.Com) 30/04/26 18:29 207967

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut sejumlah negara di kawasan Timur Tengah mulai menunjukkan minat untuk menjalin kerja sama dagang dengan Indonesia, usai rampungnya Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia—Uni Eropa (IEU—CEPA).

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengatakan dinamika perdagangan global saat ini diwarnai berbagai tantangan, mulai dari kebijakan tarif resiprokal hingga konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, kinerja ekspor Indonesia tetap menunjukkan tren positif. Budi menuturkan kinerja ekspor naik 2,19% pada Januari—Februari 2026, atau mencatatkan surplus selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Di sisi lain, dia mengakui konflik di Timur Tengah turut menekan kinerja ekspor ke kawasan tersebut. Pada Januari—Februari 2026, ekspor Indonesia ke Timur Tengah tercatat turun 13%. Namun demikian, Indonesia masih membukukan surplus sebesar US$641 juta dengan total ekspor mencapai US$9,8 miliar atau sekitar 3,4% dari total ekspor nasional.

Budi merinci, sekitar 40% ekspor Indonesia ke Timur Tengah ditujukan ke Uni Emirat Arab, disusul Arab Saudi sebesar 29%, sementara sisanya tersebar ke negara lain, termasuk Iran dengan porsi sekitar 2,5%.

Menurutnya, dominasi ekspor ke UEA tidak terlepas dari implementasi perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) yang telah disepakati kedua negara.

“Setelah membuat CEPA selesai dengan UAE, kemudian negara-negara Timur Tengah sekarang mulai aktif berunding dengan kita. Jadi itu sebenarnya salah satu cara ketika UAE itu sudah berhasil dengan kita, maka negara-negara Timur Tengah lainnya juga ingin membuat perjanjian dagang,” kata Budi dalam rapat koordinasi nasional (rakornas) Kadin 2026 di Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

Budi menjelaskan, pendekatan bilateral melalui satu negara kunci menjadi strategi pemerintah untuk membuka akses ke kawasan yang lebih luas. Pasalnya, perundingan dagang dengan kawasan Timur Tengah maupun Uni Eropa dikenal tidak mudah dan memerlukan waktu panjang.

Selain Timur Tengah, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada pasar Amerika Serikat. Budi menyebut nilai ekspor Indonesia ke AS mencapai US$30,9 miliar dengan surplus sebesar US$18,11 miliar, menjadikannya kontributor surplus terbesar bagi Indonesia.

“Pasar yang besar ini nggak mungkin, nggak mungkin kita tinggalkan. Makanya kita tetap harus mempunyai perjanjian dagang dengan Amerika,” tegasnya.

Lebih lanjut, Budi mengungkapkan pemerintah telah menyelesaikan sejumlah perjanjian dagang lain seperti Indonesia–Canada CEPA, Eurasia FTA, hingga Indonesia–Peru CEPA, serta tengah menunggu penandatanganan kerja sama dengan Tunisia.

“Perjanjian dagang inilah yang sebenarnya memberi kesempatan kepada kita semua bagaimana kita bisa membuka pasar ke negara-negara khususnya nontradisional sehingga pasar kita itu semakin luas di negara lain,” pungkasnya.

#timur-tengah #kerja-sama-dagang #ekspor-indonesia #surplus-ekspor #perdagangan-global #konflik-geopolitik #uni-emirat-arab #perjanjian-dagang #kemitraan-ekonomi #indonesia-uni-eropa #pasar-amerika-ser

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260430/12/1970479/mendag-klaim-negara-timur-tengah-antre-kerja-sama-dagang-dengan-ri